MUI Tegaskan Komitmen Bela Warga Terzalimi yang Terdampak PIK 2
Admin
Penulis
Serang, MUI Digital— Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan komitmen untuk konsisten membela warga yang terzalimi akibat pembangunan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2.
Pernyataan ini disampaikan Ketua Tim Tabayyun MUI tentang Proyek Strategis Nasional (PSN) PIK 2, KH Masduki Baidlowi, saat bersilaturahim dengan warga terdampak pembangunan PIK 2 di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Ahad (1/2/2026).
Kiai Masduki mengatakan, MUI bersama tim yang telah dibentuk selama dua tahun ini, awalnya ikut berjuang bersama warga agar PSN PIK 2 dibatalkan.
"Syukur alhamdulillah perjuangan kita semua disini akhirnya PSN PIK 2 betul-betul dibatalkan. Saya kira masalahnya masih banyak, masih menumpuk, MUI konsisten ingin melindungi masyarakat atau umat karena memang tugas dari MUI khadimul ummah," kata Kiai Masduki.
Ketua MUI Bidang Infokomdigi ini mengungkapkan, MUI mencatat dan akan menindaklanjuti sejumlah aspirasi masyarakat mengenai kezaliman yang terjadi akibat PSN PIK 2.
"Salah satu yang paling menonjol adalah sungai-sungai yang selama ini sangat penting buat kehidupan masyarakat ditutup. Akhirnya menyengsarakan masyarakat. Kami akan mendalami soal ini, ke depan kita akan terus bekerja sama dengan kawan-kawan," lanjutnya.
Kiai Masduki menerangkan, MUI akan konsisten melindungi warga, terutama warga terdampak PIK 2 hingga berhasil. Menurut MUI, upaya ini terlepas nantinya bakal berhasil atau tidak merupakan ibadah.
"Kami datang sebagai rangkaian kegiatan kami. Di MUI nanti mengundang sejumlah instansi terkait berhubungan persoalan ini. Saya berharap kepada masyarakat disini supaya sabar, mendahulukan dialog dan kesabaran. Karena semua nanti dengan kesabatan InsyaAllah akan diberi jalan keluarnya," kata Kiai Masduki.
Sementara itu, aktivis nelayan Kholid menyatakan umat Islam sedang dijajah oleh PIK 2, terutama mengenai tata ruang hidupnya. Sebab, dampak dari pembangunan PIK 2 menimbulkan banjir di sejumlah wilayah Banten.
"Kalau saya ngomongnya bangsa Indonesia mayoritas umat Islam, sekarang sedang dijajah. Dijajah apanya? Tata ruang hidupnya sedang dijajah terkait polemik PIK 2 karena efek dari pengurukan, banjir dimana-mana," kata Kholid Miqdar kepada MUI Digital.
Kholid menjelaskan, aliran air sungai di hilir diurug oleh PIK 2, sehingga menimbulkan bencana alam seperti banjir di wilayah Dadap, Tanara, Cikande, Kasemen hingga Kesultanan Banten.
Kholid bersama warga merasa bersyukur MUI mau bersilaturahim secara langsung ke lokasi mereka untuk menimba informasi secara faktual dan aktual.
"Makanya kita akan coba berikan datanya ke MUI bagaimana ini terjadi banjir, bagaimana kerusakan ekonomi di wilayah kami, majelis-majelis digusur, pemakaman (dibongkar), kita ceritakan ke MUI. Biar seperti apa MUI menindaklanjutinya dan kita akan kasih data-datanya dan sebab-sebabnya," tegas Kholid.
Kholid mendorong adanya keadilan iklim, sehingga setiap pembangunan dan kebijakan bisa memikirkan dampak lingkungan. Tidak hanya di Banten, menurut Kholid, banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia ini disebabkan oleh kebijakan yang tidak menggunakan akal.
"Sehingga dampaknya kerusakan lingkungan, mereka tidak memahami hubungan manusia dengan alam. Yang ada hanya keuntungan, tidak boleh! Yang dirugikan adalah masyarakat," tegas Kholid.
Dia berharap MUI bisa menyampaikan aspirasi masyarakat ini kepada pemerintah. (Sadam, ed: Nashih)