Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Buya Hamka dan Kisah Pulau Serendib

6 menit baca 673 dibaca
Fathurrochman Karyadi, M.A

Oleh: Fathurrochman Karyadi, M.A

Filolog, Penulis Novel “Ziarah” (2025), dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Manuskrip karya Syekh Yusuf al-Makassari yang menyebut Sailan dan Pulau Serendib.
Manuskrip karya Syekh Yusuf al-Makassari yang menyebut Sailan dan Pulau Serendib. Foto: Khastara Perpusnas
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Para ulama klasik tidak sepakat tentang lokasi turunnya Nabi Adam ke bumi. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, jilid pertama, halaman 146, menarasikan semua versi yang beredar.

Pertama, riwayat dari Ibnu Abi Hatim yang diterima dari Abdullah bin Umar bahwa Adam turun di Bukit Shafa, Hawa di Bukit Marwa. Tapi ada riwayat lain yang mengatakan bahwa Adam turun di antara Makkah dan Thaif.

Kedua, riwayat dari Ibnu Abbas yang dikutip Ibnu Asakir menyatakan bahwa Adam turun di Hindustan (India), sementara Hawa turun di Jeddah. Dari sini lalu muncul keyakinan bahwa nama Jeddah (Jiddah) berarti “nenek” yang merujuk pada makam Siti Hawa yang konon ada di kota itu.

Ketiga, dan yang paling menarik perhatian Buya Hamka, adalah riwayat yang mengatakan bahwa Adam turun bukan di Makkah, bukan di India, melainkan di “Pulau Serendib”. Lalu, di manakah Pulau Serendib?

Baca juga: Surat Cinta Spiritual dari Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Karaeng Karunrung

Buya Hamka mengutip surat-surat Syekh Yusuf Tajul Khalwati, ulama besar Makassar yang diasingkan Belanda ke Sailan (Ceylon, sekarang Sri Lanka) pada akhir abad ke-17.

Berkaitan dengan surat Syekh Yusuf kepada murid-muridnya di Makassar dan Banten, Buya Hamka menyalinnya: “Saya bersyukur karena di pulau pengasingan ini, Pulau Serendib, tempat turunnya nenek kita Nabi Adam, dan saya masih dapat beribadah kepada Tuhan.”

Bagi Syekh Yusuf dan masyarakat muslim abad ke-17, Serendib ialah Ceylon yang tak lain kini Sri Lanka. Keyakinan ini begitu kuat sehingga hingga kini, di puncak gunung tertinggi Sri Lanka (Adam’s Peak, 2.243 meter), terdapat cekungan batu sepanjang 1,8 meter yang diyakini sebagai tapak kaki Nabi Adam.

Buya Hamka tidak berhenti di situ. Kemudian ia melanjutkan salinan surat Syekh Yusuf, “Akan tetapi, dalam penyelidikan ahli-ahli terakhir menunjukkan bukti-bukti pula bahwa Pulau Serendib bukanlah Ceylon, melainkan Pulau Sumatra.”

Lalu mengapa para ahli berkesimpulan demikian? Buya Hamka menjelaskan bahwa nama Serendib adalah bahasa Sanskerta yang ditulis dengan huruf Arab. Aslinya ialah Pulau Swarnadwipa, yaitu nama Sumatra di zaman dahulu. Sebagian juga ada yang menyebutnya Jawadwipa, nama dari Pulau Jawa.

Swarnadwipa, Pulau Emas, adalah nama yang disebut dalam epos Ramayana untuk merujuk pada suatu wilayah di Nusantara yang kaya akan emas. Dalam tradisi Sanskerta, Swarnadwipa memang merujuk pada Pulau Sumatra.

Baca juga: Menggagas Repositori Intelektualisme Muslim Nusantara

Peneliti Keram Kevonian, dalam tulisannya yang dikutip dalam buku Lobu Tua: Sejarah Awal Barus (ed. Claude Guillot, Yayasan Obor, 2015), memperkuat dugaan ini.

Kevonian meneliti sumber-sumber Armenia kuno, di mana nama Serendib (Serendib) ditulis sebagai Oske Getin atau Oskegetin, yang dalam bahasa Sansekerta berarti Suvarnabhumi (Bumi Emas), sebanding dengan Suvarnadvipa (Pulau Emas). Kesimpulannya, telah terjadi kekeliruan di masa lalu antara dua istilah Arab yang mirip, satu untuk Sri Lanka, satu untuk Sumatra.

Buya Hamka tidak serta-merta mengambil kesimpulan gegabah. Ia dengan tegas menyatakan, “Kita salinkan segala riwayat ini, sudahlah nyata bahwa kita tidak berpegang kepada salah satu daripadanya... sehingga penafsir ini bisa pula berbangga bahwa asal seluruh manusia yang ada di atas dunia ini adalah dari Pulau Sumatra... semuanya itu tidaklah ada sebuah juga yang dapat dipertanggungjawabkan menurut bahan-bahan sejarah.”

Pernyataan ini penting. Buya Hamka mengakui adanya pendapat yang menarik, tapi beliau tidak membiarkan kebanggaan lokal mengalahkan metodologi ilmiah. Tidak satu pun riwayat ini, tegas Buya, yang dikuatkan oleh hadis sahih.

Baca juga: Nabi Ibrahim dan Keabadian Nama di Tengah Budaya Viral

Ada data lain yang tidak sempat Buya Hamka muat dalam tafsirnya, yang justru membuka perspektif baru tentang hubungan Nusantara dengan dunia Islam pada masa sangat awal.

Dalam kitab ‘Ajāib al-Hind, karya Buzurg bin Syahriyar Ramahurmuz, seorang nahkoda Persia abad ke-10, tercatat sebuah kisah menarik.

Diceritakan bahwa ketika berita kemunculan Nabi Muhammad SAW terdengar, masyarakat Serendib mengirim seorang utusan cerdas ke Madinah. Utusan ini tiba setelah Nabi wafat, dan bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab.

Setelah berdialog dan merasa puas, utusan itu kembali, namun wafat di perjalanan. Asistennya yang juga orang Serendib-lah yang berhasil pulang dan menceritakan pengalamannya, yang kemudian menginspirasi masyarakat dan rajanya untuk mencintai Islam.

Jika kita menerima tesis bahwa Serendib ialah Swarnadwipa yang tak lain Sumatra, maka kisah ini mengandung implikasi luar biasa, proses kontak awal Nusantara dengan Islam bisa terjadi pada abad ke-7, jauh sebelum abad ke-13 yang selama ini diajarkan di buku-buku sejarah.

Bahkan, sebagaimana dikomentari Idris Masudi dalam Jurnal Islam Nusantara (Vol. 1 No. 1, 2020), cerita ini menyiratkan bahwa masyarakat Nusantara-lah yang datang lebih dulu ke pusat Islam, bukan sebaliknya. Teori ini menguatkan temuan S.Q. Fatimi tentang dua surat Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang termuat dalam kitab Al-Hayawan karya Al-Jahiz.

Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global

Mengapa cerita-cerita tentang lokasi turunnya Adam dan makam Hawa begitu populer? Buya Hamka menyaksikan sendiri bukti fisiknya.

“Dahulu kalau kita naik haji, seorang penunjuk jalan akan membawa kita ziarah ke kuburan yang dinamai kuburan Siti Hawa di Jeddah itu; panjangnya sampai seperempat kilometer atau lebih. Di Ceylon pun kita bisa dibawa orang ke atas puncak gunung yang dinamai Talapak Nabi Adam,” tulis Buya.

Makam Hawa di Jeddah benar-benar pernah ada. Foto-foto dari tahun 1894 (masa Ottoman) menunjukkan sebuah bangunan panjang yang menurut Konsul Inggris SR Jordan mencapai 200 yard (hampir 200 meter).

Penjelajah Richard Francis Burton bahkan membuat denah makam tersebut. Makam ini akhirnya dihancurkan pada tahun 1928 oleh Pangeran Faisal, dan lokasinya ditutup beton pada tahun 1975.

Di Sri Lanka, Puncak Adam (Adam’s Peak) hingga kini menjadi tempat ziarah lintas agama: bagi Buddha disebut tapak kaki Buddha, bagi Hindu dianggap tapak kaki Siwa, bagi Muslim diyakini tapak kaki Adam.

Menurut Buya Hamka, semua ini adalah “cerita bagus-bagus untuk khayal”. Bukan berarti beliau anti-mitos atau anti-tradisi. Ia hanya ingin membedakan antara cerita penguat iman dan fakta sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan.

Baca juga: Al-Muzzammil: Misteri di Balik Sapaan “Orang Berselimut” pada Nabi

Di sini adalah pelajaran besar dari Buya Hamka, yaitu tentang keberanian intelektual. Di tengah zamannya (tafsir ini ditulis pada 1960-an), tidak banyak ulama yang berani mengatakan bahwa riwayat populer yang sudah disuntingkan pada setengah tafsir itu tidak memiliki sandaran yang kuat. Ia tetap menghormati para pendahulu; ia mengutip pendapat mereka, tapi ia juga kritis. Buya Hamka menolak latah.

“Semuanya ini adalah cerita bagus-bagus untuk khayal, tetapi akal yang terlatih di bawah bimbingan Alquran dan hadis Rasulullah tidaklah akan dapat menelan saja cerita-cerita semacam ini,” ungkapnya.

Perdebatan tentang Pulau Serendib mengajarkan kita satu hal, bahwa jejak sejarah Nusantara dalam peradaban Islam mungkin jauh lebih panjang dan lebih aktif daripada yang selama ini kita kira. Sejarah Nusantara bukanlah sekadar penerima, melainkan pencari. Bukan sekadar wilayah yang didatangi, tapi wilayah yang berlayar dan menaklukkan samudra.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.