Rahasia Al-Hamidiyah Bisa Tetap Eksis Sebagai Pondok Pesantren di Perkotaan
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital- Pondok pesantren (ponpes) sebagai lembaga pendidikan Islam dapat ditemukan di berbagai lokasi di Indonesia, namun konsentrasinya cenderung berada di pedesaan atau di lingkungan yang lebih tenang dan terpencil.
Kehadiran ponpes sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia memiliki peranan yang sangat penting dalam mendidik generasi bangsa ini untuk mendalami ilmu agama Islam secara mendalam dan membentuk karakter mulia (akhlakul karimah).
Ponpes dapat ditemukan juga di daerah perkotaan, sebagaimana salah satu ponpes di Kota Depok, Jawa Barat, yakni Al-Hamidiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Sjaichu pada 1988.
Ponpes yang telah berusia 37 tahun ini masih tetap eksis sebagai salah satu ponpes yang lokasinya berada di perkotaan. Sejak didirikan, konsep pendidikan dalam ponpes ini menggabungkan antara pesantren tradisional dan pendidikan formal dibuktikan dengan adanya MTs dan MA.
Hal ini sebagaimana yang diungkap oleh Pengasuh Ponpes Al-Hamidiyah Prof KH Oman Fathurrahman dalam sebuah tayangan yang dikutip MUI Digital, Senin (29/12/2025).
Simak lengkapnya di link berikut: MUITV
Prof Oman, sapaan akrabnya, mengungkapkan rahasia Ponpes Al-Hamidiyah masih tetap eksis sebagai ponpes yang lokasinya berada di perkotaan karena mampu beradabtasi dan berinovasi, serta nilai-nilai lama yang bisa dipertahankan.
Prof Oman menjelaskan Ponpes Al-Hamidiyah menerapkan pendekatan salafiyah asriyah yaitu mengintegrasikan metode dan kurikulum pesantren salafiyah tradisional dengan pendekatan modern (asriyah).
"Salafiyah itu salaf, tradisional, maksudnya mempelajari kitab kuning dan klasik. Asriyah modern yaitu mempelajari apa yang dibutuhkan oleh masyarakat perkotaan," kata Prof Oman.
Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menerangkan pendidikan di ponpes juga mengajarkan tentang hidup bersama.
Penekanan dalam ajaran hidup bersama ini untuk melindungi para santri dari pergaulan bebas, khususnya yang suka terjadi di perkotaan.
*Etika Diatas Ilmu*
Santri di Ponpes Al-Hamidiyah ditekankan prinsip mengenai etika yang harus berada di atas ilmu. Prinsip ini diajarkan sebagaimana pesan KH Hasyim Asy'ari dalam kitab _Adab al-Alim wal Muta'allim._
Menurutnya, pelajaran etika di atas ilmu kepada para santri sangat penting. Sebab, kepintaran seorang santri harus diimbangi dengan adab, sebagai modal penting dalam bermuamalah, termasuk bermualah di media sosial (medsos).
"Dalam mendidik santri, tidak melakukan tidak sekadar tahu, tetapi harus tau cara belajar, tidak curang, tidak sekedar angka bagus, dan adabnya terjaga," terangnya.
Alumni Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat tersebut mengakui tantangan ponpes di perkotaan jauh lebih kompleks. Ponpes Al-Hamidiyah, sebagaimana ponpes lainnya, menerapkan tata tertib, termasuk mengatur tentang penggunaan gawai bagi santri.
Jika tata tertib dilanggar, santri akan diberikan konsekuensi dengan skala ringan maupun berat sebagai wujud edukasi. Prof Oman menekankan, sejak awal para santri sudah diberi tau mengenai tata tertib dan menandatangani semacam pakta integritas.
Santri dibiasaka hidup teratur dan harus siap menerima konsekuensi apabila melanggar aturan. Ketegasan Ponpes Al-Hamidiyah dalam mendidik santrinya merujuk Qs An-Nahl ayat 125:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Prof Oman menegaskan sikap Ponpes Al-Hamidiyah harus tegas terhadap aturan syariat, tetapi harus luwes bil hikmah. Dia menjelaskan luwes bil hikmah artinya ada komunikasi strategis terhadap yang melanggar, namun tidak kaku, sehingga tidak membuat santri down. (Sadam/Azhar)