Ketua MUI Prof Niam Ungkap Alasan Pemimpin Boleh Qurban Pakai Banpres Atas Nama Kaum Muslimin
Sadam Al Ghifari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Jakarta, MUI Digital--Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, memberikan penjelasan mengenai hukum ibadah qurban yang dilakukan oleh kepala negara.
Prof Niam, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa seorang pemimpin (ulil amri) diperbolehkan secara syar'i untuk berqurban atas nama masyarakat luas dengan menggunakan dana bantuan negara, seperti Bantuan Presiden (Banpres).
Prof Niam meluruskan anggapan keliru yang menilai qurban harus selalu menggunakan dana pribadi. Menurutnya, dalam konstruksi hukum Islam, ibadah qurban memang hukum asalnya bersifat individual, menggunakan harta sendiri, dan atas nama sendiri. Namun, aturan fikih memberikan pengecualian khusus bagi pemimpin sebagai ulil amri.
Baca juga: Prof Niam Patahkan Isu Diskriminasi Sapi Qurban Presiden: Itu Bias Islamophobia dan Keliru Logika
"Qurban boleh diatasnamakan pihak lain dalam kondisi tertentu. Di antaranya ketika qurban dilakukan oleh pemimpin sebagai ulil amri, maka qurbannya boleh atas nama masyarakat. Boleh juga diambil dari harta Baitul Mal atau kas negara, bukan uang pribadi," ujar Prof Niam, Selasa (2/6/2026).
Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta ini membeberkan argumen tersebut dengan mengutip sejumlah ulama.
Pertama, ia mengutip pandangan al-Syirbīnī dalam al-Mughnī al-Muḥtāj:
ثَالِثًا تَضْحِيَةُ الْإِمَامِ عَنْ الْمُسْلِمِينَ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ: أَيْ عِنْدَ سَعَتِهِ فَإِنَّهُ يَجُوزُ كَمَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ (المغني المحتاج، ج 6، ص 137)
“Ketiga (dari yang dikecualikan dalam larangan berkurban atas nama orang lain): Kurban imam (pemimpin) atas nama kaum Muslimin dari baitul mal, yaitu ketika baitul mal dalam keadaan lapang (memiliki kecukupan harta). Maka hal itu diperbolehkan, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Māwardī.” (al-Mughnī al-Muḥtāj, jilid 6, halaman 137)
Kedua, Ibnu Hajar al-Haitamī menyatakan:
وله إذا ضحى عن المسلمين أن يذبح بنفسه في المصلى عقب الصلاة ويخليها للناس للاتباع (تحفة المحتاج لابن حجر الهيتمي، ج 9، ص 384)
“Dan bagi imam, apabila ia berkurban atas nama kaum Muslimin, disunnahkan baginya untuk menyembelih sendiri di tempat shalat (‘muṣallā’) setelah selesai shalat, lalu membiarkannya (daging kurban itu) untuk kaum Muslimin sebagai bentuk mengikuti sunnah.” (Tuḥfat al-Muḥtāj karya Ibn Ḥajar al-Haytamī, jilid 9, halaman 384).
Baca juga: Wasekjen MUI: Sapi Qurban Bantuan Presiden Diakadkan untuk Tujuh Orang Sesuai Syariat
Ketiga, Al-Sakhāwī yang menyatakan:
فَعَلَى هَذَا كَمَا قَالَ السُّبْكِيُّ الْكَبِيرُ، فَالْإِمَامُ مُسْتَثْنًى مِنْ مَنْعِ الأُضْحِيَّةِ عَنِ الْغَيْرِ. (كتاب الأجوبة المرضية فيما سُئِلَ السخاوي عنه من الأحاديث النبوية، ج ٢، ص ٨١٦).
“...Maka berdasarkan hal ini, sebagaimana dikatakan oleh al-Subkī al-Kabīr, imam dikecualikan dari larangan berkurban atas nama orang lain.” (Kitāb al-Ajwibah al-Marḍiyyah fīmā Su’ila al-Sakhāwī ‘anhu min al-Aḥādīth al-Nabawiyyah, juz 2, halaman 816.)
Lebih lanjut, Prof Niam menegaskan bahwa pembelian hewan qurban oleh Presiden menggunakan dana APBN atau Bantuan Presiden (Banpres) dan didistribusikan untuk kepentingan kemaslahatan masyarakat, tidak bermasalah secara syar'i.
Bahkan, langkah ulil amri (pemimpin) berqurban menggunakan kas negara (Baitul Mal) untuk masyarakat hukumnya adalah sunnah, sebagaimana termaktub dalam kitab fikih klasik al-Mughnī al-Muḥtāj karya Imam Al-Khaṭīb al-Syirbīnī yang bersandar pada Hadis Sahih Bukhari.
Menurut Prof Niam, qurban yang bersumber dari anggaran negara untuk kepentingan masyarakat luas sangat sejalan dengan aspek syariah. Secara teknis, negara memiliki pos bantuan kemasyarakatan yang dikelola oleh Presiden.
"Bisa juga dari Banpres tersebut dirupakan sapi, kemudian dibagi ke masyarakat, dan penerimanya bisa menggunakan untuk qurban. Sebagaimana APBN Banpres atau Banmas Presiden yang digunakan untuk beli sembako atau buku tulis, dan dibagi-bagi ke masyarakat," ujar Prof Niam.
Empat Sandaran Fikih, Presiden Boleh Berqurban dari Banpres
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah ini menerangkan, dalam kajian fikih, ada beberapa penjelasan mengenai kebolehan Imam (pemimpin negara) untuk berqurban dari Baitul Mal untuk masyarakat.
Di antaranya ada empat landasan fikih. Pertama, Imam al-Syarbīnī dalam al-Mughnī al-Muḥtāj:
وَيُسَنُّ لِلْإِمَامِ أَنْ يُضَحِّيَ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ عَنْ الْمُسْلِمِينَ بَدَنَةً فِي الْمُصَلَّى، وَأَنْ يَنْحَرَهَا بِنَفْسِهِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ بَدَنَةٌ فَشَاةٌ لِلِاتِّبَاعِ، رَوَاهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَغَيْرُهُ: وَإِنْ ضَحَّى عَنْهُمْ مِنْ مَالِهِ ضَحَّى حَيْثُ شَاءَ. (المغني المحتاج، ج 6، ص 125)
“Disunnahkan bagi imam (pemimpin) untuk berqurban dari baitul mal atas nama kaum Muslimin dengan seekor unta di tempat shalat, dan hendaknya ia sendiri yang menyembelihnya. Hal ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī. Jika tidak memungkinkan berqurban dengan unta, maka dengan seekor kambing sebagai bentuk mengikuti sunnah, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Māwardī dan lainnya. Dan jika ia berqurban atas nama mereka dari hartanya sendiri, maka ia boleh berkurban di mana saja ia kehendaki.” (al-Mughnī al-Muḥtāj, jilid 6, halaman 125)
Kedua, Imam al-Syarwānī dalam Ḥāshiyat al-Sharwānī ‘alā Tuḥfat al-Muḥtāj, jilid 9, halaman 384:
ويسن للإمام أن يضحي من بيت المال عن المسلمين بدنة في المصلى وأن ينحرها بنفسه رواه البخاري وإن لم تتيسر بدنة فشاة وإن ضحى عنهم من ماله ضحى حيث شاء )حاشية الشرواني على تحفة المحتاج،
“Disunnahkan bagi imam untuk berqurban dari baitul mal atas nama kaum Muslimin dengan unta di tempat shalat (‘muṣallā’), dan hendaknya ia sendiri yang menyembelihnya. Hal ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī. Jika tidak memungkinkan berqurban dengan unta, maka dengan seekor kambing. Dan jika ia berqurban atas nama mereka dari hartanya sendiri, maka ia boleh berqurban di mana saja ia kehendaki.” (Ḥāshiyat al-Sharwānī ‘alā Tuḥfat al-Muḥtāj, jilid 9, halaman 384).
