Orientasi Pengurus Baru MUI, Kiai Marsudi Syuhud Tekankan Perkuat Konektivitas Global dan Jaringan Diplomasi
Admin
Penulis
Mengawali paparannya, Kiai Marsudi mengenang pelajaran diplomasi yang diterima dari gurunya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kiai Marsudi menegaskan bahwa diplomasi Indonesia, khususnya melalui MUI, harus memiliki posisi yang independen namun tetap merangkul semua pihak.
"Saya diajari diplomasi oleh guru saya Gus Dur. Diplomasi negara yang tidak ke sana juga tidak ke sini. Kita harus mencari makna dalam diplomasi, dan intinya adalah connectivity," ujar Kiai Marsudi di hadapan para pengurus baru, Rabu (24/12/25).
Menurutnya, negara yang kuat bukan hanya karena kekayaannya, melainkan karena kemampuannya membangun jaringan. Tanpa konektivitas, negara yang kaya sekalipun akan mudah terombang-ambing oleh kekuatan super power dunia.
Kiai Marsudi mengungkapkan bahwa model keislaman di Indonesia telah menjadi rujukan dunia. Keberhasilan 87 organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang berbeda untuk bersatu di bawah satu payung MUI adalah fenomena yang sangat dikagumi oleh masyarakat internasional.
"Negara lain ingin seperti Indonesia. Kita memiliki Islam Wasathiyah yang tidak dimiliki negara lain. Saat ini, Muhammadiyah sudah membangun di Australia, Nahdlatul Ulama telah membeli masjid di Belanda. Ini adalah langkah bersama untuk mengekspor budaya keislaman Indonesia ke kancah global," tuturnya.
“Alhamdulillah itulah yang mereka kagumi, mereka ingin seperti Indonesia. 87 different organization, we can unite together in one umbrella of Majelis Ulama Indonesia,”ungkapnya menambahkan.
Pada pertemuan tersebut, Kiai Marsudi menjelaskan bahwa salam upaya peduli terhadap perdamaian dunia, MUI telah melakukan beberapa langkah konkret :
Pertama, Sertifikasi Diplomat: MUI menjadi satu-satunya organisasi yang memiliki program sertifikasi diplomat. Beliau mengajak seluruh ormas untuk mengirimkan kadernya guna memperkuat kapasitas diplomasi umat.
Kedua, Bela Palestina: Sebagai bentuk nyata Ta’awun (tolong-menolong), MUI telah menyalurkan bantuan sebesar Rp37 Miliar untuk Palestina dalam satu tahun terakhir. Target ini diharapkan terus meningkat di bawah kepengurusan baru.
Ketiga, Melawan Islamofobia: Mendorong kehadiran da’i-da’i internasional untuk meluruskan stigma negatif terhadap Islam di mancanegara.
Dengan capaian yang telah dilakukan oleh MUI, Kiai Marsudi berharap ke depannya MUI dapat terus menerus menguatkan diplomasi keagamaan dan terus melakukan penguatan ukhuwah islamiyah, ukhwah basariyah, ukhuwah wathoniah dan ukhwah antar bilad wa biladin akhor.
“Selain itu kita juga harus melakukan penguatan engagement dengan pemerintah dan berbagai negara filantropi agar kita bisa terus membantu satu sama lain dan kita bekerjasama antara organisasi-organisasi perdamaian di Indonesia maupun di Internasional,” ujarnya.
(Dea Oktaviana ed: Muhammad Fakhruddin)