Lewati ke konten utama
Selasa, 27 Oktober 2026 / 16 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Pemuda AS
Ebru Ahmed. Foto: Istimewa
Berita

Terinspirasi Ayat Alquran , Pemuda Muslim di AS Nekat Selamatkan 19 Siswa dari Bus Tak Terkendali

Terinspirasi Ayat Alquran , Pemuda Muslim di AS Nekat Selamatkan 19 Siswa dari Bus Tak Terkendali

/ 16 Jumadil Awal 1448 H 5 menit baca 124 dibaca

Saint Paul, MUI Digital—Dalam detik-detik menegangkan, Ebru Ahmed, pemuda Amerika Serikat berusia 27 tahun, menjadi pahlawan setelah mempertaruhkan nyawanya dengan melompat ke dalam bus sekolah yang melaju tak terkendali di Kota Saint Paul, Negara Bagian Minnesota, Amerika Serikat. 

Insiden itu terjadi setelah sopir bus mengalami keadaan darurat medis. Ahmed berhasil menghentikan bus dan menyelamatkan 19 siswa yang berada di dalamnya, tanpa ada korban luka di antara penumpang maupun orang-orang yang berada di sekitar lokasi.

Namun, hal yang mendorong Ahmed untuk bertindak bukan sekadar refleks cepat ketika menghadapi situasi berbahaya. 

Ia juga teringat pada bagian dari ayat Alquran  yang menegaskan betapa agungnya nilai menyelamatkan nyawa manusia. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS Al-Ma’idah [5]: 32). 

Dalam wawancara dengan surat kabar Inggris The Guardian, Ahmed mengatakan ayat tersebut terlintas dalam pikirannya ketika memutuskan untuk bertindak. 

Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak melakukan tindakan itu demi mencari ketenaran atau keuntungan pribadi, melainkan berangkat dari prinsip pengorbanan demi orang lain.

“Saya orang yang menyukai angka, dan angka-angka ini masuk akal bagi saya,” katanya, merujuk pada makna ayat tersebut mengenai besarnya nilai menyelamatkan satu nyawa manusia. Ia kemudian menegaskan, “Saya tidak melakukan ini untuk diri saya sendiri, tetapi tindakan ini lahir dari sikap mengutamakan orang lain demi Allah.”

Peristiwa itu terjadi pada Senin, 19 Oktober 2026, di depan toko milik keluarganya tempat Ahmed bekerja, di kawasan Dayton’s Bluff, Kota Saint Paul.

Saat itu, Ahmed sedang beristirahat di luar toko. Ia bermain sepak bola dengan menendang-nendang bola sambil melihat ponselnya. 

Tiba-tiba, ia melihat sebuah bus sekolah berwarna kuning melintas di depannya dengan pintu terbuka dan lampu peringatan menyala.

Tak lama kemudian, ia menyadari bahwa sopir bus tampak mengalami kondisi medis yang serius. Ahmed melihat busa keluar dari mulut sang sopir dan menduga bahwa ia mungkin mengalami kejang.

Ahmed tidak berpikir panjang. Ia berlari menuju bus dan melompat masuk, sementara anak-anak di dalamnya berteriak karena tidak memahami apa yang sedang terjadi.

Ia melemparkan ponsel dan kacamatanya ke arah dua anak perempuan yang berada di bagian depan agar kedua tangannya bebas dan ia bisa menangani situasi tersebut.

Awalnya, Ahmed berusaha mencari tahu cara menghentikan bus. Namun, ia belum pernah mengemudikan bus jenis itu sebelumnya. 

Ia mengaku sempat keliru membedakan posisi gigi mundur dan posisi berhenti sehingga kendaraan justru bergerak mundur.

Setelah menyadari kesalahannya, ia memindahkan tuas transmisi ke posisi netral dan menarik rem darurat.

Dengan cara itu, Ahmed akhirnya berhasil menghentikan bus. Setelahnya, ia meminta salah seorang anak untuk menghubungi layanan darurat.

Pihak pengelola Sekolah Umum Saint Paul membenarkan bahwa telah terjadi keadaan darurat medis di dalam bus. 

Mereka menjelaskan bahwa petugas medis datang ke lokasi dan sebuah bus pengganti tiba untuk mengangkut para siswa serta melanjutkan perjalanan mengantar mereka pulang.

Pihak sekolah juga menyampaikan bahwa sopir bus dibawa ke rumah sakit. Setelah itu, ia diperbolehkan meninggalkan rumah sakit untuk melanjutkan pemulihan di rumah.

Selain ayat Alquran , Ahmed menyebut ada faktor lain yang membantunya tetap tenang dalam situasi tersebut, yakni kebiasaannya menonton serial medis populer asal Amerika Serikat, Grey’s Anatomy.

Menurutnya, serial itu mengajarkan pentingnya menjaga ketenangan dan berpikir jernih ketika menghadapi situasi luar biasa. 

Melihat para dokter menangani keadaan darurat tanpa panik membuatnya menyadari perlunya tetap tenang dan berpikir logis, alih-alih menyerah pada rasa takut.

Dalam pernyataan yang dikutip sejumlah media Amerika Serikat, Ahmed mengatakan dirinya sempat ragu sesaat ketika melihat bus tersebut. 

Namun, situasi yang dihadapinya begitu berbahaya sehingga ia merasa tidak mungkin hanya berdiri dan menjadi penonton.

“Saya benar-benar merasa bahwa itu adalah kewajiban saya. Kita sedang berbicara tentang anak-anak, Anda tahu. Bahkan jika saya meninggal, tindakan itu tetap sepadan,” ujarnya.

Meski demikian, Ahmed tidak menggambarkan dirinya sebagai sosok yang luar biasa. Ia justru meyakini bahwa siapa pun yang berada dalam keadaan serupa akan berusaha melakukan hal yang sama.

Bagi Ahmed, makna peristiwa tersebut tidak berhenti pada keberhasilan menyelamatkan anak-anak. Pemuda yang lahir di Amerika Serikat dari pasangan imigran asal Eritrea itu menilai kejadian tersebut memberinya kesempatan untuk menghadirkan citra positif bagi komunitasnya.

Ia menceritakan kesulitan yang dihadapi keluarganya dalam mengelola toko kecil milik mereka. Menurutnya, aktivitas bisnis mengalami penurunan setelah otoritas imigrasi federal meningkatkan operasi di Saint Paul dan Minneapolis dalam rangka kampanye deportasi pemerintahan Presiden Donald Trump yang diberi nama “Operation Metro”.

Aksi Ahmed mendapat apresiasi luas. Ia menerima sejumlah bentuk penghargaan, termasuk sumbangan sebesar 1.000 dolar AS dari sebuah perusahaan lokal yang bergerak di bidang pemasaran dan media. 

Penyerahan sumbangan itu disertai kunjungan seseorang yang mengenakan kostum karakter Superman dan memberikan cek simbolis kepadanya.

Ahmed juga mengatakan bahwa dirinya menerima ucapan selamat dari salah seorang anggota dewan kota dan undangan untuk berpartisipasi dalam sebuah seminar. 

Sejumlah kerabat turut menghubunginya setelah kisah tersebut tersebar, termasuk seorang pamannya yang tinggal di Eropa.

Namun, menurut Ahmed, hal yang paling membahagiakannya adalah ketika kisah tersebut menyebar di kalangan komunitas diaspora Eritrea. 

Hal itu menumbuhkan perasaan bangga dan memperkuat rasa kebersamaannya dengan komunitas tersebut.

Kisah Ebru Ahmed memperlihatkan pertemuan antara ketanggapan menghadapi keadaan darurat dan nilai-nilai kemanusiaan yang mengajarkan pentingnya melindungi kehidupan serta membantu sesama. 

Hanya dalam hitungan detik, seorang pemuda yang sedang beristirahat di depan toko keluarganya beralih ke tengah situasi yang sangat berbahaya dan berhasil menghentikan bus yang membawa anak-anak sebelum terjadi bencana.

Ahmed tidak hanya mengingat ayat Alquran  yang menegaskan besarnya nilai menyelamatkan nyawa manusia, tetapi juga menyebut pelajaran yang diperolehnya dari sebuah serial televisi. Kisah ini memperlihatkan perpaduan antara dorongan keimanan dan kemampuan mengambil tindakan di bawah tekanan.

“Saya tidak melakukan ini untuk diri saya sendiri.” Kalimat tersebut merangkum inti peristiwa itu menurut Ahmed: nilai menyelamatkan nyawa seseorang tidak diukur dari penghargaan yang diperoleh orang yang menolong, melainkan dari penderitaan dan kehilangan yang berhasil dicegah.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads