Pesan Kiai Mahrus Ali Lirboyo Jadi Fondasi Ponpes Asshidiqiyah Tetap Eksis
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital--Pesan KH Mahrus Ali Lirboyo menjadi pondasi kokoh Pondok Pesantren (Ponpes) Asshidiqiyah tetap eksis sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Indonesia.
Hal ini diungkapkan oleh Pengasuh Ponpes Asshidiqiyah KH Mahrus Iskandar atau Gus Mahrus dalam Program Dinamika Pesantren Nusantara hasil kolaborasi MUITV dan Kementerian Agama, dikutip MUI Digital, Senin (29/12/2025) dini hari WIB.
Selengkapnya simak di link berikut: MUITV
Ponpes Asshidiqiyah didirikan oleh KH Noer Muhammad Iskandar, seorang putera dari KH Askandar, ulama kharismatik asal Banyuwangi Jawa Timur, pada 1985.
KH Noer Muhammad Iskandar berasal dari lingkungan ponpes salafi (tradisional), terutama karena sang ayah, KH Askandar merupakan Pendiri dan Pengasuh Ponpes Manbaul Ulum, Banyuwangi, Jawa Timur.
Kemudian menjadi santri di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Ketika hendak merantau ke Jakarta, Pengasuh Ponpes Lirboyo KH Mahrus Ali memberikan sebuah pesan.
"Kalau mau berjuang di Jakarta, maka 'setan' yang kamu hadapi kelas jenderal. Hasil yang kamu dapatkan juga kelas jenderal. Jangan samakan di daerah, apalagi di Jawa Timur, sudah banyak kiainya, nanti perebutan berkat. Harus kuat di Jakarta," kata KH Mahrus Ali kepada KH Noer Muhammad Iskandar, diungkap Gus Mahrus, Putera KH Noer Muhammad Iskandar.
Gus Mahrus mengungkapkan, KH Mahrus Ali juga berpesan agar masyarakat di perkotaan membutuhkan pemahaman yang kuat tentang ilmu dasar di ponpes salafiyah.
Alumni Universitas Al-Ahgaff, Yaman tersebut mengungkapkan, KH Noer Muhammad Iskandar sering menyampaikan bahwa akar yang kuat atau iman yang kuat, bisa menjulang tinggi.
"Untuk menghadapi masyarakat perkotaan, bagaimana kita yang pertama secara kualitas yang harus dijaga dari bawah ke atas, satu visi, satu misi," ungkap keponakan Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar ini.
Lebih lanjut, Gus Mahrus mengungkapkan KH Noer Muhammad Iskandar menilai pentingnya masuk ke komunitas wali santri untuk menjelaskan mengenai kualitas pesantrennya.
Selain itu, lanjutnya, pentingnya komunikasi kepada wali santri, terutama bagi wali santri yang masih merasa takut memasukkan anaknya ke ponpes.
Namun, dia menilai, komunikasi yang baik yang dapat dilakukan dua arah antara pihak ponpes dan wali santri bisa membuat wali santri semakin percaya dengan adanya ponpes.
Gus Mahrus mengungkapkan Ponpes Asshidiqiyah selalu mengikuti kabar dinamika ponpes yang ada di Jakarta. Pesantren Asshidiqiyah juga mengikuti regulasi di Kementerian Agama RI yang menurutnya dapat memperkuat Ponpes.
Ponpes Asshidiqiyah memiliki ribuan santri yang tersebar di berbagai cabang ponpes di daerah ini menerapkan konsep tarbiyah dalam mendidik para santri. Menurut Gus Mahrus, terbiyah merupakan tingkatan tertinggi dalam dunia pendidikan.
Salah satu konsep tarbiyah kepada santri adalah mempersiapkan santri untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi. Persiapan itu dengan memberikan pemahaman sejak dini mengenai tantangan untuk meraih kesuksesan.
"Kami sering mengundang narasumber yang aktif di masyarakat, termasuk influencer, selebgram, karena gen Z suka talenta instan, mudah dan cepat, gak ketinggalan zaman," kata Gus Mahrus.
Ponpes Asshidiqiyah mengundang mereka untuk memberikan pemahaman kepada para santri mengenai tantangan di dunia luar pesantren. Gus Mahrus kerap menekankan kepada para santrinya, jika ingin sukses, maka harus mau merasakan pahitnya proses.
Sebab, menurutnya, banyak yang melihat hasil sukses seseorang dijadikan gaya hidup mereka. Gus Mahrus mengungkapkan, Ponpes Asshidiqiyah menanamkan spiritualitas kepada para santri untuk meraih kesuksesan.
"Paling penting doa dan sholat tahajud. Kalau ponpes kami biasakan tirakat, sholat tahajud, puasa sunnah Senin-Kamis, Daud, semua puasa sunnah. Intinya agar Hablum minallah hablum minannas bisa seimbang," tegasnya.
Ponpes Asshidiqiyah juga menerapkan ketegasan kepada para santrinya. Gus Mahrus menegaskan, ketegasan itu bukan berarti keras apalagi bentuk kebencian kepada par santri.
Gus Mahrus mengungkapkan bentuk ketegasan di Ponpes Asshidiqiyah ada sejumlah tingkatan yang selalu dikomunikasikan kepada wali santri, terutama mengenai kedisiplinan.
"Setiap lamar ada wali asuh, pembimbing, yang mereka terus berkomunikasi dengan wali santri. Bahkan kita setiap santri masuk ngasih nomor saya, nomor keamanan, jadi sudah tau kalau mau ngeluh harus ke siapa," ujarnya.
Gus Mahrus yakin jika ketegasan itu bisa dikomunikasikan dengan baik, maka akan menjadi hubungan yang baik antara wali santri dengan pihak ponpes.
(Sadam/Azhar)