Lewati ke konten utama
Senin, 26 Oktober 2026 / 15 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Asrorun Ni'am Sholeh
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh. Foto: Alwi/ MUI Digital
Berita

Hikmah Prof Niam: Durhaka kepada Orang Tua adalah Dosa yang Disegerakan Azabnya

Hikmah Prof Niam: Durhaka kepada Orang Tua adalah Dosa yang Disegerakan Azabnya

/ 15 Jumadil Awal 1448 H 3 menit baca 63 dibaca
Jakarta, MUI Digital--Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, menyampaikan pesan mengenai kemuliaan dan keutamaan berbakti kepada orang tua. 

Dalam pengajian rutin mingguan membedah Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren An-Nahdlah secara hibrida, Prof Niam mengingatkan para santri dan jamaah tentang bahaya besar dari perbuatan durhaka kepada orang tua (uququl walidain).

Di hadapan para santri yang hadir secara langsung serta ribuan jamaah dari berbagai pelosok Indonesia melalui Zoom pada Sabtu pagi, Prof Niam menegaskan bahwa durhaka kepada orang tua merupakan salah satu dosa besar yang ancamannya sangat serius. 

Berbeda dengan maksiat lain yang balasannya terkadang ditangguhkan hingga hari kiamat, Guru Besar Bidang Ilmu Fikih UIN Jakarta ini menjelaskan bahwa dosa durhaka kepada orang tua adalah jenis dosa yang azabnya kerap disegerakan oleh Allah SWT di dunia.


​"Durhaka kepada orang tua ini bagian dari dosa besar yang azabnya dipercepat dan disegerakan, enggak nunggu nanti di akhirat, enggak nunggu nanti di alam kubur, tapi pada saat di dunia," ujar Prof Niam dikutip MUI Digital, Senin (26/10/2026). 

Lebih lanjut, Prof Niam menjelaskan bahwa fenomena tersebut dapat disaksikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Prof Niam mengungkapkan bahwa anak-anak yang kerap menentang atau menyakiti hati orang tuanya sering kali mendapati hidup mereka diliputi kesusahan, kegelisahan, dan ketidaktenangan.

Oleh karena itu, Prof Niam mengibaratkan orang tua sebagai "jimat" kehidupan yang harus senantiasa dijaga, dihormati, dan ditaati selama arahannya tidak bertentangan dengan ajaran agama. 


Dalam kesempatan yang sama, Prof Niam juga membagikan kisah personal ketika kehilangan sang ibunda tercinta, yakni Hj Hamdiyah binti KH Mahfudh, pada Sabtu (17/10/2026) sekitar pukul 15.30 WIB.

Prof Niam merefleksikan bahwa kehilangan orang tua adalah momentum besar bagi anak-anak untuk menyadari betapa berharganya keberadaan mereka di dunia. Bagi mereka yang orang tuanya telah tiada, doa dan permohonan ampun menjadi kewajiban yang harus terus dikirimkan.

Sementara bagi mereka yang orang tuanya masih ada, tegas Prof Niam, momentum tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendulang ridha Allah SWT. 

​"Sering saya ceritakan di dalam berbagai kesempatan, salah satu pintu untuk memperoleh ridhanya Allah ya ridanya kedua orang tua. Itu hadisnya jelas: Ridallahu fi ridal walidain. Rida Allah itu tergantung rida orang tua," tegasnya.

Prof Niam juga menyoroti kepekaan dan ketajaman intuisi orang tua yang lahir dari kedekatan mereka kepada Allah SWT serta pengalaman hidup yang panjang. Sering kali anak-anak merasa diri mereka sudah dewasa dan menganggap nasihat orang tua sebagai bentuk kekangan. Padahal, di balik arahan tersebut terdapat ketajaman batin yang tulus demi kebaikan sang anak.

Oleh karena itu, Prof Niam berpesan kepada umat agar senantiasa meluangkan waktu untuk berbakti, memperbanyak komunikasi, serta memohon doa restu kepada orang tua maupun kepada orang-orang sholeh. 

Menurutnya, doa dari orang-orang yang memiliki kedekatan dengan Allah diibaratkan sebagai doa yang menembus langit dan menjadi jalan kemudahan dalam menuntut ilmu maupun menjalani kehidupan. 
Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads