Ratusan Ribu Umat Muslim Beribadah di Al-Aqsa dengan Penuh Haru
Dhea Oktaviana
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Setelah ditutup selama 40 hari imbas konflik peperangan AS-Israel dengan Iran, akhirnya ribuan umat Islam kembali diperbolehkan memasuki kompleks Masjid Al Aqsa.
Berdasarkan video yang diverifikasi oleh Aljazeera, dikutip MUI Digital, Jumat (10/4/2026-03-01 ), pintu-pintu masjid mulai dibuka kembali bagi seluruh jamaah tepat pada waktu Subuh.
Dalam video tersebut terlihat warga berbondong-bondong memasuki gerbang Masjid Al Aqsa dengan sangat antusias.
Diketahui, penutupan akses rumah ibadah diberlakukan oleh otoritas Israel sejak 28 Februari bertepatan dengan dimulainya aksi militer bersama antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Selama periode tersebut, akses ke berbagai srumah ibadah baik bagi umat Muslim, Kristen, maupun Yahudi dibatasi hanya untuk beberapa jamaah, bahkan hingga ditutup. Israel sering memberlakukan pembatasan, terutama terhadap jamaah Palestina.
Berdasarkan laporan koresponden Anadolu dari lokasi kejadian pihaknya menggambarkan bahwa suasana saat ini menjadi sangat emosional. Saat pintu-pintu masjid telah terbuka, ribuan jamaah yang telah menunggu sejak dini hari berbondong-bondong memasuki kompleks masjid.
Sekitar 3.000 jamaah tercatat mengantre untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Dilaporkan pula bahwa banyak jamaah yang tampak tidak kuasa menahan haru hingga meneteskan air mata.
Sementara itu, 100 ribu jamaah melaksanakan shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa, setelah lima pekan jamaah dilarang masuk ke sana, termasuk pada hari Jumat.
Jamaah dari Kota Yerusalem yang diduduki dan wilayah 1948 berdatangan ke masjid tersebut, di mana konvoi yang diorganisir oleh para relawan mulai tiba di Yerusalem sejak dini hari.
Khateeb Masjid Al-Aqsa, Syeikh Muhammad Salim, mendesak jamaah untuk berakhlak lurus, mematuhi perintah Allah, dan berupaya menegakkan agama-Nya, sambil memperingatkan konsekuensi jika umat melanggar perintah tersebut.
Ia juga mengajak mereka untuk berbelanja di Kota Tua Yerusalem, mengingat para pedagang di sana mengalami tekanan dan blokade akibat larangan masuk bagi penduduk ke kota tersebut selama penutupan bersama Masjid Al-Aqsa.
Bertepatan dengan serangan Amerika-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, otoritas pendudukan menutup Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem dengan dalih keadaan darurat yang diumumkan dari front dalam negeri, sebelum membukanya kembali pada dini hari Kamis setelah pengumuman gencatan senjata selama dua pekan.
Selama periode penutupan, pasukan pendudukan melarang pelaksanaan salat tarawih pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, termasuk malam Lailatul Qadar, serta shalat Idul Fitri dan shalat Jumat.
Meski demikian, pihak otoritas belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai prosedur keamanan baru atau jaminan keberlanjutan akses tersebut di tengah situasi regional yang masih dinamis.
Disamping itu, pihak kepolisian Israel menyatakan bahwa pembukaan kembali situs-situs suci lintas agama ini dilakukan menyusul adanya pembaruan instruksi dari Kementerian Dalam Negeri Israel,
Meski akses telah dibuka, pihak berwenang menegaskan bahwa pengamanan akan ditingkatkan secara signifikan.
Ratusan petugas polisi dan personel penjaga perbatasan telah dikerahkan untuk bersiaga di sepanjang jalan utama dengan tujuan untuk keamanan pengunjung.