Lewati ke konten utama
Rabu, 8 Juli 2026 / 22 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Hancurnya Rumah dan Mimpi Warga Lebanon Korban Serangan Brutal Israel

3 menit baca 158 dibaca
Lebanon
Israel melancarkan serangan terbesar di Beirut Lebanon. Foto: Aljazeera
Bagikan:

Beirut, MUI Digital - Dampak psikologis akibat perang Israel di Lebanon terus meningkat seiring hancurnya desa-desa di wilayah selatan negara tersebut.

Kehancuran yang meluas tidak hanya memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka, tetapi juga menghapus ruang-ruang yang selama ini menjadi bagian dari identitas, kenangan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Dikutip MUI Digital dari Aljazeera pada Rabu (8/7/2026). Salah satunya dialami Ali, seorang warga lanjut usia asal Naqoura, Lebanon Selatan.

Pada Februari 2025, ia masih berharap dapat memperbaiki rumah dan kebun keluarganya yang rusak akibat serangan Israel. Namun, setelah serangan kembali meningkat pada Maret 2025, wilayah tersebut dilaporkan hancur total sehingga memaksanya mengungsi ke Beirut.

Baca juga: Iran Masih Miliki Kemampuan Militer di Tengah Negosiasi dengan AS

"Kami memiliki sekitar 20 tahun kehidupan yang baik," ujar Ali, mengenang masa setelah berakhirnya pendudukan Israel pada tahun 2000 hingga kembali pecahnya konflik pada Oktober 2023.

Menurut Basma Alloush dari International Rescue Committee (IRC), kehancuran desa tidak hanya berarti hilangnya bangunan, tetapi juga menghapus penanda yang selama ini membentuk identitas masyarakat.

"Ketika sebuah desa diratakan, masyarakat kehilangan lebih dari sekadar rumah. Mereka kehilangan penanda yang memberi tahu siapa mereka dan di mana mereka berasal," ujarnya kepada Aljazeera.




Ia menjelaskan bahwa hilangnya pohon-pohon, jalan tempat bermain semasa kecil, hingga rumah keluarga membuat banyak penyintas mengalami kesedihan yang mendalam karena masa lalu mereka seolah ikut terhapus bersama kehancuran desa.

Baca juga: Perang Iran Dinilai Ubah Lanskap Energi Global, Berdampak Panjang Lantas Siapa Untung?

Sejak meningkatnya kembali serangan Israel pada Maret 2025, ribuan warga Lebanon kembali mengungsi. Data yang dikutip Aljazeera menyebutkan lebih dari 4.200 orang gugur, sekitar 12 ribu lainnya terluka, dan lebih dari 1,2 juta orang sempat mengungsi akibat konflik tersebut.

Penilaian Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) mencatat lebih dari 11 ribu bangunan mengalami kehancuran total, sementara analisis citra satelit menunjukkan hampir setengah kawasan perkotaan di Lebanon Selatan mengalami kerusakan atau kehancuran.

Sejumlah wilayah yang terdampak parah antara lain Bint Jbeil, Kfar Kila, Meiss el-Jabal, Taybeh, Deir Siryan, hingga Naqoura.

Baca juga: AS Kembali Serang Teheran, Iran Membalas: Perundingan Damai Runtuh?

Psikolog klinis dari Doctors Without Borders (MSF), Davide Musardo, mengatakan banyak penyintas yang kembali ke kampung halamannya tidak lagi mampu mengenali lingkungan tempat mereka tinggal karena seluruh titik acuan yang selama ini mereka kenal telah hilang.

Senada dengan itu, spesialis kesehatan mental Aya Mhanna menilai kehancuran desa berdampak jauh melampaui kerugian materi.

Menurutnya, masyarakat tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan ruang yang membentuk identitas, hubungan sosial, kenangan, dan rasa memiliki selama bertahun-tahun.

Sementara itu, psikiater konsultan sekaligus ahli kedokteran konflik, Dr Joseph El-Khoury, menegaskan bahwa rumah memiliki makna simbolis yang sangat besar bagi masyarakat Lebanon.

Kehilangannya berarti hilangnya sejarah, identitas, dan rasa aman yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menekankan bahwa proses pembangunan kembali perlu segera dilakukan, tidak hanya untuk memulihkan infrastruktur, tetapi juga sebagai bagian penting dari pemulihan psikologis masyarakat.

Namun, selama sebagian wilayah Lebanon Selatan masih berada dalam pendudukan Israel dan situasi keamanan belum stabil, ribuan warga diperkirakan belum dapat kembali ke kampung halaman mereka.