Penyerbuan Al-Aqsa Kembali Terjadi, Pembatasan Ibadah dan Aksi Provokatif Picu Kecaman
A Fahrur Rozi
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Aksi penyerbuan kembali terjadi di kawasan Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur Palestina, saat puluhan warga pemukim Israel memasuki kompleks suci masjid di bawah perlindungan ketat aparat kepolisian.
Peristiwa ini mempertegas meningkatnya ketegangan sekaligus pembatasan terhadap umat Muslim dalam menjalankan ibadah.
Sekitar 150 pemukim dilaporkan memasuki area masjid pada Ahad (19/4/2026) waktu setempat melalui Gerbang Mughrabi.
Laporan ini dikutip dari media internasional TRT World yang merujuk pada sumber-sumber lokal Palestina, termasuk kantor berita resmi Wafa dan otoritas Yerusalem.
“Kantor berita resmi Wafa, mengutip Gubernur Yerusalem, mengatakan para pasukan pendudukan memasuki lokasi konflik tersebut melalui Gerbang Mughrabi dan melakukan tur provokatif di halaman masjid,” tulisnya saat dikutip MUI Digital pada Senin (20/4/2026).
Laporan lain dari Al-Qastal mengungkapkan, dalam aksi tersebut, para pemukim Israel juga melakukan ritual keagamaan tersendiri yang memicu ketegangan di lokasi suci tersebut.
Selain itu, situasi semakin memprihatinkan karena aparat kepolisian Israel turut memberlakukan pembatasan terhadap jamaah Muslim yang hendak memasuki kawasan masjid.
“Polisi Israel memberlakukan pembatasan terhadap masuknya jamaah Muslim sebagai bagian dari langkah berkelanjutan untuk membatasi akses mereka ke masjid," tulisnya
Sebagaimana diketahui, Masjid Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam. Di sisi lain, kawasan tersebut juga diklaim oleh Yahudi sebagai Temple Mount yang diyakini sebagai lokasi dua kuil pada masa kuno.
Kondisi ini kembali menegaskan pentingnya perhatian dunia internasional terhadap perlindungan tempat-tempat suci serta jaminan kebebasan beribadah bagi umat Muslim di wilayah pendudukan.
Sebelumnya, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali melakukan penyerbuan ke kompleks Masjid Al-Aqsa pada Ahad (13/4/2026) pagi, bersama sekelompok pemukim Israel di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian Israel.
Asharq Al-Awsat melansir Kantor Berita Palestina (WAFA) melaporkan bahwa dalam insiden tersebut para pemukim melakukan ritual doa Talmud di halaman Masjid Al-Aqsa.
Tindakan tersebut dinilai sebagai langkah provokatif baru yang bertujuan memaksakan realitas keagamaan baru di kawasan tersebut, serta memperkuat pembagian waktu dan ruang di kompleks Masjid Al-Aqsa.
Pemerintah Yerusalem menyatakan bahwa aksi tersebut terjadi di tengah meningkatnya pelanggaran terhadap situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem Timur yang diduduki, serta berlanjutnya pembatasan akses bagi para jamaah.
Dalam sebuah video yang direkam di lokasi dan dipublikasikan oleh kantornya, Ben-Gvir menyatakan, “Hari ini saya merasa bahwa saya adalah pemilik tempat ini,” sebagaimana dikutip dari Reuters.
Ia juga menambahkan bahwa masih banyak langkah yang perlu dilakukan, serta mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mengambil tindakan lebih lanjut.
“Kita harus terus melangkah maju secara bertahap,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri Yordania mengecam kunjungan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap status historis dan hukum yang berlaku di kawasan suci tersebut, serta sebagai tindakan yang mencederai kesuciannya.
Pihak Yordania juga menilai langkah tersebut sebagai bentuk eskalasi yang tidak dapat diterima dan provokasi yang berbahaya.
Sementara itu, dikutip MUI Digital dari Saudi Gazette, penyerbuan tersebut terjadi di tengah meningkatnya pengamanan di Yerusalem Timur.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pasukan Israel memperketat akses di sejumlah wilayah, termasuk Kota Tua dan kawasan Gerbang Damaskus, yang dijadikan zona dengan pengamanan tinggi.
Langkah ini dilakukan bertepatan dengan perayaan Sabtu Suci di Gereja Makam Kudus, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Sebelumnya, otoritas setempat juga sempat menutup gereja tersebut selama 40 hari dengan alasan keamanan, seiring meningkatnya ketegangan regional.
Masjid Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam, sementara bagi umat Yahudi kawasan tersebut dikenal sebagai Temple Mount.
Hingga saat ini, kantor Perdana Menteri Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Dalam beberapa peristiwa sebelumnya, pemerintah Israel menegaskan tidak ada perubahan kebijakan dalam mempertahankan status quo di kawasan tersebut.
Insiden ini kembali memicu kecaman dari berbagai pihak internasional, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi ketegangan di Yerusalem dan wilayah Palestina yang diduduki.