Lewati ke konten utama
Rabu, 21 Oktober 2026 / 10 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Nurjannah
President Global Women’s Coalition for Quds and Palestine (GWCQP) sekaligus Ketua KPIPA, Dr Nurjanah Hulwan dalam sesi Keynote Speech dan International Women’s Dialogue pada Forum Perempuan Iman dan Kebebasan bertema “Perempuan, Kemanusiaan dan Solidaritas Global untuk Palestina” yang diselenggarakan Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI bekerja sama dengan Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (KPRK) MUI, di Gedung MUI Pusat, Jakarta. Rabu (21/10/2026). Foto: Fitri/ MUI Digital
Berita

Presiden GWCQP Ajak Ormas Islam Perkuat Solidaritas untuk Palestina

Presiden GWCQP Ajak Ormas Islam Perkuat Solidaritas untuk Palestina

/ 10 Jumadil Awal 1448 H 4 menit baca 88 dibaca

Jakarta, MUI Digital –  President Global Women’s Coalition for Quds and Palestine (GWCQP) sekaligus Ketua KPIPA, Dr Nurjanah Hulwani, mengajak organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam untuk memperkuat solidaritas bagi Palestina melalui dakwah, edukasi, aksi kemanusiaan, dan pemanfaatan pengaruh di ruang publik.

Hal tersebut disampaikannya dalam sesi Keynote Speech dan International Women’s Dialogue pada Forum Perempuan Iman dan Kebebasan bertema “Perempuan, Kemanusiaan dan Solidaritas Global untuk Palestina” yang diselenggarakan Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI bekerja sama dengan Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (KPRK) MUI, di Gedung MUI Pusat, Jakarta. Rabu (21/10/2026)

Dalam pemaparannya, Nurjanah mengungkapkan penyesalan karena selama 20 tahun berdakwah di berbagai perkantoran, dirinya belum pernah mengangkat isu Palestina dalam ceramahnya.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat baginya tentang pentingnya meningkatkan kesadaran umat Islam terhadap kondisi Palestina, termasuk Masjid Al-Aqsa.

“Itu penyesalan saya yang paling mendalam sekali. Dan masih banyak umat Islam ini yang belum tahu yang namanya Al-Aqsa itu mana,” ujarnya.

Dia menilai, pemahaman masyarakat mengenai Masjid Al-Aqsa dan perjuangan rakyat Palestina perlu terus diperkuat agar kepedulian umat tidak berhenti pada simpati, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata.

Nurjanah juga mengapresiasi langkah MUI yang menetapkan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina pada 8 November 2023. 

Fatwa tersebut menegaskan bahwa mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina atas agresi Israel hukumnya wajib, sedangkan mendukung agresi Israel, baik secara langsung maupun tidak langsung, hukumnya haram. 

MUI juga mengimbau umat Islam untuk semaksimal mungkin menghindari transaksi dan penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israel serta mendukung penjajahan dan zionisme. 

Dia menilai fatwa tersebut memberikan dorongan bagi para aktivis Palestina dalam menyosialisasikan dukungan kepada masyarakat.

Dia menyebutkan serangan 7 Oktober 2023 membabi buta sementara pada 8 November 2023, sebulan setelah itu, MUI mengeluarkan fatwa, membantu Palestina hukumnya wajib, membantu Israel hukumnya haram, membeli produk-produk Israel adalah haram. 

“Wah, itu bagi kita yang aktivis Palestina pada saat itu, itu kayak dapat pertolongan,” ujarnya.

Dia menceritakan pengalamannya ketika seorang ibu di kampung mengingatkan orang-orang di sekitarnya agar tidak membeli produk yang diyakininya terafiliasi dengan Israel. 

Menurut Nurjanah, hal itu menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan lembaga keagamaan dapat diteruskan masyarakat menjadi tindakan sehari-hari.

“Jadi betapa hebatnya kekuatan lembaga Ibu sekalian,” katanya.

Lebih lanjut, Nurjanah menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina tidak harus selalu diwujudkan melalui penggalangan dana atau aksi demonstrasi di lokasi tertentu. 

Solidaritas juga dapat disampaikan melalui berbagai kegiatan masyarakat dan simbol dukungan yang menguatkan semangat rakyat Palestina.

“Jadi aksi itu tidak harus yang dikatakan, kita tidak hanya sekadar menggalang dana dan lainnya,” tuturnya.

Dia menjelaskan bahwa aksi solidaritas dapat menjadi pesan moral bagi rakyat Palestina bahwa mereka tidak menghadapi perjuangan sendirian. 

Karena itu, dia mendorong masyarakat dan ormas Islam untuk terus menunjukkan kepedulian melalui cara-cara yang dapat dilakukan sesuai kapasitas masing-masing.

Dalam kesempatan tersebut, Nurjanah turut menyoroti penderitaan warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak yang berada dalam tahanan. 

Dia mengingatkan bahwa persoalan Palestina bukan semata-mata isu politik, melainkan juga persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dan keberpihakan masyarakat internasional.

Nurjanah kemudian mengajak ormas Islam untuk menjadikan dukungan terhadap Palestina sebagai bagian dari gerakan dakwah, tanpa mengabaikan pembinaan umat dan perbaikan kehidupan masyarakat di dalam negeri.

“Saya selalu mengisyaratkan, ada dua mata. Satu mata untuk dalam negeri, satu mata untuk Al-Aqsa dan Palestina,” ujarnya.

Menurutnya, perjuangan mendukung Palestina perlu berjalan beriringan dengan upaya memperbaiki diri, keluarga, dan lingkungan masyarakat. 

Dia menilai, pembinaan moral dan penguatan kehidupan umat merupakan bagian penting dalam membangun gerakan solidaritas yang berkelanjutan.

Nurjanah juga mengajak para pengurus ormas untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, mulai dari harta, jabatan, hingga pengaruh di media sosial, guna memperluas dukungan bagi Palestina.

“Ketika kita mendedikasikan ormas kita untuk membebaskan Palestina, harta kita, jabatan kita, followers kita, maka Allah akan catat kita masuk dalam rombongan orang-orang yang berjihad,” ungkapnya.

Dia berharap, perempuan dan organisasi kemasyarakatan Islam dapat mengambil peran lebih besar dalam memperkuat gerakan kemanusiaan global bagi Palestina. 

Melalui dakwah, edukasi, dan aksi nyata, solidaritas tersebut diharapkan terus tumbuh dan menjadi dukungan berkelanjutan bagi perjuangan rakyat Palestina.  

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads