Lima Spirit Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Zaman Kita
Lima Spirit Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Zaman Kita
Oleh: Fathurrochman Karyadi, M.A
Filolog, Penulis Novel “Ziarah” (2025), dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Empat abad setelah kelahirannya, karya Syekh Yusuf al-Makassari (1626-1699) masih menyimpan pelajaran tentang ilmu, spiritualitas, kerendahan hati, dan cara manusia menjalani kehidupan.
Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, Direktorat Promosi Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud RI), menyelenggarakan LOKASI (Lokakarya Konten Promosi) Budaya Indonesia bertajuk “Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassari” di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Serang, Banten.
Hadir sebagai pembicara: Dr H Fadhullah, S.Ag., M.Si., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Untirta; Dr Moh Ali Fadillah, DEA, Tenaga Ahli Cagar Budaya Provinsi Banten sekaligus Dewan Pengawas Banten Heritage; dan penulis. Saya mendapat kesempatan membicarakan spiritualisme dan warisan intelektual Syekh Yusuf al-Makassari.
Dalam kesempatan tersebut, saya mengajak peserta melihat Syekh Yusuf melalui dua karya yang kami sunting dan terjemahkan bersama tim Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), yakni Mathalib as-Salikin (Tujuan Para Penempuh Jalan Spiritual) dan An-Nafhah as-Sailaniyyah (Embusan dari Sailan atau Sri Lanka). Kedua naskah tersebut merupakan koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dengan nomor A101 dan A108.
Dalam perspektif filologis, berhadapan dengan karya lama bukan sebatas membaca ulang tulisan yang sudah berusia ratusan tahun. Ada proses mengenali teks, menyuntingnya, menerjemahkan, dan memahami gagasan yang disampaikan penulisnya. Dari proses itulah kita dapat mencoba mendekati pemikiran Syekh Yusuf melalui apa yang benar-benar ia tulis.
Setidaknya, ada lima gagasan yang menarik untuk dibaca kembali. Sebagian berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sebagian menyangkut pembentukan diri dan tradisi belajar. Semuanya membuka gagasan dengan kehidupan sekarang, selama kita tidak melepaskan ajaran tersebut dari konteksnya.
Pertama, trilogi antara tauhid, ma’rifat, dan ibadah. Seolah Syekh Yusuf bertanya, mengapa kita ingin berbuah sebelum bertumbuh? Ia menulis dalam Mathalib as-Salikin:
فلا بد لك من ثلاثة أشياء توحيد ومعرفة وعبادة. فالتوحيد كشجرة والمعرفة كأغصان وأوراق والعبادة كثمرة
“Sesungguhnya engkau memerlukan tiga perkara, yakni tauhid, ma’rifat, dan ibadah. Tauhid laksana pohon, ma’rifat laksana cabang dan daunnya, sedangkan ibadah laksana buahnya.”
Analogi ini sederhana, tetapi menyimpan hubungan yang penting. Tauhid diibaratkan sebagai pohon, ma’rifat sebagai cabang dan daun, sementara ibadah menjadi buahnya. Ketiganya bukan bagian yang berdiri sendiri. Buah berkaitan dengan pohon yang menopangnya, sedangkan pertumbuhan pohon tampak melalui cabang, daun, dan buah yang dihasilkannya.
Perumpamaan tersebut dapat menjadi bahan refleksi di luar pembicaraan keagamaan. Dalam pendidikan, misalnya, kita sering menginginkan nilai bagus, gelar, atau kelulusan, tetapi tidak selalu bersedia menjalani proses belajar yang membentuk kemampuan. Dalam pekerjaan, seseorang mungkin mengejar jabatan tanpa membangun kecakapan dan tanggung jawab. Di media sosial, orang ingin segera dikenal, memperoleh pengikut, dan dianggap berhasil, meskipun kemampuan yang mendasarinya belum cukup teruji.
Tentu, tauhid dan ma’rifat dalam ajaran Syekh Yusuf tidak bisa begitu saja disamakan dengan keterampilan atau pengetahuan profesional. Perumpamaan pohon dan buahnya membantu kita memahami satu hal, yakni hasil tidak dapat dipisahkan dari dasar yang menopangnya.
Dalam kerangka spiritual Syekh Yusuf, ibadah bukan penampilan luar, melainkan pengenalan kepada Allah dan keyakinan yang menjadi dasarnya. Karena itu, ketiganya perlu dibaca sebagai satu rangkaian.
Dengan konteks ini, pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri bukan lagi, “Apa yang sudah saya hasilkan?”, tapi lebih esensial, “Apa yang sedang saya tanam, dan bagaimana saya merawat pertumbuhannya?”
Kedua, “wahdat al-wujud”. Ajaran ini menyatakan bahwa manusia tidak menjadi pusat segalanya. Salah satu gagasan tasawuf yang dibicarakan Syekh Yusuf adalah “wahdat al-wujud” atau kesatuan wujud. Ia menulis:
فالتوحيد توحيدان... التوحيد الأول وحدة الوجود... أن لا موجود في الغيب والشهادة في الصورة والمعنى في الظاهر والباطن إلا وجود واحد وذات واحد وحقيقة واحدة
“Tauhid itu ada dua. Tauhid pertama adalah waḥdat al-wujūd. Tidak ada wujud di alam gaib maupun nyata, dalam bentuk maupun makna, secara lahir maupun batin, kecuali satu wujud, satu dzat, dan satu hakikat.”
Di alinea lain, beliau juga menulis:
فأنت في عدم ولا لك من الوجود نصيب وأنت بالعدم متصف
“Maka engkau berada dalam ketiadaan dan tidak memiliki bagian dari wujud yang hakiki; engkau disifati dengan ketiadaan.”
Kutipan kedua ini perlu dibaca dengan hati-hati. Dalam ranah tasawuf, ungkapan tentang ketiadaan manusia tidak diartikan sebagai manusia tidak berguna atau tidak memiliki nilai. Ini mengarahkan perhatian kepada perbedaan antara keberadaan makhluk yang terbatas dan “wujud” Allah yang menjadi pokok pembicaraan metafisik tersebut. Penjelasan yang lebih lengkap tentu perlu mempertimbangkan konteks teks dan tradisi pemikiran yang melatarinya.
Dari sini, kita dapat menarik pelajaran tentang ego. Manusia mudah menganggap dirinya sebagai pusat perhatian, tentang apa yang dikenakan, jabatan yang dimiliki, pencapaian yang dipamerkan, atau pengakuan yang diperoleh dari orang lain. Di media sosial, kecenderungan itu menemukan pengguna yang luas. Kehidupan sehari-hari dapat berubah menjadi arena untuk membuktikan bahwa diri kita lebih berhasil, lebih berpengetahuan, atau lebih layak diperhatikan daripada orang lain.
Budaya flexing merupakan salah satu contohnya. Barang yang dimiliki, tempat yang dikunjungi, dan prestasi yang dicapai ditampilkan bukan semata-mata untuk berbagi pengalaman, melainkan terkadang untuk membangun kesan tentang keistimewaan diri.
Tentu, tidak setiap kali kita membagikan pencapaian berarti kita sedang menyombongkan diri. Persoalannya terletak pada hubungan kita dengan pengakuan tersebut, apakah kita sekadar bagian dari kehidupan, atau justru menjadi ukuran utama harga diri?
Pembacaan atas “wahdat al-wujud” dapat mengingatkan kita agar tidak menempatkan ego sebagai pusat segala sesuatu. Dalam perspektif spiritual ini, manusia perlu menyadari keterbatasannya dan tidak menganggap segala pencapaian sebagai bukti keunggulan dirinya semata.
Mungkin inilah salah satu refleksi yang relevan untuk zaman ketika kita memiliki kesempatan membangun citra diri. Kita boleh berkarya, menunjukkan kemampuan, dan merayakan keberhasilan. Akan tetapi, seolah-olah Syekh Yusuf menuturkan pelan ke kita, tidak semua hal harus menjadi ajang untuk membuktikan bahwa diri kita paling penting. Sebab, semuanya tidak ada artinya tanpa “campur tangan” Allah.
Ketiga, menulis dari pengasingan. Syekh Yusuf, dalam keterbatasan tempat, tidak membatasi pikiran. Syekh Yusuf memperkenalkan salah satu karyanya dengan kalimat:
فهذه رسالة لطيفة ومختصرة ظريفة سميتها بالنفحة السيلانية في المنحة الرحمنية كتبتها لجماعتنا من المريدين وأصحابنا من الطالبين خصوصا للمحب الصادق من الإخوان في الله
“Inilah risalah yang ringan, ringkas, dan menarik, yang saya beri nama an-Nafhah al-Sailaniyyah fi al-Minhah ar-Rahmaniyyah. Saya menuliskannya untuk kelompok kami dari kalangan murid dan sahabat yang menuntut ilmu, khususnya bagi para pecinta sejati di antara saudara-saudara karena Allah.”
Bagian ini menarik karena Syekh Yusuf menjelaskan kepada siapa risalah itu ditujukan. Ada murid, sahabat, dan para pencari ilmu yang menjadi pembacanya. Dengan demikian, tulisan tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari hubungan intelektual dan spiritual yang tetap dipelihara melalui teks.
Judul An-Nafhah as-Sailaniyyah sendiri merujuk pada Sailan, sebutan klasik yang digunakan untuk Sri Lanka. Karya ini menjadi salah satu pintu untuk membaca warisan intelektual Syekh Yusuf dalam konteks pengasingannya.
Apa yang bisa kita pelajari dari sini? Kita sering menganggap produktivitas bergantung pada keadaan yang ideal. Pekerjaan belum selesai karena fasilitas terbatas, tulisan belum dimulai karena suasana tidak mendukung, atau rencana belajar tertunda karena lingkungan tidak sesuai harapan.
Memang, keadaan dapat menjadi hambatan yang nyata. Tidak semua kesulitan bisa diatasi hanya dengan kemauan. Kisah intelektual Syekh Yusuf mengajak kita melihat bahwa keterbatasan tempat tidak selalu berarti berakhirnya kegiatan berpikir dan berkarya. Dalam tradisi keilmuan, karya dapat menjadi cara seseorang tetap berhubungan dengan murid, sahabat, dan pembaca yang berada jauh darinya.
Bagi mahasiswa, peneliti, guru, maupun penulis, hal ini layak direnungkan. Tidak setiap hari tersedia waktu yang panjang untuk bekerja. Tidak setiap gagasan langsung menjadi buku. Akan tetapi, catatan kecil yang dikerjakan secara teratur dapat berkembang menjadi karya yang bermanfaat.
Ada pula pelajaran lain bahwa menulis tidak dalam rangka untuk menunjukkan kemampuan pribadi. Dalam pengantar risalahnya, Syekh Yusuf menyebut para murid dan pencari ilmu sebagai pihak yang hendak menerima manfaat dari tulisannya.
Karya, dengan demikian, tidak berhenti pada orang yang menulisnya. Sebuah karya memperoleh kehidupan berikutnya ketika dibaca, dipelajari, dan dibicarakan kembali.
Keempat, adab berguru ialah rendah hati tanpa kehilangan pertimbangan. Dalam Mathalib as-Salikin, Syekh Yusuf memberikan nasihat tentang sikap seorang murid di hadapan guru spiritualnya:
ثم إذا وجدت الشيخ كما وصف فسلم أمرك له وكن بين يديه مسلوب الإختيار كالميت بين يدي الغاسل بقلبه كيف شاء
“Kemudian, apabila engkau telah menemukan syekh sebagaimana yang disifati, serahkanlah urusanmu kepadanya dan jadilah di hadapannya seperti orang yang kehilangan pilihan, sebagaimana mayat di hadapan orang yang memandikannya, yang digerakkan menurut kehendaknya.”
Syekh Yusuf melanjutkan:
وإياك ثم إياك أن يخطرلك عليك خاطرا اعتراض أبدا ولو رأيته انه يفعل فعلا لا يكون ذلك على وجه التقرب إلى الله تعالى حتى قال الشيخ الأكبر محيي الدين بن عربي قدس سره ولو عاينت شيخك قد فعل شيئا خالف الشرع فإن الإنسان بعد الأنبياء ليس بمعصوم
“Dan berhati-hatilah, sekali lagi berhati-hatilah, jangan sampai terlintas dalam hatimu keberatan terhadapnya, sekalipun engkau melihatnya melakukan sesuatu yang menurutmu tidak ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan Syekh al-Akbar Muhyiddin bin Arabi berkata: sekalipun engkau menyaksikan syekhmu melakukan sesuatu yang menyalahi syariat, manusia selain para nabi tidaklah ma’shum.”
Nasihat ini perlu ditempatkan dalam konteks hubungan murid dan guru spiritual dalam tradisi tasawuf. Perumpamaan yang digunakan Syekh Yusuf memang sangat kuat. Ia menuntut kesediaan murid untuk tidak terus-menerus menjadikan prasangkanya sendiri sebagai ukuran dalam proses pembinaan spiritual.
Di sisi lain, kutipan itu juga memuat batas penting, manusia selain nabi tidak ma’shum (terjaga dari dosa). Artinya, guru bukan sosok yang bebas dari kemungkinan keliru. Alm Prof Azyumardi Azra dalam disertasinya Jaringan Ulama Nusantara juga mengulas soal ini.
Kita perlu cermat dalam pembacaan bab ini. Adab bukan alasan untuk membenarkan setiap tindakan guru, terlebih jika tindakan tersebut menyakiti murid, menyalahgunakan kepercayaan, atau melanggar hukum. Kita juga tidak dapat begitu saja mengubah nasihat dalam hubungan spiritual menjadi aturan mutlak bagi semua hubungan pendidikan.
Dalam pendidikan, misalnya, murid perlu menghargai pengalaman guru, bersedia mendengarkan penjelasan, dan tidak menolak sesuatu hanya karena belum memahaminya. Penghormatan tidak meniadakan kesempatan bertanya, berdiskusi, dan menguji suatu pendapat dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebaliknya, kebebasan mengkritik juga tidak berarti semua pendapat orang lain boleh diremehkan. Ada perbedaan antara bertanya untuk memahami dan membantah demi memenangkan perdebatan.
Karena itu, pelajaran yang dapat kita tarik bukanlah kepatuhan tanpa batas, melainkan kesediaan menempatkan diri sebagai pembelajar. Kita tidak selalu harus menjadi orang yang paling menyanggah. Ada saatnya mendengarkan, memeriksa kembali pemahaman, dan memberi ruang kepada orang yang lebih berpengalaman untuk menjelaskan.
Dalam kehidupan akademik, sikap ini penting. Pengetahuan tidak sebatas pada seseorang yang berani berbicara, tetapi juga pada seseorang yang bersedia belajar dari orang lain.
Kelima, jalan menuju Allah banyak, tetapi perlu mengenali arah dan kondisinya. Syekh Yusuf menulis:
ثم إذا علمت هذا كله فاعلم أن الطريق إلى الله تعالى يكون بعدد أنفاس الخلائق وذلك كناية عما لا يمكن حصرها بسبب كثرتها وأقرب الطريق إلى الله تعالى كما قالوا ثلاثة أقسام
“Kemudian, setelah engkau mengetahui semua ini, ketahuilah bahwa jalan menuju Allah sebanyak jumlah napas makhluk. Ungkapan itu merupakan kiasan bagi sesuatu yang tidak mungkin dihitung karena begitu banyaknya. Adapun jalan yang paling dekat menuju Allah, sebagaimana dikatakan, terbagi menjadi tiga bagian.”
