Ketika Seorang Anak Muda Mencari Tuhan
Ketika Seorang Anak Muda Mencari Tuhan
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Seorang anak pulang dari sekolah dengan pertanyaan yang diperolehnya dari layar ponsel: “Kalau Allah Mahabaik, mengapa anak-anak yang tidak bersalah menjadi korban perang?” Lalu ayahnya menyuruhnya berhenti bertanya. Begitu juga, gurunya menganggap pertanyaan itu sebagai tanda lemahnya iman. Malamnya, ia kembali ke internet. Di sana, ada orang yang mau mendengarkan, meskipun jawaban yang diberikan justru mengajaknya menjauh dari agama.
Kisah ini memang ilustrasi. Namun, pertanyaannya dekat dengan tantangan pendidikan iman hari ini. Ketika rumah dan sekolah menutup percakapan, ke mana anak akan membawa kegelisahannya? Siapa yang akan menemaninya mencari jawaban?
Kini pencarian itu berlangsung di mana saja: di kamar kos, dalam perjalanan pulang, atau sesaat sebelum tidur. Satu cuplikan video mengantar anak ke percakapan panjang, kolom komentar, lalu komunitas baru. Pertanyaan tentang Tuhan hadir bersama kecemasan akan pekerjaan, masa depan, dan hubungan keluarga. Pembinaan iman perlu menjangkau kehidupan yang mereka jalani, sebab dari sanalah banyak pertanyaan bermula.
Tentu, milenial dan Gen Z tidak memiliki pengalaman yang seragam. Ada yang tekun mengaji, ada yang baru belajar beribadah, dan ada yang menyimpan kekecewaan atau keraguan.
Seorang pekerja muda mungkin mempertanyakan keadilan setelah berkali-kali gagal memperoleh pekerjaan. Seorang pelajar justru bingung karena mendengar jawaban agama yang berbeda-beda. Sebutan generasi membantu mengenali konteks mereka, tetapi tidak cukup untuk membaca isi hatinya.
Untuk mendampingi pencarian itu, kita perlu memahami apa yang sedang dipersoalkan. Ateisme dapat berarti penolakan terhadap keberadaan Tuhan atau ketiadaan kepercayaan kepada-Nya. Agnostisisme menyangkut kepastian pengetahuan: seseorang merasa belum mengetahui, atau menganggap manusia tidak dapat mengetahui, apakah Tuhan ada.
Dalam uraian yang diperbarui pada 2022 di Stanford Encyclopedia of Philosophy, Paul Draper menjelaskan bahwa pemakaian kedua istilah tersebut beragam dan kadang beririsan. Karena itu, ketika seorang anak menyebut dirinya ateis atau agnostik, percakapan perlu dimulai dengan mendengar apa yang ia maksud.
Ucapan “Saya percaya Tuhan, tetapi kecewa kepada lembaga agama” belum tentu menunjukkan agnostisisme. Ketidaktaatan beribadah pun tidak dengan sendirinya berarti ateisme. Keyakinan tentang Tuhan, hubungan dengan lembaga agama, dan kebiasaan beribadah saling berkaitan, tetapi perlu dibaca secara cermat. Dari pemahaman itulah bimbingan yang sesuai dapat dimulai.
Kata yang dipilih oleh seorang remaja kadang belum sepenuhnya menjelaskan keyakinannya. Misalnya ada yang berkata: “Saya belum memahami alasan beriman” berbeda dari “Manusia tidak mungkin mengetahui apakah Tuhan ada.” Yang pertama menunjukkan kebutuhan belajar; yang kedua menyatakan pandangan tentang batas pengetahuan. Alih-alih segera menanggapi labelnya, mintalah ia menjelaskan keraguan dengan bahasanya sendiri.
Penolakan terhadap Tuhan bisa dinyatakan secara terang, sedangkan keraguan dapat muncul melalui ucapan “Saya belum dapat menyimpulkan” atau “Tidak ada orang yang bisa mengetahui.” Ada pula yang mulai menganggap agama hanya warisan keluarga dan kehilangan makna ibadah karena kepercayaannya goyah. Semua ini perlu dibicarakan. Namun, jarang shalat, cara berpakaian, atau pilihan tontonan tidak cukup untuk menetapkan keyakinan batin seseorang.
Ada anak yang tetap beribadah bersama keluarga, tetapi menyimpan keraguan yang tidak berani ia ceritakan. Ada pula yang menjauh dari ibadah karena tidak lagi percaya, sementara yang lain sedang lelah atau kecewa. Dari luar, perilakunya mungkin tampak serupa. Percakapan yang jujur akan membantu kita memahami perbedaannya. Pertanyaan “Apa yang sebenarnya kamu yakini?” sering kali membuka hal yang tidak terlihat dari kebiasaan sehari-hari.
Perhatian terhadap masa remaja menjadi penting karena pada usia ini anak mulai meminta alasan atas hal yang dahulu diterimanya dari orang dewasa.
Ada yang berkata: “Kalau saya lahir di keluarga berbeda, apakah keyakinan saya juga berbeda?” Pertanyaan ini belum membuktikan bahwa semua agama sama benarnya atau sama salahnya. Ia justru membuka kesempatan untuk membantu anak memahami dasar keyakinannya. Dengan bimbingan yang memadai, keberanian bertanya dapat menjadi jalan memperdalam iman.
Pergulatan tersebut dibahas Muhammad Idrus pada 2006 dalam kajiannya tentang keraguan kepada Tuhan pada remaja. Ia menyoroti peran krisis kehidupan dan lingkungan sosial ketika keyakinan masa kecil berhadapan dengan pengalaman baru. Pelajarannya bagi kita ialah, bahwa iman yang dikenalkan melalui orang tua perlu terus dibimbing menjadi pemahaman yang dapat dijelaskan oleh anak sendiri.
Sumber kegelisahannya pun beragam. Ada yang mempertanyakan keberadaan Tuhan, kecewa kepada orang atau lembaga agama, atau kehilangan arah hidup. Kajian Exline dan rekan-rekannya pada 2014 menunjukkan bahwa pergulatan keagamaan dapat bertaut dengan konflik sosial, persoalan moral, dan pencarian makna. Karena itu, menambah hafalan dalil saja belum tentu menyelesaikan luka yang belum pernah didengarkan.
Untuk mengenalinya, kita bisa bertanya: “Apakah kamu bingung dengan argumennya, merasa diperlakukan tidak adil, takut karena pikiran yang muncul, atau kehilangan arah hidup?” Jawaban anak membantu menentukan langkah selanjutnya.
Pada prinsipnya, persoalan intelektual memerlukan penjelasan; pengalaman kekerasan menuntut perlindungan dan penanganan pelaku. Rasa bersalah perlu dijawab dengan tanggung jawab, perbaikan, dan pengenalan terhadap rahmat Allah. Sebagian anak membutuhkan semuanya secara bertahap.
Benturan antara ajaran yang indah dan pengalaman yang menyakitkan terlihat dalam kajian Nur Afifah di Universitas Gadjah Mada pada 2017. Wawancara terhadap empat orang yang mengalami atau pernah mengalami keraguan pada masa remaja memperlihatkan kaitan keluarga, pergaulan, dan perkembangan cara berpikir. Temuan ini mengajak kita merenungkan bagaimana agama hadir dalam kehidupan anak. Ketika kasih sayang diajarkan melalui kemarahan, jarak antara pesan dan pengalaman dapat menyisakan pertanyaan.
Dalam kajian Purwatamashakti dan Indriana pada 2020, pengalaman itu tampil lebih konkret. Dari tiga orang yang menyebut diri agnostik, seorang partisipan berlatar Islam mengisahkan kekecewaan karena doa tidak menyelesaikan masalahnya. Partisipan lain menceritakan nilai buruk dalam ujian praktik shalat karena perbedaan cara berdoa, disertai pengalaman dikucilkan. Kisah mereka memperlihatkan bagaimana pengalaman beribadah dan perlakuan orang di sekitarnya dapat ikut membentuk keraguan.
Pengalaman demikian menuntut penjelasan sekaligus perbaikan. Anak perlu memahami hubungan doa, usaha, dan ketentuan Allah, termasuk kenyataan bahwa permintaan tidak selalu terwujud seperti yang diharapkan. Guru pun perlu membedakan kesalahan ibadah dari perbedaan yang dibenarkan dalam fiqih. Jika ada perlakuan tidak adil, akui dan perbaiki. Membela ajaran agama tidak mengharuskan kita membenarkan setiap tindakan orang yang mengatasnamakannya.
Peran hubungan keluarga kembali tampak dalam kajian Adiyoso dan Astuti pada 2025. Seorang informan berlatar Islam mengaitkan perubahan pandangannya dengan sikap ayah yang ia rasakan radikal dan merenggangkan hubungan mereka. Menariknya, para informan yang menyebut diri agnostik tetap mengakui keberadaan Tuhan. Sekali lagi, pengakuan diri perlu didengar bersama cerita dan maknanya, sebab istilah yang dipakai belum selalu sejalan dengan pengertian filosofisnya.
Bayangkan seorang pelajar yang menonton cuplikan podcast tentang penderitaan, lalu mengatakan kepada temannya, “Saya agnostik dulu.” Apa yang membuatnya sampai pada ucapan itu? Argumen dalam video, kesedihan yang sedang ditanggung, atau jawaban yang belum pernah ia peroleh? Jika ia baru kehilangan anggota keluarga, percakapan tentang Tuhan perlu disertai kepedulian terhadap dukanya. Ilustrasi ini mengingatkan bahwa pertanyaan yang sama bisa lahir dari pengalaman yang sangat berbeda.
Seorang anak juga bisa mulai meragukan agama ketika melihat orang yang rajin berceramah membiarkan perundungan. Ia mungkin bertanya mengapa ajaran tentang kasih sayang tidak melindunginya. Dalam keadaan seperti itu, penjelasan harus berjalan bersama tindakan: hentikan perundungannya, lindungi anak, dan tunjukkan bahwa perilaku pelaku memang bertentangan dengan ajaran. Kepercayaan sulit dipulihkan apabila luka yang membuatnya ragu tetap dibiarkan.
Di ruang digital, keraguan itu dapat menemukan teman. Anak yang merasa sendirian di rumah mungkin memperoleh penerimaan di kolom komentar atau grup percakapan. Ketika merasa dimengerti, ia bisa lebih mudah menerima pendapat orang yang menemaninya. Karena itu, pembinaan iman perlu menghadirkan hubungan yang hangat sekaligus membiasakan anak memeriksa alasan suatu pendapat, termasuk pendapat orang yang ia sukai.
Ada pula anak yang terusik oleh pertanyaan tentang Tuhan tetapi justru takut kehilangan iman. Ini berbeda dari menyetujui penolakan terhadap Tuhan. Dengarkan apakah ia sedang mencari penjelasan, mengalami lintasan pikiran yang tidak diinginkan, atau telah menerima pandangan tertentu. Keraguan keagamaan bukan diagnosis gangguan mental. Jika kegelisahan sampai mengganggu tidur, belajar, dan keseharian, bantuan konselor atau psikolog dapat berjalan bersama pendampingan agama.
Kisah-kisah tersebut mengingatkan bahwa pergulatan iman perlu mendapat perhatian. Namun, ramainya pengakuan di media sosial belum menjelaskan berapa banyak anak muda Indonesia yang menjadi ateis atau agnostik. Kita tetap perlu waspada tanpa menjadikan kegaduhan di layar sebagai gambaran seluruh generasi. Yang mendesak ialah memahami pertanyaan yang ada dan menyediakan pendampingan yang dapat dipercaya.
Orang tua tentu tidak menjadi satu-satunya penentu keyakinan anak. Anak memiliki penalaran dan pilihannya sendiri. Namun, perintah yang disampaikan dengan penghinaan dapat membuatnya sulit membedakan ajaran agama dari pengalaman menyakitkan. Karena itu, mengajarkan kewajiban perlu berjalan bersama kesediaan menjelaskan, mendengarkan, dan memperbaiki cara berkomunikasi.
Pergulatan yang melibatkan keluarga dan pergaulan digital juga ditemukan di Malaysia. Pada 2025, Razali dan rekan-rekannya mewawancarai enam milenial Melayu yang menyebut diri ateis. Mereka mengisahkan tekanan keluarga, pengalaman buruk dengan institusi agama, pengawasan moral terkait gender, dan perjumpaan dengan komunitas skeptis di internet. Enam kisah ini tidak mewakili seluruh pemuda Malaysia, tetapi membantu kita memahami bagaimana penalaran dan pengalaman hidup dapat saling memengaruhi dalam perjalanan keyakinan.
Meski demikian, perubahan tidak selalu bergerak menjauhi agama. Laporan Arab Barometer yang terbit pada 2023 mencatat 46 persen pemuda Tunisia berusia 18–29 tahun menyebut dirinya “tidak religius” pada 2018–2019; pada 2021–2022 angka itu turun 15 poin persentase. “Tidak religius” tentu tidak sama dengan ateis. Data ini mengingatkan bahwa hubungan anak muda dengan agama dapat berubah arah dan perlu dibaca sesuai konteksnya.
Di Indonesia, laporan Pew Research Center pada 2025 mencatat kurang dari satu persen responden dewasa melaporkan perpindahan keluar dari atau masuk ke Islam. Identitas keagamaan yang kuat tetap membutuhkan pemahaman yang terus dirawat. Seseorang bisa menyebut dirinya muslim sambil menyimpan pertanyaan yang belum terjawab. Karena itu, pembinaan iman perlu memperhatikan bagaimana keyakinan dihayati, bukan hanya identitas yang tercatat.
Kekecewaan terhadap pelaku agama tentu tidak membuktikan bahwa agama salah. Akan tetapi, lembaga pendidikan, dakwah dan keummatan harus berani memperbaiki perilaku dan tata kelolanya. Mengajarkan kasih sayang sambil membiarkan perundungan, atau menyerukan kejujuran sambil menutup penyalahgunaan kuasa, dapat melukai kepercayaan anak. Menjaga akidah juga memerlukan keteladanan yang dapat mereka saksikan.
Perbaikan itu juga perlu menjangkau hubungan antara kehidupan di rumah dan di layar. Anak membawa pengalaman keluarga ke internet, lalu membawa percakapan internet kembali ke meja makan dan ruang kelas. Heidi A. Campbell, melalui kajiannya tentang agama dalam jaringan pada 2012, membantu menjelaskan keterhubungan ini. Pendampingan digital akan lebih berarti jika anak memiliki orang yang dapat dipercaya dan sumber belajar yang mudah dijangkau dalam kesehariannya.
Tantangan mencari jawaban di internet juga terlihat dalam kajian Himam dan rekan-rekannya pada 2025 terhadap 84 mahasiswa muslim STAI Al-Anwar Sarang, Rembang. Akses pengetahuan agama yang luas hadir bersama kebingungan memilih otoritas dan kecemasan keagamaan. Para mahasiswa itu juga berusaha menyaring konten dan menjaga hubungan dengan sesama muslim. Pengalaman ini memperjelas tantangan belajar agama di ruang digital, tanpa menunjukkan bahwa mereka menjadi ateis.
Di tengah arus informasi, potongan debat dapat terasa meyakinkan sebelum konteksnya diperiksa. Popularitas pembicara pun mudah dianggap sebagai ukuran kebenaran. Kajian Paul K. McClure pada 2017 menemukan hubungan penggunaan internet dengan ketidakberafiliasian agama pada orang dewasa di Amerika, tetapi tidak membuktikan bahwa internet menyebabkan ateisme. Bagi kita, tugas utamanya ialah membantu anak menilai isi argumen dan sumbernya, lalu membuka ruang untuk membicarakan apa yang belum dipahami.
Memahami Konteks
Percakapan tentang ateisme dan agnostisisme dalam podcast sering terasa dekat. Narasumber berbicara tentang kekecewaan, sementara pembawa acara mengajukan pertanyaan yang juga dimiliki penonton. Kedekatan ini membuat suatu pandangan lebih mudah didengar. Anak perlu dibantu membedakan pengalaman yang patut dihormati dari kesimpulan tentang Tuhan yang tetap memerlukan alasan.
Salah satu contoh yang ramai diperbincangkan ialah Ibra, kreator TikTok dengan akun @callmeibraaaaa. Dalam laporan Bushiri di NU Online pada 6 Oktober 2026, ia disebut belum menemukan bukti empiris yang meyakinkannya tentang keberadaan Tuhan. Ia meminta tanda berupa sinyal inframerah ke satelit NASA, disertai pesan dari Tuhan. Permintaan ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: bukti seperti apa yang dianggap cukup untuk percaya, dan apakah semua yang nyata harus dapat ditangkap oleh alat pengamatan?
Permintaan itu perlu dibaca dengan cermat. Mencari Tuhan sebagai benda yang dapat ditangkap teropong berbeda dari bertanya mengapa Tuhan tidak memberikan tanda yang lebih jelas.
Dalam akidah Islam, Allah bukan objek fisik di antara benda-benda langit. Karena itu, tidak tertangkapnya Allah oleh teleskop tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Allah tidak ada. Namun, penjelasan ini belum menjawab seluruh pertanyaan tentang tanda. Seseorang bisa memahami bahwa Tuhan bukan benda, tetapi tetap bertanya mengapa belum memperoleh petunjuk yang dirasakannya cukup meyakinkan.
Di balik permintaan tanda, ada pertanyaan yang patut kita pahami: mengapa keberadaan Tuhan belum terasa jelas bagi seseorang yang mencari-Nya? Dalam filsafat agama, persoalan ini dikenal sebagai divine hiddenness, yang antara lain dibahas J. L. Schellenberg dan diuraikan dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy yang diperbarui pada 2022. Pertanyaan semacam ini perlu ditanggapi dengan sungguh-sungguh, melalui penjelasan alasan beriman dan kesediaan mendengar apa yang membuat seseorang belum yakin.
Dari perspektif Islam, pengenalan kepada Allah ditempuh melalui wahyu, penalaran, dan perenungan atas tanda-tanda ciptaan. Surat Adz-Dzariyat ayat 20–21 mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda di bumi dan dalam dirinya. Tanda dalam pengertian ini tidak identik dengan sinyal elektronik yang harus muncul sesuai permintaan manusia.
Meski demikian, pendamping tetap perlu menjelaskan bagaimana tanda itu menjadi dasar penalaran, bagaimana keandalan wahyu dipahami, dan bagian mana yang masih membingungkan anak. Tidak adanya sinyal tertentu juga bukan bukti otomatis keberadaan Tuhan. Yang dibutuhkan ialah pembahasan alasan beriman secara utuh, disertai kesediaan mendengarkan pertanyaan lanjutannya.
Kesulitan memahami jawaban dapat bertambah ketika percakapan panjang dipotong menjadi video singkat. Penjelasan bersyarat tampil sebagai pernyataan mutlak karena bagian awal atau akhirnya hilang. Penonton lalu menganggap agama tidak masuk akal, padahal ia belum mendengar penjelasan utuh. Membiasakan anak memeriksa konteks dan rujukan akan membantunya menilai kesimpulan dengan lebih tenang.
Kesempatan belajar juga menyempit ketika pertanyaan di TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, X, atau grup percakapan berubah menjadi adu ejekan. Anak yang dibalas dengan tuduhan dan penghinaan dapat merasa bahwa bertanya adalah kesalahan. Guru dan pendakwah perlu menjawab isi pertanyaannya, membedakan pencarian yang tulus dari pelecehan, serta menjaga percakapan dari perundungan.
Kini, anak juga dapat membawa pertanyaan tentang Tuhan kepada kecerdasan buatan. Jawaban datang cepat, tetapi kecepatan belum menjamin ketepatan. Pendamping perlu mengajak mereka menelusuri sumber, memeriksa kutipan, dan membahas jawaban yang meragukan bersama guru yang kompeten. Kemudahan memperoleh jawaban seharusnya membantu proses belajar, bukan membuat anak berhenti memeriksa alasan di baliknya.
Ruang Dialog
Kesediaan berdialog tidak mengurangi ketegasan akidah. Dalam Islam, penolakan terhadap Allah menyentuh dasar tauhid, makna ibadah, tujuan hidup, dan pertanggungjawaban akhirat. Agnostisisme yang menetap pada pokok iman juga bertentangan dengan tuntutan keyakinan. Persoalan ini harus dijelaskan dengan ilmu, sambil membedakan pertanyaan yang sedang dicari jawabannya dari penolakan yang telah diterima sebagai pendirian. Kritik terhadap pandangan tetap dapat disampaikan dengan menjaga kehormatan orangnya.
Alquran merekam jawaban Nabi Ibrahim dalam penggalan surat Al-Baqarah ayat 260:
قَالَ بَلَىٰ، وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
“Ia menjawab, ‘Tentu, tetapi agar hatiku menjadi tenteram.’”
Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menjelaskan permintaan Ibrahim sebagai keinginan memperkuat pengetahuan dengan penyaksian. Pertanyaan beliau lahir dalam keimanan. Dari sini kita belajar bahwa keinginan memperdalam pemahaman perlu diberi ruang dan dibimbing dengan tepat.
Ketika beberapa sahabat mengadukan lintasan pikiran yang terasa sangat berat untuk diucapkan, justru Nabi SAW bersabda:
ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ
“Itulah iman yang nyata.” (HR Muslim)
Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj menjelaskan bahwa tanda iman pada hadis ini terletak pada beratnya hati, ketakutan, dan penolakan terhadap lintasan buruk tersebut, bukan pada isi lintasannya. Dengan demikian, anak yang berkata “Saya takut karena pikiran ini muncul” perlu dibedakan dari anak yang menyatakan “Saya menerima kesimpulan ini.” Hadis tersebut juga tidak berarti semua jenis keraguan otomatis merupakan iman yang kuat. Pendamping harus memahami sikap anak terhadap pikirannya sebelum memberi nasihat.
Bagi ulama dan pendidik, teladan ini menegaskan amanah untuk mengajarkan akidah dengan dalil serta penalaran yang tertib. Pertanyaan tentang sains, penderitaan, dan keadilan perlu mendapat tempat dalam pembelajaran. Jangan memaksakan klaim ilmiah yang lemah untuk membela agama. Kejujuran dalam menjawab membantu anak mengenali bahwa ilmu dapat dipelajari dengan sungguh-sungguh.
Al-Ghazali, dalam Ihya’ ‘Ulumidin di pembahasan Kitab Qawa‘id al-‘Aqa’id, menjelaskan pendidikan akidah secara bertahap. Ia menulis:
فَابْتِدَاؤُهُ الْحِفْظُ، ثُمَّ الْفَهْمُ، ثُمَّ الِاعْتِقَادُ وَالْإِيقَانُ وَالتَّصْدِيقُ بِهِ
“Permulaannya adalah menghafal, kemudian memahami, kemudian meyakini, memperoleh kepastian, dan membenarkannya.”
Dalam konteks pembahasannya, pengenalan akidah pada anak dilanjutkan dengan pemahaman, dalil Alquran, ibadah, dan pergaulan dengan orang saleh. Al-Ghazali juga memperingatkan agar pengajaran tidak dibebani perdebatan yang belum sesuai kesiapan anak. Lalu, implikasinya bagi pendidikan hari ini: hafalan perlu tumbuh menjadi pemahaman; materi dan cara menjawab harus disesuaikan dengan usia serta persoalan murid.
Ibnu Khaldun juga mengingatkan dalam Al-Muqaddimah bahwa tekanan berlebihan dapat melemahkan semangat belajar dan membuat anak menyembunyikan isi hati karena takut. Peringatan ini penting dalam pembinaan iman. Anak yang diam belum tentu sudah memahami. Sebab mungkin ia hanya belajar bahwa pertanyaannya tidak boleh diucapkan.
Pendidikan akidah perlu menyediakan penalaran yang dapat diperiksa. Ketika anak bertanya “Kalau Tuhan menciptakan segala sesuatu, siapa yang menciptakan Tuhan?”, jelaskan bahwa argumen ketuhanan dalam tradisi kalam tidak harus berbunyi “segala sesuatu mempunyai pencipta”. Pembahasannya menyangkut hal yang bermula atau bergantung pada yang lain, dan alasan mengapa keberadaannya membutuhkan penjelasan.
Dalam Syarh al-‘Aqa’id an-Nasafiyyah, at-Taftazani membedakan yang bergantung pada sebab lain dari “Wajib al-Wujud” yang tidak membutuhkan sesuatu untuk ada. Allah dipahami sebagai Dzat yang tidak bergantung dan tidak bermula. Argumentasi ini tetap perlu diajarkan lengkap, termasuk pertanyaan lanjutannya. Yang jelas, satu slogan tidak cukup menggantikan pembelajaran.
Tentang sains, bedakan penjelasan mengenai proses alam dari kesimpulan bahwa hanya realitas material yang ada. Mengetahui bagaimana suatu proses berlangsung tidak dengan sendirinya menjawab seluruh pertanyaan tentang dasar keberadaan dan tujuan hidup. Sebaliknya, belum diketahuinya suatu proses alam juga tidak boleh segera dijadikan bukti khusus keberadaan Tuhan. Pendakwah perlu menghindari klaim ilmiah yang rapuh, mengajarkan hubungan antara dalil wahyu dan penalaran, serta jujur ketika suatu persoalan masih membutuhkan kajian.
Pertanyaan tentang penderitaan pun memerlukan jawaban yang lebih utuh. Dalam Islam, kehidupan dunia dipahami sebagai ruang ujian dan tanggung jawab. Manusia diberi kewajiban menolong, mencegah kezaliman, dan memperbaiki keadaan, sementara keadilan tidak berhenti pada kehidupan dunia.
Penjelasan ini perlu disampaikan tanpa meremehkan luka korban atau mengaku mengetahui hikmah khusus setiap musibah. Kepada anak yang berduka, hadirnya orang yang peduli dapat membuka percakapan yang tidak mampu dibuka oleh perdebatan saja.
Dalam Islam, berbuat baik kepada manusia dan beribadah kepada Allah merupakan bagian dari tanggung jawab yang saling berkaitan. Karena itu, ucapan “cukup menjadi orang baik” perlu dijawab dengan penjelasan tentang hak Allah, hak sesama, dan tujuan ibadah. Jelaskan pula bahwa perilaku buruk sebagian orang beragama tetap harus dikoreksi. Kebenaran ajaran tidak membebaskan penganutnya dari tanggung jawab atas tindakannya.
Sebuah Tanggung Jawab
Pencegahan dimulai jauh sebelum anak menyebut dirinya ateis atau agnostik. Di rumah, orang tua perlu membangun kebiasaan ibadah bersama, percakapan yang aman, dan keteladanan yang konsisten. Anak perlu melihat bahwa ajaran tentang amanah, kasih sayang, serta keadilan berlaku juga bagi orang dewasa.
Ketika orang tua keliru, kesediaan mengakui dan memperbaiki kesalahan mengajarkan tanggung jawab. Waktu mendengarkan sebaiknya tersedia secara rutin, bukan hanya ketika prestasi atau perilaku anak menurun.
Agar keyakinan tumbuh dengan penghayatan, anak perlu memahami alasan, merasa mampu belajar, dan memiliki hubungan yang hangat. Ketiga kebutuhan ini berdekatan dengan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan yang dibahas Ryan dan Deci dalam teori motivasi mereka pada tahun 2000. Bagi pendidikan iman, kerangka itu memberi pelajaran tentang pentingnya membimbing anak memahami ajaran dan merasakan dukungan. Kebebasan bertanya tetap berjalan bersama tanggung jawab.
Di sekolah dan pesantren, prinsip tersebut dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang berangkat dari pertanyaan murid: takdir dan usaha, doa dan ikhtiar, sains dan wahyu, atau hubungan moral dan ibadah. Guru membantu mereka membedakan dalil, penafsiran, dan pendapat yang dapat diperselisihkan. Jika jawaban belum memadai, akui dengan jujur dan rencanakan pembahasan berikutnya. Pertanyaan anonim pun dapat membuka percakapan tanpa mempermalukan murid.
Literasi digital juga perlu dilatih melalui praktik: baca konteks sebelum dan sesudah sebuah kutipan, cari penjelasan utuh, periksa kompetensi pembicara, serta telusuri kitab atau penelitian yang dirujuk. Dalam podcast, bedakan cerita pengalaman dari kesimpulan yang menuntut bukti. Dalam penggunaan AI, minta rujukan lalu periksa sumber aslinya bersama guru. Batas penggunaan perangkat perlu memperhatikan usia, tidur, belajar, ibadah, isi konten, dan interaksi sosial, disertai kegiatan nyata yang membuat anak merasa terhubung.
Ketika anak menyatakan keraguan, mulailah dengan percakapan pribadi. Kalimat “Terima kasih sudah jujur; bagian mana yang paling membuatmu bingung?” dapat membuka pintu. Dengarkan sejak kapan kegelisahan muncul, alasan yang dianggap meyakinkan, dan pengalaman yang menyertainya. Tidak semuanya harus selesai dalam satu pertemuan. Pilih satu persoalan, sepakati rujukan, lalu beri waktu untuk belajar dan bertanya kembali.
Jika persoalannya terutama argumentasi, pertemukan anak dengan guru akidah yang mampu berdialog dan memahami pertanyaan kontemporer. Jika ada perundungan atau kekerasan, lindungi anak dan tindak lanjuti perbuatannya. Jangan menjadikan kesediaan beribadah sebagai syarat memperoleh perlindungan. Jika kegelisahan mengganggu tidur, belajar, atau keseharian, konselor atau psikolog dapat membantu menilai kebutuhan dukungan bersama pendamping agama. Ateisme dan agnostisisme sendiri bukan diagnosis gangguan mental.
Sepanjang pendampingan, jagalah kepercayaannya. Hindari mempermalukan anak di depan kelas, menyebarkan curahan hatinya ke grup keluarga, atau menjadikan keyakinannya bahan debat publik. Jika keselamatannya terancam, libatkan pihak yang dapat melindungi dengan informasi seperlunya. Pertemuan lanjutan membantu kita melihat apakah pemahaman bertambah dan anak lebih mampu menjelaskan persoalannya.
Pendekatan ini sejalan dengan anjuran Nabi SAW tentang kelembutan. Beliau bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali membuatnya buruk.” (HR Muslim)
Kelembutan membantu penjelasan diterima tanpa menghapus ketegasan akidah. Dalam dialog, kita dapat menolak kesimpulan yang bertentangan dengan iman sambil tetap memperlakukan anak dengan hormat.
Tanggung jawab ini juga dapat dikerjakan bersama. MUI, ormas Islam, pesantren, sekolah, kampus, lembaga dakwah dan komunitas masjid dapat menyediakan konsultasi yang menjaga kepercayaan, melatih pendamping, dan menyiapkan rujukan kepada pihak yang kompeten. Materi digital perlu ditopang penguasaan akidah, pendidikan, dan komunikasi. Lembaganya pun harus menunjukkan amanah melalui penanganan perundungan dan kekerasan yang dapat dipercaya.
Programnya tidak harus rumit. Forum pertanyaan iman, podcast dengan narasumber kompeten, dan video pendek yang mengantar ke penjelasan lengkap dapat membuka jalan belajar. Pilih tema dari pertanyaan nyata anak muda. Keberhasilannya perlu dilihat dari mutu jawaban, kemudahan memperoleh pendamping, dan keberlanjutan bimbingan. Jumlah tayangan atau berkurangnya pertanyaan saja belum menunjukkan bahwa keraguan telah terjawab.
Bagi pesantren tahfiz, hafalan perlu berjalan bersama pemahaman dan tadabbur. Santri perlu mengetahui bagaimana ayat membimbing cara berpikir, bersikap, dan menghadapi masalah. Bagi kampus, ruang dialog harus memungkinkan mahasiswa menguji argumentasi dengan tertib. Bagi keluarga, waktu mendengarkan perlu menjadi kebiasaan, bukan baru disediakan ketika persoalan membesar.
Ulama, da’i, orang tua, dan pendidik menjalankan peran yang saling melengkapi. Penjelasan akidah dengan dalil dan hikmah perlu bertemu dengan keteladanan keluarga serta pembelajaran yang membantu anak memahami alasan di balik ajaran. Anak muda membutuhkan jawaban yang dapat dipahami dan orang dewasa yang dapat dipercaya.
Ketika pemahaman tumbuh dan hubungan dengan pendamping terjaga, pendidikan iman memiliki kesempatan untuk berakar lebih dalam. Diam karena takut tidak memberi kepastian bahwa kegelisahan telah selesai. Ketika anak muda mencari Tuhan, semoga rumah, masjid, dan sekolah menjadi tempat yang menemani pencariannya dengan ilmu dan rahmat.