Pegadaian Syariah Siapkan Ekosistem Bulion, Milenial Jadi Motor Utama
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital — Pegadaian Syariah menegaskan kesiapan menghadirkan layanan bulion syariah menyusul terbitnya draft fatwa terkait bulion syariah oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).
Kepala Unit Syariah Pegadaian, Beni Martina Maulana, menyatakan pihaknya menjadi bagian dari inisiator percepatan terbitnya fatwa tersebut dan siap melanjutkan proses perizinan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dia mengatakan, stakeholder dalam konteks ini adalah DSN yang sangat cepat menangkap aspirasi di market dengan terbitnya draft fatwa terkait bulion syariah.
“Kami menjadi bagian dari inisiator untuk bisa segera terbit fatwa itu. Ke depan, habis fatwa itu diundangkan, kami akan berproses ke OJK tentunya untuk bisa minta izin prinsip secara regulator terkait dengan aktivitas bulion syariah. Setelah itu, secara simultan kami langsung melakukan proses roll out deploy untuk ekosistem bulion service,” ujar Beni kepada MUI Digital usai menghadiri Ta’aruf Pengurus DSN-MUI Masa Khidmat 2025–2030 dan Rapat Pleno DSN-MUI ke-60 di Hotel Sultan Residence, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, potensi pasar bulion syariah sangat besar, terutama dari kalangan milenial. Saat ini, sekitar 65 persen portofolio nasabah Pegadaian adalah milenial. Bahkan untuk produk bulion, komposisinya mencapai 75 persen milenial.
“Artinya dengan demografi yang sangat luar biasa potensinya, masyarakat konteks milenial harus merespons investasi emas itu dengan sangat baik. Tentunya kita sebagai entitas lembaga keuangan syariah juga harus merespons dengan lebih cepat,” katanya.
Pegadaian telah membangun ekosistem emas sejak 2015 melalui produk tabungan emas yang bisa dimulai dari 0,01 gram. Respons pasar dinilai cukup besar, dengan jumlah nasabah produk syariah seperti tabungan emas dan cicilan emas telah menembus lebih dari 2 juta.
“Dari latar belakang sudah kita jalankan selama ini, tabungan emas responsnya cukup gede. Itu kita mulai dari tahun 2015 dan dari mulai 0,01 sudah bisa dijalankan. Itu bagaimana kita membangun ekosistem emas dari awal,” jelasnya.
Ia juga menyebut tingginya respons pasar sejak peluncuran bulion oleh Presiden pada 25 Februari tahun lalu.
“Dengan yang kita induk saat ini yang sudah 5 juta transaksi sejak di-launching bulion oleh Pak Presiden pada 25 Februari tahun lalu, itu indikator bahwa market sangat respons, utamanya milenial,” ujarnya.
Ke depan, Pegadaian Syariah telah menyiapkan empat produk utama dalam ekosistem bulion, yakni simpanan emas, pembiayaan emas, trading atau perdagangan emas, serta pembiayaan berbasis emas.
“Sehingga dengan adanya bulion syariah sekarang ini yang nanti akan disahkan, tentunya ini menjadi satu entry point yang luar biasa untuk melengkapi secara komplementari dari portofolio ekosistem emas,” katanya.
Tantangan literasi dan edukasi
Meski optimistis, Beni mengakui tantangan utama dalam pengembangan bulion syariah adalah edukasi pasar.
“Tantangannya sebenarnya dari sisi market sendiri, bagaimana kita bisa mengedukasi pentingnya investasi emas. Terus bagaimana kita bisa memberikan satu pemahaman tentang instrumen-instrumen investasi yang lain. Sehingga masyarakat, utamanya milenial, mempunyai satu gambaran, oh kalau emas itu instrumen pas untuk kapan. Sehingga kita harus fair dalam konteks ini memberikan informasi ke masyarakat,” tuturnya.
Ia menambahkan, konsep bulion memungkinkan monetisasi aset emas yang dimiliki masyarakat.
“Ketika nanti dikaitkan dengan bulion, akan ada valuasi yang lebih besar lagi karena kita bisa memonetize dari aset yang dimiliki masyarakat, dengan dikaryakan kepada trading kemudian kepada korporasi,” katanya.
Untuk memperkuat literasi, Pegadaian mengerahkan 4.077 outlet dan sekitar 40 ribu mitra agen serta menggandeng influencer dalam kampanye edukasi. Selain itu, pendekatan ke lingkungan kampus juga dilakukan melalui program The Gade Creative Lounge.
“Kita punya 4.077 outlet, kita mempunyai 40 ribu mitra agen, influencer kita punya. Itu yang kita dorong untuk bisa memberikan literasi ke masyarakat supaya jangan gagal kepada investasi bodong dan sebagainya. Yang kedua, kita pendekatan kepada sivitas akademika. Makanya ada The Gade Creative Lounge sebagai media untuk kita bisa meliterate salah satunya,” jelas Beni.
Menurutnya, pendekatan melalui kampus efektif karena dekat dengan aktivitas harian mahasiswa.
“Dengan adanya pendekatan yang lebih bagus kemistrinya ketika duduk pada satu wadah atau satu tempat yang memang secara daily activity ada di situ, itu yang kita coba sekarang ini masifkan,”kata dia (Fitri Aulia Lestari, ed: Nashih)