Lewati ke konten utama
Rabu, 21 Oktober 2026 / 10 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Masjid Agung Umayyah
Masjid Agung Umayyah di Aleppo, Suriah. Foto: SANA
Berita

Masjid Berusia 1.300 Tahun di Aleppo Kembali Dibuka Setelah Ditutup 13 Tahun

Masjid Berusia 1.300 Tahun di Aleppo Kembali Dibuka Setelah Ditutup 13 Tahun

/ 10 Jumadil Awal 1448 H 5 menit baca 113 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Suriah membuka kembali Masjid Agung Umayyah yang bersejarah di Kota Aleppo, Suriah utara, pada Kamis, setelah lebih dari 13 tahun ditutup akibat kerusakan parah selama perang saudara yang melanda negara tersebut.

Berdasarkan laporan Al-Monitor yang dikutip MUI Digital pada Rabu (21/10/2026), pembukaan kembali masjid berusia sekitar 1.300 tahun ini berlangsung hampir setahun setelah proses restorasi dimulai, menyusul penggulingan mantan Presiden Bashar al-Assad pada Desember 2024. 

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah baru Suriah untuk memulihkan berbagai sektor yang terdampak perang saudara selama lebih dari satu dekade, yakni pada 2011–2024, serta sanksi yang diberlakukan terhadap negara tersebut.

Menurut kantor berita pemerintah Suriah, SANA, upacara pembukaan kembali digelar pada Kamis malam di masjid yang berada di kawasan Kota Tua Aleppo, situs Warisan Dunia UNESCO. 

Acara tersebut dihadiri Penasihat Media Kepresidenan Ahmad Muwaffaq Zaidan, Gubernur Aleppo Azzam al-Gharib, Menteri Wakaf Mohammad Abu al-Khair Shukri, serta sejumlah pejabat dan ulama lainnya.

Dalam sambutannya, Gharib menyampaikan bahwa pembukaan kembali masjid tersebut menjadi simbol kebangkitan dan dimulainya babak baru bagi Suriah.

“Hari ini, kita berdiri di sini dengan penuh kehormatan untuk membuka kembali salah satu rumah Allah. Kita memulihkan Masjid Agung Aleppo -Al-Shahba- setelah melewati tahun-tahun sulit ketika masjid ini mengalami pengkhianatan dan kehancuran. Kini, kita menulis babak baru tentang rekonstruksi, kebebasan, dan martabat,” kata Gharib.

Dia menyatakan, masjid berusia sekitar 1.300 tahun itu memiliki arti penting bagi sejarah Aleppo. Sejak era Dinasti Umayyah, masjid tersebut menjadi tempat berkumpulnya para ulama, pendakwah, dan pemikir.

Masjid itu juga pernah menjadi tempat berlindung bagi para demonstran antipemerintah selama pemberontakan di Suriah.

Masjid Agung Umayyah merupakan salah satu masjid tertua di Aleppo yang diperkirakan berasal dari abad kedelapan.

Pembangunannya dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umayyah Sulaiman pada 715 Masehi. Masjid ini berdiri di atas lokasi bekas katedral dan pemakaman dari masa kekuasaan Romawi.

Kompleks masjid tersebut diyakini sebagai salah satu yang terbesar di Suriah, dengan panjang sekitar 105 meter dari timur ke barat dan lebar sekitar 77,75 meter dari utara ke selatan.

Bangunannya memiliki halaman tengah dengan lantai batu hitam dan putih yang disusun membentuk pola geometris khas. Area tersebut dikelilingi sejumlah serambi dan dilengkapi ruang salat, relung atau ceruk, serta mimbar. Di dalam masjid ini juga diyakini terdapat makam Nabi Zakaria, ayah Nabi Yahya.

Selama pertempuran sengit di Aleppo pada 2012–2016, Masjid Agung Umayyah mengalami penembakan artileri dan pemboman hebat. Setelah pertempuran tersebut, pasukan pemerintah yang setia kepada Assad mengambil alih kendali kota.

Konflik itu mengakibatkan sejumlah bagian bangunan masjid, termasuk dinding, kubah, dan serambi, mengalami kerusakan parah.

Sejumlah artefak bersejarah dan benda berharga di dalam masjid juga dilaporkan dijarah atau dihancurkan selama perang saudara. Salah satunya adalah sebuah kotak yang konon berisi sehelai rambut Nabi Muhammad SAW.

Masjid tersebut tidak lagi digunakan sejak 2013, setelah menara setinggi 45 meter hancur hingga menyisakan puing-puing. Saat itu, pasukan pemerintah Suriah dan kelompok pemberontak Jabhat al-Nusra saling menyalahkan atas kehancuran menara tersebut.

Jabhat al-Nusra kemudian bergabung dengan kelompok-kelompok pemberontak Suriah lainnya dan membentuk Hayat Tahrir al-Sham pada 2017, setelah memutuskan hubungan dengan Al-Qaeda.

Menara asli masjid dibangun pada tahap pembangunan berikutnya, yakni pada 1090. Menara tersebut memiliki penampang berbentuk persegi, berbeda dari menara masjid tradisional yang umumnya berbentuk silinder.

Keunikan menara itu juga terlihat pada ukiran kaligrafi Arab yang rumit. Hiasannya memadukan aksara Kufik kuno yang memiliki karakter huruf lebar dan bersudut tegas dengan aksara Naskhi, salah satu gaya kaligrafi Islam tradisional yang ditandai bentuk huruf melengkung dan bersambung.

Pekerjaan restorasi Masjid Agung Umayyah sebenarnya telah dimulai pada 2017, ketika Suriah masih berada di bawah pemerintahan Assad.

Namun, masjid tersebut tetap ditutup hingga Direktorat Wakaf Aleppo di bawah pemerintahan baru melanjutkan proses restorasi pada November 2025.

Direktorat Wakaf Aleppo menyatakan, restorasi tersebut merupakan bagian dari upaya untuk “menghidupkan kembali peran keagamaan dan budaya masjid serta melestarikan identitas arsitektur dan warisannya, sehingga masjid dapat kembali berfungsi sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dan keimanan.”

Sebelumnya, masjid tersebut sempat dibuka secara terbatas selama bulan suci Ramadan pada Maret 2025.

Presiden Ahmed al-Sharaa bersama pemerintahannya kini berupaya memulihkan perekonomian negara, termasuk melalui berbagai proyek perbaikan situs kuno dan bangunan bersejarah yang mengalami kerusakan serta penjarahan selama perang.

Dalam pernyataan pada Maret, Menteri Wakaf Shukri mengatakan sekitar 1.500 dari hampir 16.000 masjid di seluruh Suriah mengalami kerusakan, baik sebagian maupun kehancuran total, akibat perang saudara.

Dia menambahkan, kementeriannya telah menyusun rencana rekonstruksi dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia.

Sebelumnya, Kompleks Gereja Santo Simeon yang berasal dari abad kelima di Aleppo juga kembali dibuka untuk wisatawan setelah lebih dari 14 tahun ditutup akibat kerusakan selama perang.

Suriah dikenal sebagai salah satu tempat lahirnya peradaban dunia. Damaskus, ibu kota negara tersebut, dan Aleppo merupakan dua kota tertua di dunia yang terus dihuni hingga saat ini.

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa permukiman manusia telah ada di kedua kota tersebut sejak sekitar 8.000 hingga 10 ribu tahun lalu. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads