Lewati ke konten utama
Sabtu, 26 September 2026 / 14 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
IGIC 2026
Pembukaan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung pada 25–28 September 2026 di Jakarta. Foto: Istimewa
Berita

Usung Formula Bhinneka Tunggal Ika, IGIC 2026 Posisikan Indonesia Aktor Utama Perdamaian Dunia

Usung Formula Bhinneka Tunggal Ika, IGIC 2026 Posisikan Indonesia Aktor Utama Perdamaian Dunia

/ 14 Rabiul Akhir 1448 H 3 menit baca 67 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Indonesia menyatakan posisinya sebagai kiblat harmoni dan laboratorium Islam moderat dunia melalui gelaran International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung pada 25–28 September 2026 di Jakarta. 

Forum tingkat tinggi berskala global yang baru pertama kali diselenggarakan ini menjadi panggung diplomasi keagamaan strategis bagi Indonesia dalam memperkuat peran aktifnya di kancah internasional.

Ketua Panitia Pelaksana IGIC 2026, Irjen Pol Muhammad Sabilul Alif, menyampaikan  sebanyak 49 delegasi internasional dari 39 negara dipastikan hadir mendiskusikan peran vital kepemimpinan agama dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan dan konflik global. 

Para delegasi tersebut mencakup para Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh-tokoh agama berpengaruh dari berbagai belahan dunia.

“Hari ini telah terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara yang terdiri atas para Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia,” ujar Sabilul saat pembukaan acara di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Mengusung tema "Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace", konferensi ini bertujuan membangun pertukaran gagasan lintas negara. 

Para peserta diajak membedah peran strategis masjid dalam membangun harmoni, memperkuat diplomasi keagamaan, mengikis ketegangan global, hingga mengoptimalkan potensi ekonomi kemasjidan.

Dalam keterangannya di Kompleks Masjid Istiqlal, Sabilul Alif menggarisbawahi bahwa kekuatan utama diplomasi Indonesia terletak pada rekam jejak historisnya dalam mengelola keberagaman. 

Dia mengatkan, formula toleransi yang dimiliki Indonesia dinilai menjadi solusi konkret di tengah maraknya konflik dunia yang berbasis identitas atau agama.

Dia menyebut, ini adalah bagian dari ikhtiar Indonesia menjadi aktor bagi perdamaian dunia. Langkah ini selaras dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia. 

“Kita akan menyuarakan bahwa Indonesia ini sudah mampu mengawal unity in diversity, Bhinneka Tunggal Ika, dan pluralisme. Formula harmoni inilah yang nanti kita akan 'jual' dan bagikan kepada dunia," kata dia. 

Pernyataan tersebut didukung oleh hasil riset akademisi Boston University, Prof Robert Hefner. Selama 40 tahun meneliti dinamika Islam dan demokrasi, Hefner menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan laboratorium terbaik dunia untuk mempelajari praktik Islam moderat yang dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan sistem demokrasi modern.

Tidak berhenti pada dialog formal semata, IGIC 2026 dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang. Panitia telah menyusun roadmap strategis periode 2026–2030 yang mencakup penguatan kapasitas SDM para imam serta program pertukaran dan pengiriman imam-imam moderat asal Indonesia ke mancanegara.

Selain itu, gelaran internasional ini ditargetkan mampu melahirkan kesepakatan sejarah bertajuk Jakarta Understanding. Dokumen ini mengusung gagasan "Masjid Harmoni" guna mengembalikan fungsi masjid tidak sekadar sebagai rumah ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat peradaban, kemanusiaan, dan episentrum perdamaian dunia.

Langkah ini sekaligus mempertegas kesiapan Indonesia menyongsong visi Indonesia Emas 2045 sebagai negara yang berdaulat, berpengaruh, dan berkontribusi nyata bagi peradaban global.

BAGIKAN: