Mengobati Krisis Spiritualitas Umat di Era Digital
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di tengah kemajuan teknologi, melimpahnya informasi, dan meningkatnya standar hidup, banyak manusia justru kehilangan sesuatu yang paling mendasar: ketenangan hati.
Kita hidup di zaman
yang menawarkan berbagai kemudahan, tetapi tidak selalu menghadirkan
ketenteraman. Manusia semakin terhubung dengan dunia, namun sering kali semakin
jauh dari dirinya sendiri.
Tulisan ini mengajak kita merenungkan kembali sebuah doa yang mengajarkan bagaimana menempatkan dunia pada ukurannya yang benar dan mengembalikan orientasi hidup kepada Allah SWT.
Baca juga: Tafsir Peradaban atas Doa Nabi Nuh
Ada banyak doa yang
berisi permohonan tambahan rezeki, kesehatan, umur panjang, kemudahan urusan,
dan berbagai kebutuhan duniawi lainnya. Namun sangat sedikit doa yang secara
khusus memohon agar dunia tidak menguasai hati. Padahal sering kali problem terbesar
manusia bukanlah kekurangan dunia, melainkan terlalu banyak dunia yang
bersemayam di dalam dirinya.
Di antara doa yang
sangat menyentuh dalam konteks ini adalah doa yang penulis terima langsung dari
guru mulia, Al-Habib Umar bin Hafidz hafidhahullahu ta’ala saat
berkunjung ke kediaman beliau di Tarim.
Doa tersebut beliau
himpun dalam kitab Al-Khulashah dan dibaca setiap selesai shalat Subuh
setelah rangkaian wirid pagi. Kandungannya sangat dalam dan terasa semakin
relevan dengan kondisi spiritual umat Islam pada masa kini.
Berikut lafaz doa yang
saya maksud:
اللَّهُمَّ
أَخْرِجْ مِنْ قَلْبِي كُلَّ قَدْرٍ لِلدُّنْيَا، وَكُلَّ مَحَلٍّ لِلْخَلْقِ،
يَمِيلُ بِي إِلَى مَعْصِيَتِكَ، أَوْ يَشْغَلُنِي عَنْ طَاعَتِكَ، أَوْ يَحُولُ
بَيْنِي وَبَيْنَ التَّحَقُّقِ بِمَعْرِفَتِكَ الْخَاصَّةِ، وَمَحَبَّتِكَ
الْخَالِصَةِ
“Ya Allah,
keluarkanlah dari hatiku segala kadar kecintaan kepada dunia dan segala tempat
bagi makhluk yang dapat menyeretku kepada kemaksiatan kepada-Mu, atau
menyibukkanku dari ketaatan kepada-Mu, atau menghalangiku dari tercapainya
ma‘rifat yang mendalam kepada-Mu dan cinta yang tulus kepada-Mu.”
Doa ini tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia. Ia tidak mengajarkan kemiskinan, anti-kemajuan, atau menjauhi tanggung jawab sosial. Yang dimohonkan adalah agar dunia tidak menguasai hati. Sebab masalah terbesar manusia bukan ketika ia memiliki dunia, melainkan ketika dunia memiliki dirinya.
Baca juga: Keteguhan Iman Muslim Persia dan Isyarat Tafsir Surat Muhammad
Di antara penyakit
terbesar yang menggerogoti umat Islam hari ini bukanlah kemiskinan materi atau
keterbelakangan teknologi, melainkan krisis spiritual yang berlangsung perlahan
dan sering kali tidak disadari.
Kita hidup di zaman
yang dipenuhi informasi, tetapi semakin miskin ketenangan. Manusia semakin
terhubung dengan dunia, tetapi semakin jauh dari dirinya sendiri.
Di tengah kemajuan
yang mengagumkan, banyak hati justru merasa kosong, gelisah, dan kehilangan
arah. Allah SWT mengingatkan:
اعْلَمُوا
أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
“Ketahuilah bahwa
kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling
berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta serta anak-anak.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini terasa semakin relevan pada era digital. Apa yang dahulu terjadi di pasar-pasar Arab kini terjadi di layar-layar telepon genggam. Perlombaan status sosial, pencitraan diri, pencarian pengakuan, dan budaya pamer berlangsung tanpa henti.
