Tadabbur Surat Al-Waqi’ah di Tengah Kecemasan “In This Economy”
Tadabbur Surat Al-Waqi’ah di Tengah Kecemasan “In This Economy”
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — “Mau kuliah di kampus bonafide di luar negeri? In this economy?” “Mau traveling? In this economy?” “Resign dan buka usaha? In this economy?” “Mau nikah? In this economy?” “Punya anak? In this economy?”
Frasa “in this economy” ini lahir sebagai candaan di media sosial, tetapi ia menyimpan kegelisahan yang sungguhan. Di balik tawa itu ada harga kebutuhan pokok yang terus naik, kabar PHK yang datang silih berganti, cicilan yang menunggu setiap tanggal muda, dan beban generasi sandwich yang menanggung orang tua sekaligus anak.
Seolah frasa “in this economy” adalah cara singkat generasi hari ini mengatakan: “aku takut pada hari esok”.
Menariknya, di tengah kegelisahan yang sama, jutaan muslim di Nusantara tetap setia membaca satu surat Alquran setiap malam, berharap rezeki dilapangkan dan dijauhkan dari kefakiran. Tidak lain surat itu adalah Al-Waqi’ah. Dan anehnya, surat ini bukan berisi kiat bisnis atau janji kekayaan. Ia adalah surat tentang hari kiamat; ketika bumi diguncang, gunung remuk menjadi debu, manusia dipilah di hadapan Allah.
Mengapa surat tentang akhir dunia justru menjadi pegangan untuk urusan dunia? Tulisan ini mengajak kita menelusurinya lewat Alquran, tafsir para ulama, hadis beserta syarahnya, dan sedikit temuan riset. Kesimpulannya, insya Allah, akan mengejutkan: Al-Waqi’ah adalah jawaban paling jernih untuk pertanyaan “in this economy?”
Anatomi Kecemasan Hari Esok
Alquran ternyata sudah lama memetakan kecemasan semacam ini, bahkan menyebut siapa yang meniupkannya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 268, Allah berfirman, yang artinya: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia dari-Nya.”
Perhatikan pasangan dalam ayat tersebut. Rasa takut miskin tidak berhenti sebagai perasaan. Ia mendorong pada “fahsya’”, yaitu perbuatan keji. Dalam bahasa hari ini, ketakutan itu menjelma menjadi jalan pintas: judi online, pinjaman berbunga yang mencekik, investasi bodong, hingga korupsi. Karena itulah Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI ke-7 pada November 2021 menegaskan bahwa layanan pinjaman, baik daring maupun luring, yang mengandung riba hukumnya haram, meskipun dilakukan atas dasar kerelaan.
Ilmu perilaku modern memberi gambaran yang menarik tentang cara kerja kecemasan tersebut. Ekonom Harvard Sendhil Mullainathan dan psikolog Princeton Eldar Shafir menyebutnya psikologi kelangkaan (scarcity).
Dalam studi di jurnal Science (2013), mereka bersama Anandi Mani dan Jiaying Zhao meneliti 464 petani tebu di India. Petani yang sama ternyata menunjukkan kemampuan kognitif lebih rendah sebelum panen, saat uang menipis, dibandingkan sesudah panen. Dalam eksperimen laboratorium, sekadar memikirkan masalah keuangan yang berat menurunkan performa berpikir, setara dengan turunnya sekitar 13 poin IQ atau kehilangan tidur semalaman.
Penjelasannya: kekhawatiran finansial menyedot “kapasitas mental” (bandwidth), sehingga tersisa sedikit ruang untuk berpikir jernih. Studi lain dari tim yang sama bahkan menunjukkan bahwa orang yang merasa serba kekurangan cenderung lebih mudah berutang secara berlebihan, meski temuan ini masih terus diuji ulang oleh peneliti lain.
Di sini kita melihat lingkaran yang berbahaya. Takut miskin membuat pikiran sempit. Pikiran sempit melahirkan keputusan buruk. Keputusan buruk memperdalam kesulitan. Riset ini juga mengingatkan bahwa kemiskinan bukan semata kegagalan pribadi, sehingga kepedulian sosial lewat zakat dan sedekah tetap menjadi kewajiban bersama.
Lalu, bagaimana memutus lingkaran itu? Alquran tidak sekadar berkata “jangan cemas”. Ia membongkar cara kita memandang rezeki dan hari esok dari akarnya. Dan salah satu pembongkar paling tajam adalah surat Al-Waqi’ah.
Ketika Rezeki Salah Disandarkan
Al-Waqi’ah adalah surat Makkiyah yang terdiri atas 96 ayat. Namanya diambil dari salah satu nama hari kiamat. Menurut Ibnu Katsir, kiamat disebut “al-waqi’ah”, yakni “perkara yang pasti terjadi”, karena kepastian datangnya. Ia bukan kemungkinan, melainkan peristiwa yang pasti “jatuh”.
Surat ini turun di tengah masyarakat Makkah yang menolak kebangkitan. Karena itu, Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa at-Tanwir memandang poros surat ini sebagai pembuktian bahwa kebangkitan itu mungkin dan pasti. Beratnya pesan ini tergambar dalam sabda Nabi SAW bahwa surat Hud, Al-Waqi’ah, dan beberapa surat sejenisnya telah membuat rambut beliau beruban, sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.
Surat ini tidak turun karena satu peristiwa tunggal. Namun, dua riwayat asbabun nuzul untuk ayat-ayat tertentu justru sangat dekat dengan tema kita.
Pertama, kegelisahan para sahabat (ayat 13–14 dan 39–40). Imam Ahmad dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa ketika turun ayat tentang golongan terdepan, “segolongan besar dari orang terdahulu dan sedikit dari orang kemudian”, para sahabat merasa berat. Mereka khawatir umat akhir zaman hanya kebagian sedikit.
Allah lalu menurunkan ayat 39–40 tentang golongan kanan: “segolongan besar dari orang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang kemudian.” Yang mereka cemaskan bukan bagian dunia, melainkan bagian di akhirat.
Kedua, hujan dan ramalan bintang (ayat 75–82). Riwayat ini sahih, tercantum dalam Shahih Muslim dari Ibnu Abbas r.a. Suatu hari hujan turun di masa Nabi SAW. Beliau bersabda bahwa pagi itu sebagian manusia menjadi orang yang bersyukur dan sebagian lagi kufur. Yang bersyukur berkata, “Ini rahmat Allah.” Yang lain berkata, “Ramalan bintang anu memang tepat.” Maka turunlah ayat-ayat sumpah dengan tempat beredarnya bintang, hingga ayat 82:
وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ
“Dan kamu menjadikan bagian rezeki yang kamu terima sebagai bentuk pendustaan (terhadap Allah).”
Kata “rezeki” disebut terang-terangan dalam surat kiamat ini. Konteks turunnya pun soal kepada siapa manusia menyandarkan rezekinya. Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir menukil penafsiran Ibnu Abbas bahwa “rezeki” di sini bermakna syukur: kalian mengganti rasa syukur atas rezeki dengan pendustaan. Al-Baghawi menambahkan, dalam dialek suku Azd Syanu’ah kata “rizq” memang dapat bermakna syukur.
Hari ini, mungkin tak banyak yang menyandarkan hujan pada bintang. Tetapi bukankah kita sering berkata rezeki datang karena algoritma, koneksi orang dalam, atau kecerdikan kita semata? Polanya sama: rezeki dinikmati, Pemiliknya dilupakan. Al-Waqi’ah datang menggugat cara pandang itu.
Guncangan yang Membalik Timbangan
Al-Waqi’ah dibuka dengan kalimat pendek yang menghentak: apabila hari kiamat terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mendustakannya. Lalu ayat ketiga menyebut sifat hari itu: “khafidhatun rafi’ah”, ia merendahkan dan meninggikan.
Ath-Thabari dan Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Abbas, ‘Ikrimah, dan as-Suddi bahwa kiamat merendahkan orang-orang yang dahulu merasa tinggi di dunia, dan mengangkat orang-orang yang dahulu dipandang rendah. Dalam bahasa hari ini: kiamat adalah hari ketika semua “peringkat” dunia di-reset. Jabatan, saldo, jumlah pengikut, dan personal branding tidak lagi menjadi ukuran.
Bumi kemudian diguncang sekeras-kerasnya dan gunung-gunung dihancurkan hingga menjadi debu beterbangan. Jika gunung, lambang kekokohan, bisa luluh seperti itu, apa lagi yang tersisa dari aset yang kita genggam? Pesan ini menghantam ilusi yang paling halus dalam diri manusia: rasa bahwa harta adalah milik kita sepenuhnya dan hasil murni kehebatan kita.
Setelah guncangan, manusia dipilah menjadi tiga: “as-sabiqun al-muqarrabun” (yang terdepan dan didekatkan kepada Allah), “ashabul yamin” (golongan kanan), dan “ashabusy syimal” (golongan kiri).
Perhatikan, gambaran ketiganya dipenuhi bahasa rezeki. Golongan terdepan dilayani buah-buahan yang mereka pilih dan daging burung yang mereka inginkan. Golongan kanan berada di antara pohon bidara tanpa duri, dengan buah yang tak pernah putus musimnya dan tak pernah terlarang. Sementara golongan kiri hanya mendapat buah “zaqqum” dan air mendidih, diminum seperti unta yang sangat kehausan.
Apa sebab kehancuran golongan kiri? Ayat 45 menjawab lugas: “innahum kanu qabla dzalika mutrafin”, sungguh mereka dahulu hidup bermewah-mewahan. Yang dimaksud “mutrafin” di sini bukan sekadar soal orang yang banyak harta, melainkan kenikmatan yang membuat lalai dan merasa cukup tanpa Allah.
Jadi, sejak awal Al-Waqi’ah sudah menyampaikan satu tesis: kiamat adalah hari pembagian ulang rezeki. Rezeki abadi dibagikan bukan kepada yang paling kaya, melainkan kepada yang paling dekat dengan Allah. Puncak rezeki bukanlah tumpukan harta, tetapi kedekatan dengan Sang Pemberi Rezeki.
Siapa Sebenarnya Pemilik Rezeki?
Ini pertanyaan yang sering kita jawab dengan lisan, tetapi kita bantah dengan kecemasan. Al-Waqi’ah menjawabnya bukan dengan ceramah, melainkan dengan serangkaian pertanyaan yang memaksa kita berpikir. Ayat 57–74 diawali kata “afara’aitum”, “tidakkah kalian perhatikan?”.
Lalu hal itu dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan retoris. Air mani yang kalian pancarkan: kalian yang menciptakannya, atau Kami? (ayat 58–59). Benih yang kalian tanam: kalian yang menumbuhkannya, atau Kami? (ayat 63–64). Air yang kalian minum: kalian yang menurunkannya dari awan, atau Kami? (ayat 68–69). Api yang kalian nyalakan: kalian yang menumbuhkan kayunya, atau Kami? (ayat 71–72)
Keturunan, pangan, air, dan energi. Empat pilar penghidupan manusia, sejak zaman unta hingga zaman aplikasi. Semuanya ditanyakan satu per satu, dan jawabannya selalu sama: “Kami”, bukan kalian.
Lalu, mengapa pilar-pilar rezeki diletakkan di jantung surat kiamat? Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa seluruh rangkaian “afara’aitum” bertujuan membuktikan kemungkinan kebangkitan. Allah yang setiap hari menghidupkan benih dari tanah mati, menurunkan air dari awan, dan memunculkan api dari kayu hijau, tentu mampu menghidupkan kembali manusia dari kuburnya.
Di sinilah korelasi kiamat dan rezeki menemukan dasar tekstualnya: dalil kebangkitan dan dalil rezeki ternyata satu dan sama. “Tangan” yang memberi kita makan hari ini adalah “Tangan” yang akan membangkitkan kita esok. Siapa yang yakin pada yang kedua, semestinya tenang pada yang pertama.
Ayat 65–67 bahkan terasa sangat “in this economy”. Seandainya Allah berkehendak, tanaman itu dijadikan kering hancur, lalu para petani hanya bisa meratap:
إِنَّا لَمُغْرَمُونَ. بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ
“Sungguh kami merugi, bahkan kami tidak mendapat apa-apa.”
Ganti petani dengan pelaku UMKM yang usahanya sepi, atau karyawan yang terkena PHK, dan ratapannya terdengar sangat akrab. Ayat ini tidak meniadakan usaha, sebab petani tetap membajak dan menanam. Yang dikoreksi adalah keyakinan bahwa hasil sepenuhnya berada di tangan kita.
Rezeki Itu “Tertulis” di Langit
Korelasi ini ditegaskan pula di surat lain. Misalnya dalam surat Adz-Dzariyat ayat 22–23, Allah berfirman, yang artinya: “Dan di langit terdapat rezeki kalian dan apa yang dijanjikan kepada kalian. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh itu benar-benar nyata seperti kalian berbicara.”
Perhatikan di sini. Rezeki disebut berdampingan dengan “apa yang dijanjikan”, yang oleh para mufassir dipahami sebagai janji akhirat. Keduanya ada di “langit”, di luar jangkauan tangan manusia, dan keduanya dijamin dengan sumpah Allah. Kepastiannya disamakan dengan kepastian kita berbicara. Tidak ada yang ragu bahwa dirinya sedang berbicara. Begitulah seharusnya kita yakin pada rezeki.
Rangkaian “afara’aitum” lalu ditutup dengan perintah “fasabbih bismi rabbikal ‘adhim”, yang artinya “bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Yang Mahaagung”. Respons yang diminta atas semua nikmat itu adalah pengagungan dan syukur, bukan kecemasan. Inilah lawan langsung dari teguran ayat 82: mengganti syukur dengan pendustaan. Allah berfirman:
وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ
“Dan kamu menjadikan pendustaan terhadap Allah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan kepadamu.” (QS. Al-Waqi‘ah: 82)
Hari Esok di Tangan Siapa?
Kecemasan “in this economy” pada dasarnya adalah kecemasan tentang masa depan. Bagaimana nasibku lima tahun lagi? Cukupkah tabunganku untuk pendidikan anak? Masih adakah pekerjaanku tahun depan?
Alquran menjawab dengan jujur, tanpa janji manis yang palsu, Allah berfirman, yang artinya: “...Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan esok hari, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.” (QS. Luqman: 34)
Lagi-lagi, rezeki dan kematian disebut berdampingan. Keduanya adalah “hari esok” yang sama-sama gaib bagi kita, dan sama-sama berada dalam genggaman Allah.
Rasulullah SAW memberi kepastian yang sangat menenangkan. Jabir bin Abdillah r.a meriwayatkan sabda beliau, yang artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan bersikaplah baik dalam mencari rezeki. Sesungguhnya satu jiwa tidak akan mati sebelum ia menerima rezekinya secara sempurna, meskipun rezeki itu terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, bersikaplah baik dalam mencari: ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR Ibnu Majah)
Mari kita renungkan logika hadis ini. Rezeki dunia memiliki jaminan, dan jaminan itu berlaku sampai ajal tiba. Selama napas masih ada, jatah rezeki masih ada. Lalu masa depan mana yang tidak memiliki jaminan? Tidak lain adalah “masa depan” setelah kematian. Di sana tidak ada jatah otomatis. Yang ada hanyalah bekal amal.
Ironisnya, “in this economy” kita sering terbalik. Kita sangat cemas pada masa depan yang sudah dijamin, tetapi santai terhadap masa depan yang tidak dijamin. Di sinilah Al-Waqi’ah meluruskan arah pandang.
Surat ini mengajak kita memikirkan “hari esok” yang paling pasti dan paling panjang: hari ketika manusia dipilah menjadi tiga golongan. Pertama, ia tahu rezekinya tidak akan diambil orang lain, maka hatinya tenang. Kedua, ia tahu amalnya tidak akan dikerjakan orang lain, maka ia sibuk dengannya. Ketiga, ia tahu kematian sedang menunggunya, maka ia menyiapkan bekal untuk berjumpa dengan Tuhannya. Begitulah bunyi sebuah ungkapan masyhur yang dinisbahkan kepada Imam Hasan al-Bashri.
Lalu, apakah semua ini berarti kita tidak perlu merencanakan masa depan? Sama sekali tidak. Alquran memuji perencanaan Nabi Yusuf AS yang menyimpan hasil panen selama tujuh tahun untuk menghadapi paceklik (QS. Yusuf: 47–49). Dalam Shahih al-Bukhari, Umar r.a menuturkan bahwa Rasulullah SAW menyisihkan kebutuhan pangan keluarganya untuk setahun.
Jadi, dana darurat, tabungan pendidikan, dan perencanaan keuangan yang halal adalah bagian dari ikhtiar. Yang berbahaya bukan rencananya, tetapi ketika hati bergantung sepenuhnya pada rencana itu.
Rasulullah SAW juga mengajarkan cara menghitung kecukupan yang sangat membumi: “Siapa di antara kalian yang memasuki pagi dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dihimpun untuknya.” (HR at-Tirmidzi).
Hadis tersebut adalah penawar langsung bagi pikiran yang selalu dibayangi kekurangan: hitunglah yang sudah ada hari ini, sebelum mencemaskan yang belum tentu terjadi esok.
Tentang Hadis Fadilah surat Al-Waqi’ah dan “Warisan” Ibnu Mas’ud
Dari sinilah kita dapat memahami hadis yang membuat Al-Waqi’ah dikenal sebagai surat pelindung dari kefakiran:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا». وَكَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ يُعَلِّمُ هَذِهِ السُّورَةَ لِبَنَاتِهِ أَيْضًا.
“Dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Siapa yang membaca Surat Al-Waqi’ah setiap malam, ia tidak akan ditimpa kefakiran selamanya.’ Dan Ibnu Mas’ud juga mengajarkan surat ini kepada putri-putrinya.” (HR. Baihaqi)
Hadis ini datang bersama kisah yang sangat relevan dengan kecemasan kita tentang masa depan keluarga. Ibnu Katsir menukilnya di awal tafsir surat ini dari Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir.
Ketika Abdullah bin Mas’ud sakit menjelang wafatnya, Khalifah Utsman bin Affan r.a datang menjenguk. Utsman bertanya apa yang ia keluhkan. Ibnu Mas’ud menjawab: dosa-dosanya. Ditanya apa yang ia inginkan, ia menjawab: rahmat Tuhannya. Utsman menawarkan dokter, dan ia berkata bahwa “Sang Tabib”-lah yang membuatnya sakit. Utsman lalu menawarkan tunjangan dari baitul mal, tetapi ia menolak.
“Untuk putri-putrimu sepeninggalmu?” tanya Utsman. Ibnu Mas’ud balik bertanya, apakah Utsman khawatir putri-putrinya jatuh miskin. Ia lalu menjelaskan bahwa ia telah menyuruh mereka membaca Al-Waqi’ah setiap malam, karena ia mendengar sabda Nabi SAW tentang keutamaan surat itu.
Inilah “perencanaan masa depan” seorang sahabat agung. Pertanyaan Utsman adalah pertanyaan setiap orang tua “in this economy”: bagaimana nasib anak-anakku nanti? Jawaban Ibnu Mas’ud tidak meremehkan pertanyaan itu, tetapi menggeser sandarannya. Artinya, yang ia wariskan bukan sekadar tunjangan, melainkan cara pandang: hati yang lebih dulu sibuk dengan dosa dan rahmat Allah, dan wirid yang setiap malam mengingatkan siapa Pemilik rezeki.
Hadis ini tidak termuat dalam “kutubut tis’ah” (sembilan kitab hadis yang dinilai otoritatif). Sanadnya diperselisihkan para ahli hadis: banyak yang melemahkannya, sementara sebagian lain, seperti al-Bushiri, menilai para perawi jalur Abu Ya’la tepercaya.
Meski demikian, hadis ini boleh diamalkan dalam ranah “fadha’il al-a’mal” (keutamaan-keutamaan amal). Jumhur ulama, sebagaimana ditegaskan Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, membolehkannya selama amalan itu bersandar pada prinsip syariat yang sahih.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan sabda Nabi SAW, yang artinya: “Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (sejati) adalah kayanya jiwa.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ibnu Baththal, yang penjelasannya banyak dikutip para pensyarah, memberi uraian yang tajam. Banyak orang yang dilapangkan hartanya tetapi tidak pernah merasa cukup. Ia terus memburu tambahan tanpa peduli dari mana datangnya, sehingga seakan-akan ia fakir karena kerakusannya. Sebaliknya, orang yang ridha dan merasa cukup dengan pemberian Allah, dialah orang kaya yang sesungguhnya. As-Sindi menambahkan, kaya jiwa berarti tidak tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain.
Di era media sosial, “tangan orang lain” itu terpampang setiap hari di layar ponsel: liburan, mobil baru, rumah impian. Tidak heran banyak orang yang berkecukupan tetap merasa miskin. Dengan kacamata hadis ini, janji “tidak akan ditimpa kefakiran” dapat dipahami lebih dalam. Kefakiran paling berbahaya bukan kosongnya dompet, melainkan jiwa yang selalu merasa kurang.
Dalam riwayat lain, Anas bin Malik r.a, menyebutkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda, yang artinya: “Siapa yang akhirat menjadi cita-cita utamanya, Allah jadikan kekayaannya di dalam hatinya, Allah himpunkan urusannya yang tercerai-berai, dan dunia pun datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Siapa yang dunia menjadi cita-cita utamanya, Allah jadikan kefakiran di depan kedua matanya, Allah cerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali sebatas yang telah ditetapkan.” (HR. at-Tirmidzi)
Para pensyarah, seperti al-Mubarakfuri dalam Tuhfat al-Ahwadzi, menjelaskan bahwa “cita-cita” yang dimaksud dalam hadis tersebut berarti “tujuan dan niat yang memenuhi hati”.
Adapun, ungkapan “kefakiran di depan kedua matanya” adalah gambaran yang sangat presisi tentang “scarcity mindset” yang kita bahas di awal, dirumuskan empat belas abad sebelum para ilmuwan menelitinya. Sebanyak apa pun yang dimiliki, bayangan kekurangan selalu menghantui. Dan setelah semua kejar-kejaran itu, ia tetap hanya mendapat apa yang telah ditakdirkan.
Yang menarik, Ibnu Mas’ud r.a, perawi hadis fadilah surat Al-Waqi’ah, juga meriwayatkan hadis senada dalam Sunan Ibnu Majah. Disebutkan riwayat yang artinya berbunyi: “Siapa yang menjadikan seluruh keinginannya satu, yaitu keinginan akan negeri akhirat, Allah akan mencukupi urusan dunianya”.
Demikianlah jembatan paling kokoh antara kiamat dan rezeki. Al-Waqi’ah dibaca setiap malam untuk menjadikan akhirat sebagai cita-cita utama. Dan hadis sahih menjanjikan bahwa orang seperti itu diberi kekayaan hati, urusan yang tertata, dan dunia yang datang menghampiri.
Lima Kunci Menjemput Rezeki
Lalu, bagaimana keyakinan ini diterjemahkan menjadi sikap hidup? Alquran dan sunnah Nabi memberi lima kunci yang saling bertaut. Kelimanya bukan jimat yang bekerja otomatis, melainkan satu rangkaian: dimulai dari hati, diwujudkan dengan langkah.
1. Alquran: pembela di akhirat, keberkahan di dunia
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Bacalah Alquran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim).