Kutipan tersebut menunjukkan keluasan jalan spiritual dalam pandangan Syekh Yusuf. Untuk menjelaskan tiga jalan yang dimaksud secara tepat, kita perlu membaca kelanjutan teksnya. Karena itu, saya tidak akan menetapkan nama dan urutan ketiganya hanya berdasarkan potongan kutipan ini.
Gagasan tentang banyaknya jalan menuju Allah menarik untuk direnungkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang memiliki keadaan, kemampuan, dan pengalaman yang berbeda. Ada yang belajar melalui bacaan, ada yang tumbuh melalui bimbingan guru, dan ada yang menemukan pelajaran melalui pengalaman hidup serta pengabdian kepada sesama.
Keberagaman cara belajar tidak berarti semua jalan otomatis sama atau dapat dipertukarkan. Dalam tradisi tasawuf Syekh Yusuf, jalan spiritual tetap memiliki orientasi dan ukuran yang perlu dipahami melalui ajarannya secara utuh.
Dalam konteks sekarang, dzikir dapat dibicarakan sebagai latihan mengingat Allah di tengah berbagai kesibukan. Kita hidup dalam keadaan yang banyak terdistraksi oleh banyak hal, mulai pekerjaan, pesan singkat, berita, dan arus informasi yang datang tanpa henti. Tidak jarang seseorang menyelesaikan banyak urusan, tetapi sulit memberi perhatian penuh pada apa yang sedang dikerjakannya.
Di sini, kita dapat membuat perbandingan terbatas dengan gagasan mindfulness, yakni latihan memberi perhatian pada pengalaman saat ini. Keduanya dapat bersinggungan dalam pembicaraan tentang perhatian dan kesadaran, tetapi tidak identik. Dzikir dalam tradisi Islam mempunyai orientasi ketuhanan, landasan ajaran, dan praktik ibadah yang tidak bisa direduksi menjadi teknik konsentrasi.
Maka, relevansi dzikir membuat seseorang lebih tenang atau produktif. Selain itu, dzikir mengajak kita mengingat kembali kepada siapa hidup diarahkan, apa yang sedang dikerjakan, dan bagaimana tindakan sehari-hari seharusnya dijalani.
Dalam pengertian ini, kesibukan tidak selalu harus dijauhi agar seseorang dapat menjalani kehidupan spiritual. Yang perlu diperiksa adalah bagaimana kita bekerja, belajar, berhubungan dengan orang lain, dan menjaga kesadarannya terhadap Allah di tengah kesibukan tersebut.
Kurang lebih demikian ini yang saya sampaikan dalam kesempatan kemarin. Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf al-Makassari menjadi kesempatan untuk melihat kembali warisan intelektualnya.
Mengenang seorang tokoh dan memahami pemikirannya merupakan dua pekerjaan yang berbeda. Kita dapat mengadakan seminar, mendirikan museum, menampilkan foto, dan menuliskan biografinya. Semua itu penting. Karya-karyanya membutuhkan perhatian yang tidak berhenti pada acara peringatan.
Lima gagasan yang saya ulas di atas memperlihatkan betapa luasnya pintu pembacaan terhadap karya Syekh Yusuf. Bagi generasi muda, warisan itu dapat menjadi ajakan untuk belajar lebih sungguh-sungguh, membuka diri terhadap sumber pengetahuan dari berbagai bahasa, menghargai guru tanpa berhenti berpikir, dan menghasilkan karya yang dapat dipelajari orang lain. Semua itu tidak harus dilakukan dengan meniru kehidupan Syekh Yusuf secara harfiah, melainkan dengan memahami prinsip-prinsip yang memang dapat ditarik dari karya-karyanya.
Tampaknya inilah salah satu cara terbaik memperingati Syekh Yusuf al-Makassari, membuat karya-karyanya kembali dikenal, dibaca, dan dipikirkan. Sebab, menghormati seorang ulama tidak cukup dengan mengagumi kebesarannya. Kita perlu bersedia belajar dari ilmu yang ditinggalkannya. Wallahul musta’an.