Lewati ke konten utama
Senin, 29 Juni 2026 / 13 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Istimewa

8 menit baca 1.814 dibaca
KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Istimewa
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Dalam tradisi Islam, waktu bukan sekadar hitungan astronomis yang bergerak dari detik ke detik. Alquran memandang waktu sebagai bagian dari ayat-ayat Allah yang memiliki nilai, kehormatan, dan fungsi spiritual tertentu.

Karena itu, Islam mengenal adanya waktu-waktu mulia (al-azminah al-fadhilah), tempat-tempat mulia (al-amkinah al-fadhilah), dan amal-amal tertentu yang memiliki keutamaan lebih besar dibanding lainnya.

Di antara waktu yang paling agung dalam kalender Islam adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Menariknya, di tengah masyarakat modern hari ini, manusia justru semakin kehilangan sensitivitas terhadap “kesucian waktu”. Kalender kehidupan lebih banyak diatur oleh ritme ekonomi, target industri, agenda politik, promosi digital, hingga tren media sosial.

Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global

Manusia modern sangat mudah mengingat tanggal konser, jadwal liga olahraga dunia, momentum diskon besar, atau peristiwa hiburan global, tetapi sering lupa bahwa dalam Islam ada hari-hari yang oleh Allah dan Rasul-Nya justru disebut lebih mulia dan lebih bernilai daripada hari-hari lainnya.

Fenomena ini sesungguhnya berkaitan erat dengan krisis spiritual manusia modern. Laporan World Health Organization tahun 2022 mencatat bahwa lebih dari 970 juta orang di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan (anxiety disorders) dan depresi menjadi kasus terbesar secara global.

WHO juga menyebutkan bahwa setelah pandemi COVID-19 terjadi peningkatan signifikan gangguan kecemasan dan depresi hingga sekitar 25 persen di berbagai negara.

Sementara itu, riset global yang diterbitkan oleh Gallup dalam Global Emotions Report 2023 menunjukkan bahwa tingkat stres, kecemasan, dan kesedihan masyarakat dunia tetap berada pada angka tinggi meskipun dunia mulai pulih dari pandemi. Banyak manusia hidup dalam kemajuan teknologi, tetapi tidak menemukan ketenangan batin.

Baca juga: Pergi Haji

Fenomena lain yang semakin banyak dibahas para ilmuwan sosial adalah loneliness epidemic (epidemi kesepian). Pada tahun 2023, Surgeon General Amerika Serikat, Vivek Murthy, menerbitkan laporan resmi berjudul Our Epidemic of Loneliness and Isolation yang menyebut bahwa kesepian kronis kini menjadi ancaman serius kesehatan publik, bahkan dampaknya terhadap kesehatan dinilai setara dengan merokok beberapa batang rokok per hari.

Psikolog sosial Amerika, Jonathan Haidt, dalam bukunya The Anxious Generation (2024) menjelaskan bagaimana budaya digital dan penggunaan media sosial yang berlebihan melahirkan generasi yang lebih mudah cemas, rapuh secara emosional, sulit fokus, dan kehilangan kedalaman relasi sosial maupun spiritual.

Dalam konteks inilah, Islam sebenarnya telah lama menghadirkan mekanisme spiritual yang sangat luar biasa: momentum-momentum ibadah yang berfungsi sebagai spiritual reset bagi manusia.

Ramadhan, Jumat, sepertiga malam, hari Arafah, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan contoh bagaimana syariat membangun ritme ruhani agar manusia tidak tenggelam sepenuhnya dalam materialisme dunia.

Karena itu para ulama sejak dahulu menyebut momentum seperti ini sebagai “mawashim at-tho’ah”, yakni musim-musim ketaatan. Dan salah satu musim ibadah terbesar itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah; hari-hari ketika manusia diajak kembali memperbaiki hubungan dengan Allah melalui dzikir, pengorbanan, ketundukan, dan amal saleh.

Keagungan hari-hari ini bahkan diabadikan langsung oleh Allah Ta‘ala dalam sumpah-Nya pada awal surat Al-Fajr:

وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)

Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa

Dalam disiplin ilmu tafsir, sumpah Allah terhadap sesuatu menunjukkan adanya kemuliaan dan keagungan perkara tersebut. Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang memiliki kedudukan besar.

Mayoritas mufassir dari generasi sahabat, tabi‘in, dan para imam tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Walayalin ’asyr adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Imam ath-Thabari dalam Jamiʿ al-Bayan meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau menafsirkan ayat tersebut sebagai sepuluh hari Dzulhijjah. Begitu juga Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qurʾan al-’Adhim menegaskan bahwa inilah pendapat yang benar.”

Keutamaan ini kemudian dipertegas oleh hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.”

Para sahabat bertanya:

وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

“Tidak juga jihad di jalan Allah?”

Beliau menjawab:

 الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍوَلَا 

“Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” (HR Bukhari)

Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis

Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah karena pada waktu itu berkumpul seluruh induk ibadah besar dalam Islam, yakni shalat, puasa, sedekah, dan haji.

Menariknya, berbagai penelitian psikologi kontemporer menunjukkan bahwa praktik spiritual dan ibadah memiliki dampak nyata terhadap kesehatan jiwa manusia. Penelitian yang diterbitkan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health tahun 2020 menunjukkan bahwa individu yang memiliki rutinitas spiritual dan keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan cenderung memiliki tingkat depresi lebih rendah, daya tahan psikologis lebih baik, dan tingkat harapan hidup yang lebih tinggi.

Sementara penelitian dalam Journal of Religion and Health tahun 2021 menjelaskan bahwa aktivitas seperti doa, meditasi spiritual, dzikir, dan puasa berkorelasi positif terhadap penurunan tingkat stres dan peningkatan psychological well-being.

Dalam Islam, seluruh rangkaian ibadah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sesungguhnya membentuk pendidikan ruhani yang sangat mendalam. Puasa melatih pengendalian diri, takbir membangun kesadaran tauhid, ibadah qurban mendidik keikhlasan dan pengorbanan, ibadah haji mengajarkan kesetaraan dan ketundukan, sedangkan dzikir menenangkan hati yang gelisah.

Baca juga: Cara Seorang Mukmin Bertakwa di Tengah Musibah

Demikian itu merupakan proses pembinaan jiwa. Dan Allah menegaskan, bahwa hati seorang hamba akan mendapatkan ketenangan dengan mengingat-Nya:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Al-Ra‘d: 28)

Para sahabat dan ulama memahami sepuluh hari pertama Dzulhijjah bukan sekadar rangkaian hari mulia yang diperingati secara simbolik, tetapi sebagai momentum besar untuk memperkuat hubungan dengan Allah dan menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, ketika Dzulhijjah tiba, yang tampak bukan hanya peningkatan ibadah personal, tetapi juga hadirnya atmosfer dzikir yang hidup di ruang sosial umat.

Baca juga: Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern

Dalam riwayat Imam al-Bukhari disebutkan:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا

“Dahulu Ibn ‘Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah sambil mengumandangkan takbir, lalu orang-orang ikut bertakbir mengikuti takbir keduanya.”

Atsar (amalan sahabat) ini memberikan gambaran sangat menarik tentang bagaimana generasi awal Islam membangun budaya spiritual yang menyatu dengan kehidupan sosial. Pasar yang identik dengan aktivitas ekonomi, transaksi, dan kesibukan dunia tidak membuat mereka lalai dari dzikir kepada Allah. Justru di tengah keramaian itulah syiar tauhid dihidupkan.

Takbir pada masa itu bukan hanya terdengar di masjid atau majelis ibadah, tetapi juga menggema di rumah-rumah, jalan-jalan, dan pusat-pusat aktivitas masyarakat. Dzulhijjah benar-benar hadir sebagai musim dzikir yang membentuk suasana ruhani umat.

Gambaran ini menunjukkan bahwa spiritualitas dalam Islam tidak dibangun dengan menjauh dari kehidupan sosial, tetapi dengan menghadirkan nilai-nilai ketuhanan di tengah dinamika kehidupan itu sendiri. Begitulah para ulama salaf memandang Dzulhijjah sebagai momentum tazkiyat an-nafs (pembersihan jiwa) dan percepatan amal saleh. Semangat itu tampak dalam kesungguhan ibadah mereka.

Baca juga: Urgensi Ukhuwah Islamiyah di Tengah Luka Sejarah dan Harapan Kebangkitan

Imam ad-Darimi meriwayatkan tentang tabi‘in besar, Sa‘id bin Jubair rahimahullah:

كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَتْ أَيَّامُ الْعَشْرِ اجْتَهَدَ اجْتِهَادًا حَتَّى مَا يَكَادُ يُقْدَرُ عَلَيْهِ

“Sa‘id bin Jubair apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan kesungguhan yang sangat hingga hampir-hampir tidak mampu lagi menambahnya.”

Sekali lagi, riwayat seperti ini menunjukkan bahwa generasi awal Islam memandang Dzulhijjah sebagai musim ibadah yang sangat besar. Dengan kata lain, mereka tidak membiarkan hari-hari mulia berlalu tanpa peningkatan kualitas ibadah. Mereka tidak ingin satu hari pun berlalu tanpa tambahan amal, dzikir, tilawah, puasa, dan qiyamullail.

Para ulama itu memahami bahwa ada momentum tertentu dalam kehidupan yang harus disambut dengan keseriusan ruhani, karena boleh jadi di sanalah Allah membuka pintu ampunan, keberkahan, dan perubahan besar dalam hidup seorang hamba.

Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan

Lalu apa hikmah besar dari kemuliaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini? Berikut di antaranya:

Pertama, Dzulhijjah mengajarkan bahwa manusia membutuhkan momentum untuk kembali kepada Allah. Sebab hidup tidak boleh sepenuhnya dikuasai rutinitas dunia.

Kedua, Dzulhijjah mendidik manusia tentang makna pengorbanan. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas cinta pada apa pun.

Ketiga, Dzulhijjah mengajarkan kesetaraan manusia. Saat haji, manusia datang dengan pakaian ihram yang sederhana; tidak ada perbedaan status sosial, jabatan, atau kekayaan di hadapan Allah.

Keempat, Dzulhijjah mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan sekadar materi, tetapi kedekatan dengan Allah dan kebermaknaan hidup.

Karena itu, amaliah yang dianjurkan pada hari-hari ini bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga amal sosial dan pembinaan akhlak.

Dianjurkan memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, tahmid, dan tahlil. Begitu juga memperbanyak baca Alquran dan memperbanyak puasa sunnah, terutama puasa Arafah.

Baca juga: Memahami Hadis Nabi Berqurban Satu Ekor Domba untuk Satu Keluarga

Selain itu, dianjurkan pula memperbanyak sedekah dan membantu sesama. Lalu menjaga hubungan keluarga dan silaturahim. Dan tak kalah penting, berniat menyiapkan qurban terbaik sebagai syiar ketakwaan.

Allah Ta‘ala berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah, dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Baca juga: Menjaga Nalar Bangsa di Tengah Arus Perang Pemikiran

Jadi, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah benar-benar mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar kompetisi ekonomi dan pencapaian material. Ada kebutuhan jiwa yang tidak pernah bisa dipenuhi oleh teknologi, popularitas, ataupun kekayaan.

Artinya, manusia membutuhkan makna dan ketenangan dalam hidup, dengan mendekatkan hubungan dengan Allah. Bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Dan bulan Dzulhijjah ini menjadi momentum besar yang paling tepat untuk melakukan hal itu. 

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.