Baca juga: Ketika Doa dalam Qiyamul Lail “Belum Terkabul”
Dunia tidak lagi hanya hadir di hadapan manusia, tetapi masuk ke ruang paling pribadi dalam kehidupannya.
Pada dasarnya, Alquran
tidak pernah melarang manusia memiliki kekayaan. Nabi Sulaiman AS memimpin
kerajaan yang besar. Nabi Dawud AS memiliki kekuasaan. Sayyidina Utsman bin
Affan radhiyallahu ‘anhu dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu
termasuk sahabat yang sangat kaya. Namun mereka tidak diperbudak oleh apa yang
mereka miliki.
Sebagaimana dijelaskan
oleh Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa zuhud bukanlah tidak memiliki dunia,
melainkan ketika apa yang ada di sisi Allah lebih dipercaya daripada apa yang
ada di tangan manusia.
Inilah persoalan utama
manusia modern. Nilai diri sering diukur dengan jabatan, harga diri dengan
penghasilan, dan keberhasilan dengan popularitas. Pujian manusia menjadi sumber
kebahagiaan, sementara kritik menjadi sumber penderitaan. Akibatnya, hati kehilangan
kebebasannya. Padahal Allah berfirman:
أَلَا
بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Jadi, ketenangan bukan produk dunia. Ia adalah buah kedekatan dengan Allah.
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
Para ulama seperti
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’
al-‘Ulum wa al-Hikam, dan Imam Ibn al-Qayyim dalam Madarij al-Salikin
menjelaskan bahwa hati merupakan pusat kesadaran ruhani manusia. Ia diciptakan
untuk mengenal Allah, mencintai-Nya, berharap kepada-Nya, dan bergantung
kepada-Nya.
Ketika hati dipenuhi
oleh kecintaan yang berlebihan kepada dunia, jabatan, harta, popularitas, dan
penilaian manusia, maka fungsi fitrahnya mulai terganggu.
Dunia yang berada di
tangan dapat menjadi sarana ibadah, tetapi dunia yang menetap di hati dapat
berubah menjadi hijab antara seorang hamba dengan Rabb-nya.
Oleh karena itu, para
salaf lebih takut terhadap kerasnya hati daripada sempitnya kehidupan. Mereka
memahami bahwa kerusakan hati pada akhirnya akan melahirkan kerusakan pada
seluruh dimensi kehidupan manusia.
Rasulullah SAW
bersabda:
إِنَّ
فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا
فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Sesungguhnya
dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh.
Jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa seluruh perilaku manusia merupakan refleksi dari keadaan hatinya. Amal anggota badan hanyalah buah, sedangkan hati adalah akar. Maka, setiap proyek perbaikan umat yang mengabaikan pembangunan hati pada hakikatnya hanya menyentuh gejala, bukan sumber masalah.
Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis
Salah satu tantangan
terbesar umat Islam hari ini adalah hidup di bawah kendali algoritma. Apa yang
kita lihat, baca, sukai, dan pikirkan sebagian besar diarahkan oleh sistem
digital yang dirancang untuk merebut perhatian manusia selama mungkin.
Akibatnya, manusia
modern semakin sulit menikmati keheningan, semakin sulit berkonsentrasi dalam
ibadah, dan semakin sulit hadir sepenuhnya ketika berinteraksi dengan Alquran.
Padahal hati yang terus-menerus terpecah oleh distraksi akan kesulitan
merasakan kehadiran Allah.
Kita hidup dalam
budaya yang menjadikan perhatian sebagai komoditas dan popularitas sebagai mata
uang. Tidak banyak yang bertanya pada dirinya, “Apakah Allah ridha kepadaku?” Sebaliknya,
banyak orang lebih sibuk bertanya, “Bagaimana penilaian manusia terhadapku?”
Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh
rahimahullah berkata:
تَرْكُ
الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ،
وَالإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا
"Meninggalkan
amal karena manusia adalah riya', beramal karena manusia adalah syirik kecil,
sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."
Menariknya, berbagai
penelitian psikologi modern juga menunjukkan bahwa orientasi hidup yang terlalu
materialistik berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan, depresi, stres, dan
rendahnya kepuasan hidup.
Tim Kasser dalam The High Price of Materialism menyimpulkan bahwa semakin seseorang menjadikan kekayaan, status sosial, popularitas, dan citra diri sebagai tujuan utama hidupnya, semakin besar kemungkinan munculnya kehampaan batin dan gangguan psikologis.
Baca juga: Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah
Alquran telah
menjelaskan hal ini jauh sebelumnya:
وَمَنْ
أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Barang siapa
berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Para mufassir seperti Imam
ath-Thabari, al-Qurthubi, dan Ibn Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan
sekadar kesempitan ekonomi, tetapi juga kesempitan jiwa, kegelisahan hati, dan
hilangnya ketenteraman meskipun seseorang memiliki berbagai kenikmatan dunia.
Pelajaran serupa
diwariskan oleh Sayyidina Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata:
نَحْنُ
قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ
بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ
“Kami adalah kaum
yang dimuliakan Allah dengan Islam. Maka kapan saja kami mencari kemuliaan
dengan selain Islam, Allah akan menghinakan kami.”
Kemuliaan sejati tidak
berasal dari apa yang dimiliki manusia, tetapi dari kedekatannya kepada Allah. Selaras
dengan hal ini, Ibnu Taimiyyah berkata:
إِنَّ
فِي الدُّنْيَا جَنَّةً، مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya di
dunia ini ada surga. Barang siapa tidak memasukinya, ia tidak akan memasuki
surga akhirat.”
Ungkapan ini dinukil oleh murid beliau, Imam Ibnu al-Qayyim, dalam Al-Wabil as-Shayyib dan beberapa karya lainnya. Yang dimaksud bukanlah surga berupa kenikmatan materi, melainkan surga ma‘rifatullah, mahabbatullah, dzikrullah, dan kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya. Sebuah keadaan ketika hati menemukan tempat pulangnya setelah lama tersesat dalam keramaian dunia.
Baca juga: Sebuah Renungan: Inflasi, Ketamakan, dan Hilangnya Keberkahan
Oleh karena itu,
kebangkitan umat hari ini harus dimulai dari pemulihan hati. Kita perlu
menghidupkan kembali budaya muhasabah di tengah banjir informasi digital,
memperbanyak tilawah dan tadabbur Alquran, memperbaiki kualitas doa, melatih
keikhlasan, serta memperbanyak mengingat kematian. Sebab seluruh latihan ruhani
tersebut bermuara pada satu tujuan, yaitu mengembalikan orientasi hidup kepada
Allah.
Kebangkitan sejati
harus dimulai dari tempat yang sama ketika Rasulullah SAW memulai perubahan
generasi pertama Islam: dari hati. Sebab dari hatilah lahir cara berpikir, cara
memandang kehidupan, dan cara memperlakukan sesama manusia. Ketika hati sehat,
ilmu menjadi cahaya, kekuasaan melahirkan keadilan, kekayaan menghadirkan
keberkahan, dan peradaban menemukan arah yang benar.
Masalah terbesar
manusia bukanlah sedikitnya apa yang ia miliki, melainkan siapa yang menjadi
pusat orientasi hidupnya. Jika dunia menjadi tujuan akhir, ia akan terus merasa
kurang meskipun memiliki segalanya. Namun jika Allah menjadi tujuan hidupnya,
ia akan menemukan kecukupan bahkan di tengah keterbatasan.
Itulah sebabnya para ulama tidak pernah berdoa agar dunia keluar dari tangan mereka. Mereka berdoa agar dunia tidak menetap di dalam hati mereka.
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Kiranya, di tengah
hiruk-pikuk zaman yang semakin bising ini, doa yang penulis dapatkan dari Habib
Umar di atas menjadi sangat penting untuk diamalkan:
اللَّهُمَّ
أَخْرِجْ مِنْ قَلْبِي كُلَّ قَدْرٍ لِلدُّنْيَا، وَكُلَّ مَحَلٍّ لِلْخَلْقِ،
يَمِيلُ بِي إِلَى مَعْصِيَتِكَ، أَوْ يَشْغَلُنِي عَنْ طَاعَتِكَ، أَوْ يَحُولُ
بَيْنِي وَبَيْنَ التَّحَقُّقِ بِمَعْرِفَتِكَ الْخَاصَّةِ، وَمَحَبَّتِكَ
الْخَالِصَةِ
Ketika dunia kembali berada pada ukurannya yang benar, seorang hamba akan mampu melihat kehidupan dengan jernih: bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan tujuan akhirnya adalah Allah. Wallahu a’lam bis shawab.