Buya Hamka dan Kisah Pulau Serendib
Oleh: Fathurrochman Karyadi, M.A
Filolog, Penulis Novel “Ziarah” (2025), dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Para ulama klasik tidak sepakat tentang lokasi turunnya Nabi Adam ke bumi. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, jilid pertama, halaman 146, menarasikan semua versi yang beredar.
Pertama, riwayat dari Ibnu Abi Hatim yang diterima
dari Abdullah bin Umar bahwa Adam turun di Bukit Shafa, Hawa di Bukit Marwa.
Tapi ada riwayat lain yang mengatakan bahwa Adam turun di antara Makkah dan Thaif.
Kedua, riwayat dari Ibnu Abbas yang dikutip Ibnu
Asakir menyatakan bahwa Adam turun di Hindustan (India), sementara Hawa turun di Jeddah.
Dari sini lalu muncul keyakinan bahwa nama Jeddah (Jiddah) berarti “nenek” yang merujuk pada makam Siti Hawa yang konon ada di kota itu.
Ketiga, dan yang paling menarik perhatian Buya Hamka, adalah riwayat yang mengatakan bahwa Adam turun bukan di Makkah, bukan di India, melainkan di “Pulau Serendib”. Lalu, di manakah Pulau Serendib?
Baca juga: Surat Cinta Spiritual dari Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Karaeng Karunrung
Buya Hamka mengutip
surat-surat Syekh Yusuf Tajul Khalwati, ulama besar Makassar yang diasingkan
Belanda ke Sailan (Ceylon, sekarang Sri Lanka) pada akhir abad ke-17.
Berkaitan dengan surat
Syekh Yusuf kepada murid-muridnya di Makassar dan Banten, Buya Hamka menyalinnya:
“Saya bersyukur karena di pulau pengasingan ini, Pulau Serendib, tempat
turunnya nenek kita Nabi Adam, dan saya masih dapat beribadah kepada Tuhan.”
Bagi Syekh Yusuf dan
masyarakat muslim abad ke-17, Serendib ialah Ceylon yang tak lain kini Sri
Lanka. Keyakinan ini begitu kuat sehingga hingga kini, di puncak gunung
tertinggi Sri Lanka (Adam’s Peak, 2.243 meter), terdapat cekungan batu
sepanjang 1,8 meter yang diyakini sebagai tapak kaki Nabi Adam.
Buya Hamka tidak
berhenti di situ. Kemudian ia melanjutkan salinan surat Syekh Yusuf, “Akan
tetapi, dalam penyelidikan ahli-ahli terakhir menunjukkan bukti-bukti pula
bahwa Pulau Serendib bukanlah Ceylon, melainkan Pulau Sumatra.”
Lalu mengapa para ahli
berkesimpulan demikian? Buya Hamka menjelaskan bahwa nama Serendib adalah
bahasa Sanskerta yang ditulis dengan huruf Arab. Aslinya ialah Pulau
Swarnadwipa, yaitu nama Sumatra di zaman dahulu. Sebagian juga ada yang
menyebutnya Jawadwipa, nama dari Pulau Jawa.
Swarnadwipa, Pulau Emas, adalah nama yang disebut dalam epos Ramayana untuk merujuk pada suatu wilayah di Nusantara yang kaya akan emas. Dalam tradisi Sanskerta, Swarnadwipa memang merujuk pada Pulau Sumatra.
Baca juga: Menggagas Repositori Intelektualisme Muslim Nusantara
Peneliti Keram
Kevonian, dalam tulisannya yang dikutip dalam buku Lobu Tua: Sejarah Awal
Barus (ed. Claude Guillot, Yayasan Obor, 2015), memperkuat dugaan ini.
Kevonian meneliti
sumber-sumber Armenia kuno, di mana nama Serendib (Serendib) ditulis sebagai
Oske Getin atau Oskegetin, yang dalam bahasa Sansekerta berarti Suvarnabhumi
(Bumi Emas), sebanding dengan Suvarnadvipa (Pulau Emas). Kesimpulannya, telah
terjadi kekeliruan di masa lalu antara dua istilah Arab yang mirip, satu untuk
Sri Lanka, satu untuk Sumatra.
Buya Hamka tidak
serta-merta mengambil kesimpulan gegabah. Ia dengan tegas menyatakan, “Kita
salinkan segala riwayat ini, sudahlah nyata bahwa kita tidak berpegang kepada
salah satu daripadanya... sehingga penafsir ini bisa pula berbangga bahwa asal
seluruh manusia yang ada di atas dunia ini adalah dari Pulau Sumatra...
semuanya itu tidaklah ada sebuah juga yang dapat dipertanggungjawabkan menurut
bahan-bahan sejarah.”
Pernyataan ini penting. Buya Hamka mengakui adanya pendapat yang menarik, tapi beliau tidak membiarkan kebanggaan lokal mengalahkan metodologi ilmiah. Tidak satu pun riwayat ini, tegas Buya, yang dikuatkan oleh hadis sahih.
Baca juga: Nabi Ibrahim dan Keabadian Nama di Tengah Budaya Viral
Ada data lain yang
tidak sempat Buya Hamka muat dalam tafsirnya, yang justru membuka perspektif
baru tentang hubungan Nusantara dengan dunia Islam pada masa sangat awal.
Dalam kitab ‘Ajāib
al-Hind, karya Buzurg bin Syahriyar Ramahurmuz, seorang nahkoda Persia abad
ke-10, tercatat sebuah kisah menarik.
Diceritakan bahwa
ketika berita kemunculan Nabi Muhammad SAW terdengar, masyarakat Serendib
mengirim seorang utusan cerdas ke Madinah. Utusan ini tiba setelah Nabi wafat,
dan bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab.
Setelah berdialog dan
merasa puas, utusan itu kembali, namun wafat di perjalanan. Asistennya yang
juga orang Serendib-lah yang berhasil pulang dan menceritakan pengalamannya,
yang kemudian menginspirasi masyarakat dan rajanya untuk mencintai Islam.
Jika kita menerima
tesis bahwa Serendib ialah Swarnadwipa yang tak lain Sumatra, maka kisah ini
mengandung implikasi luar biasa, proses kontak awal Nusantara dengan Islam bisa
terjadi pada abad ke-7, jauh sebelum abad ke-13 yang selama ini diajarkan di
buku-buku sejarah.
Bahkan, sebagaimana dikomentari Idris Masudi dalam Jurnal Islam Nusantara (Vol. 1 No. 1, 2020), cerita ini menyiratkan bahwa masyarakat Nusantara-lah yang datang lebih dulu ke pusat Islam, bukan sebaliknya. Teori ini menguatkan temuan S.Q. Fatimi tentang dua surat Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang termuat dalam kitab Al-Hayawan karya Al-Jahiz.
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Mengapa cerita-cerita
tentang lokasi turunnya Adam dan makam Hawa begitu populer? Buya Hamka
menyaksikan sendiri bukti fisiknya.
“Dahulu kalau kita
naik haji, seorang penunjuk jalan akan membawa kita ziarah ke kuburan yang
dinamai kuburan Siti Hawa di Jeddah itu; panjangnya sampai seperempat kilometer
atau lebih. Di Ceylon pun kita bisa dibawa orang ke atas puncak gunung yang
dinamai Talapak Nabi Adam,” tulis Buya.
Makam Hawa di Jeddah
benar-benar pernah ada. Foto-foto dari tahun 1894 (masa Ottoman) menunjukkan
sebuah bangunan panjang yang menurut Konsul Inggris SR Jordan mencapai 200 yard
(hampir 200 meter).
Penjelajah Richard
Francis Burton bahkan membuat denah makam tersebut. Makam ini akhirnya
dihancurkan pada tahun 1928 oleh Pangeran Faisal, dan lokasinya ditutup beton
pada tahun 1975.
Di Sri Lanka, Puncak
Adam (Adam’s Peak) hingga kini menjadi tempat ziarah lintas agama: bagi Buddha
disebut tapak kaki Buddha, bagi Hindu dianggap tapak kaki Siwa, bagi Muslim diyakini
tapak kaki Adam.
Menurut Buya Hamka, semua ini adalah “cerita bagus-bagus untuk khayal”. Bukan berarti beliau anti-mitos atau anti-tradisi. Ia hanya ingin membedakan antara cerita penguat iman dan fakta sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan.
Baca juga: Al-Muzzammil: Misteri di Balik Sapaan “Orang Berselimut” pada Nabi
Di sini adalah pelajaran
besar dari Buya Hamka, yaitu tentang keberanian intelektual. Di tengah zamannya
(tafsir ini ditulis pada 1960-an), tidak banyak ulama yang berani mengatakan
bahwa riwayat populer yang sudah disuntingkan pada setengah tafsir itu tidak
memiliki sandaran yang kuat. Ia tetap menghormati para pendahulu; ia mengutip pendapat mereka, tapi ia juga kritis. Buya Hamka menolak latah.
“Semuanya ini adalah
cerita bagus-bagus untuk khayal, tetapi akal yang terlatih di bawah bimbingan
Alquran dan hadis Rasulullah tidaklah akan dapat menelan saja cerita-cerita
semacam ini,” ungkapnya.
Perdebatan tentang Pulau Serendib mengajarkan kita satu hal, bahwa jejak sejarah Nusantara dalam peradaban Islam mungkin jauh lebih panjang dan lebih aktif daripada yang selama ini kita kira. Sejarah Nusantara bukanlah sekadar penerima, melainkan pencari. Bukan sekadar wilayah yang didatangi, tapi wilayah yang berlayar dan menaklukkan samudra.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.