Bayangkan maknanya bagi pembaca Al-Waqi’ah. Surat tentang hari kiamat yang dibaca setiap malam di dunia, kelak akan datang membela pembacanya pada hari kiamat itu sendiri. Itulah investasi yang tidak tergerus inflasi.
Di dunia, Alquran disebut Allah sebagai kitab yang “mubarak”, penuh berkah (QS. Shad: 29). Rasulullah SAW juga bersabda bahwa dengan Kitab ini Allah mengangkat derajat suatu kaum dan merendahkan yang lain (HR Muslim ).
Keberkahan itulah yang membuat rezeki yang sedikit terasa cukup, dan yang cukup membawa kebaikan.
2. Istiqamah: air yang melimpah
Allah berfirman, yang artinya: “Dan sekiranya mereka tetap istiqamah di atas jalan itu, niscaya Kami beri mereka minum air yang melimpah.” (QS. Al-Jinn: 16). Para mufassir memahami “air yang melimpah” sebagai kiasan bagi rezeki yang luas.
Wirid Al-Waqi’ah setiap malam adalah latihan istiqamah yang nyata. Rasulullah SAW bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit (HR Bukhari dan Muslim).
Di zaman yang serba instan, konsistensi adalah kemewahan yang langka, dan justru di sanalah keberkahan bersemayam.
3. Yakin: melawan narasi kefakiran
Setan menjanjikan kefakiran. Allah menjanjikan ampunan dan karunia. Pertanyaannya, janji siapa yang kita percayai? Allah menegaskan dalam Alquran, yang artinya: “Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya” (QS. Hud: 6). Dan rezeki itu, sebagaimana sumpah dalam surat Adz-Dzariyat, senyata kita berbicara.
Yakin bukan optimisme kosong ala “positive vibes”. Ia adalah kepercayaan yang berdiri di atas dalil: Allah yang mengatur kiamat dan menghidupkan benih dari tanah mati, tidak mungkin lalai pada dapur hamba-Nya.
4. Tawakal: seperti burung, bukan seperti batu
Umar bin al-Khaththab r.a meriwayatkan sabda Nabi SAW, yang artinya: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung: pergi pagi hari dengan perut kosong, pulang sore hari dengan perut kenyang.” (HR at-Tirmidzi).
Dalam hadis tersebut, perhatikanlah pernyataan “burung itu pergi”. Tawakal bukan diam menunggu, melainkan bergerak dengan hati yang bersandar kepada Allah.
Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam menyebut bahwa manusia sering terhalang rezekinya karena kurangnya tawakal yang hakiki dan terlalu bergantung pada sebab-sebab lahiriah.
Allah pun menjamin hal itu. Dalam firman-Nya, yang artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3).
Menariknya, ketika menafsirkan ayat 39–40 Al-Waqi’ah, Ibnu Katsir menukil hadis tentang tujuh puluh ribu umat yang masuk surga tanpa hisab. Ciri utama mereka, dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim: “wa ‘ala rabbihim yatawakkalun”, yang artinya “hanya kepada Tuhan mereka bertawakal”. Dan surat kiamat (Al-Waqi’ah) ini pun, lewat tafsirnya, bermuara pada tawakal.
5. Ikhtiar maksimal: kerja terbaik, jalan yang halal
Allah berfirman, yang artinya: “Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15).
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Bersungguh-sungguhlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR Muslim). Beliau juga menegaskan bahwa tidak ada makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangan sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Dalam konteks hari ini, ikhtiar maksimal berarti terus belajar keterampilan baru, bekerja dengan amanah, menjaga kejujuran dalam berbisnis, dan membangun jaringan yang sehat. Namun, ikhtiar dibingkai oleh pesan hadis Jabir: “ajmilu fi ath-thalab”, artinya “carilah dengan cara yang baik”. Ambil yang halal, tinggalkan yang haram. Ikhtiar yang maksimal tidak pernah membenarkan jalan pintas.
Kelima kunci ini membentuk alur yang utuh. Alquran menanamkan cara pandang. Istiqamah merawatnya setiap hari. Keyakinan meneguhkannya. Tawakal menenangkan hati. Dan ikhtiar menggerakkan tangan. Hati yang tenang dan tangan yang bekerja: itulah resep Qur’ani menghadapi kondisi “in this economy”.
Al-Waqi’ah di “Zaman Notifikasi”
Agar wirid malam tidak berhenti di lisan, menurut saya berikut beberapa cara sederhana untuk menghidupkannya:
1. Jadikan Al-Waqi’ah pengganti scroll terakhir sebelum tidur. Sepuluh menit yang biasanya habis untuk melihat pencapaian orang lain, dipakai untuk mengingat siapa Pemilik semua pencapaian.
2. Baca dengan terjemah, setidaknya sepekan sekali. Ikuti alurnya: guncangan, tiga golongan, rangkaian “afara’aitum”, hingga penutup.
3. Berhenti sejenak di ayat 58–73. Sebut satu nikmat konkret hari itu, misalnya makanan, air, gaji, atau pesanan pelanggan, lalu akui bahwa semuanya dari Allah.
4. Jadikan ayat 82 sebagai audit hati. Tanyakan pada diri: hari ini, kepada siapa aku menyandarkan rezekiku?
5. Akhiri dengan tasbih dan doa. Surat ini dua kali memerintahkan “fasabbih bismi rabbikal ‘adhim” (ayat 74 dan 96).
6. Wujudkan esok paginya. Keyakinan bahwa rezeki dari Allah seharusnya membuat tangan ringan bersedekah dan langkah tegap berikhtiar.
Tadabbur ini sekaligus meluruskan dua salah kaprah. Pertama, Al-Waqi’ah bukan “magnet” atau mantra kekayaan. Islam tidak mengenal rumus “baca lalu kaya” yang memisahkan doa dari kerja. Kedua, “fakir” dalam hadis tidak semata bermakna saldo nol. Para sahabat yang paling istiqamah pun ada yang hidup sederhana, tetapi jiwa mereka kaya dan tidak pernah meminta-minta.
Karena itu, janji “tidak ditimpa kefakiran” paling tepat dipahami secara utuh: perlindungan dari kemelaratan jiwa, ditambah pertolongan Allah berupa kecukupan, keberkahan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hamba yang bertakwa.
Jawaban untuk “In This Economy?”
Kini paradoks di awal tulisan ini terurai. Surat kiamat (Al-Waqi’ah) menjadi “surat rezeki” bukan karena ia menjanjikan kekayaan instan, tetapi karena ia menata ulang hubungan kita dengan dunia. Ia meruntuhkan ilusi kepemilikan. Ia membuktikan kebangkitan dengan bahasa rezeki. Ia menegur kita yang menyandarkan rezeki kepada selain Allah. Dan ia mengarahkan pandangan pada hari esok yang paling pasti.
Abdullah bin Mas’ud memahami hal ini dengan sempurna. Di ranjang terakhirnya, ia tidak sibuk menghitung warisan. Ia sibuk dengan dosa dan rahmat Tuhannya. Ketenangannya tentang masa depan putri-putrinya tidak lahir dari rekening yang penuh, tetapi dari keyakinan bahwa Pemberi rezeki tidak pernah wafat.
Maka, ketika pertanyaan “in this economy?” datang lagi, entah saat hendak menikah, memulai usaha, atau membesarkan anak, seorang mukmin memiliki jawabannya. Ekonomi bisa naik dan turun, tetapi Pemilik rezeki tidak pernah berubah. Yang kita perlukan adalah hati yang yakin, lisan yang istiqamah dengan Alquran, dan tangan yang tak berhenti berikhtiar di jalan yang halal.
Al-Waqi’ah ditutup dengan penegasan: sungguh inilah kebenaran yang meyakinkan (haqq al-yaqin), maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Yang Mahaagung.
Semoga setiap malam bersama surat ini menumbuhkan keyakinan itu, dan menjadikan kita kaya dalam arti yang paling hakiki: kaya hati, tenang dalam ikhtiar, dan lapang dalam berbagi. Amin. Wallahu a’lam bisshawab.