Ketiga, Musthafa al-Khin et.al dalam Kitab al-Fiqhu al-Manhajī ‘Alā Mazhab al-Imām al-Syāfi’ī:
يُسَنُّ لِحَاكِمِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ إِمَامِهِمْ أَنْ يُضَحِّيَ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ عَنِ الْمُسْلِمِينَ، فَقَدْ رَوَى مُسْلِمٌ (١٩٦٧) أَنَّهُ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ضَحَّى بِكَبْشٍ، وَقَالَ عِنْدَ ذَبْحِهِ: بِاسْمِ اللهِ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَأُمَّةِ مُحَمَّدٍ.
“Disunnahkan bagi penguasa kaum Muslimin atau imam mereka untuk berqurban dari baitul mal atas nama kaum Muslimin. Sebab Muslim meriwayatkan (no. 1967) bahwa Rasulullah ﷺ berqurban dengan seekor domba, dan beliau berkata ketika menyembelihnya: ‘Dengan nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.’” (al-Fiqhu al-Manhajī ‘Alā Mazhab al-Imām al-Syāfi’ī, j. 1, halaman 236).
Keempat, Al-Sakhāwī dalam kitab al-Ajwibah yang menyatakan pandangan Imam al-Mawardi sebagai berikut:
قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: يَجُوزُ لِلإِمَامِ أَنْ يُضَحِّيَ عَنِ الْمُسْلِمِينَ بِبَدَنَةٍ يَذْبَحُهَا فِي الْمُصَلَّى بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنْ صَلاَتِهِ، وَأَقَلُّ مَا يُنْحَرُ شَاةٌ اقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَعَلَى هَذَا كَمَا قَالَ السُّبْكِيُّ الْكَبِيرُ، فَالْإِمَامُ مُسْتَثْنًى مِنْ مَنْعِ الأُضْحِيَّةِ عَنِ الْغَيْرِ. (كتاب الأجوبة المرضية فيما سُئِلَ السخاوي عنه من الأحاديث النبوية
“Al-Māwardī berkata: Imam (pemimpin) diperbolehkan berqurban atas nama kaum Muslimin dengan seekor unta yang ia sembelih di tempat shalat setelah selesai shalatnya. Minimal hewan yang disembelih adalah seekor kambing, sebagai bentuk mengikuti Rasulullah ﷺ. Maka berdasarkan hal ini, sebagaimana dikatakan oleh al-Subkī al-Kabīr, imam dikecualikan dari larangan berqurban atas nama orang lain.” (Kitāb al-Ajwibah al-Marḍiyyah fīmā Su’ila al-Sakhāwī ‘anhu min al-Aḥādīth al-Nabawiyyah, juz 2, halaman 816.)
"Penjelasan tentang pengecualian dalam terjemah: Hukum asal kurban adalah untuk diri yang berkurban sendiri, tidak untuk orang lain. Akan tetapi ada pengecualian bagi Imam (pemimpin pemerintahan) dari larangan tersebut. Ia boleh berkurban atas nama orang lain," tegasnya.
Dua Landasan Hadis Sahih al-Bukhari
Lebih lanjut, Prof Niam menjelaskan bahwa kebolehan, bahkan kesunahan, seorang pemimpin menggunakan kas negara untuk qurban rakyatnya didasarkan pada metodologi kajian fikih dan hadis-hadis sahih.
Prof Niam mengungkapkan dua rujukan otentik dari Kitab Sahih al-Bukhari yang menjadi landasan utama.
Pertama, Hadis Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 1716:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : بَعَثَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقُمْتُ عَلَى البُدْنِ ، فَأَمَرَنِي فَقَسَمْتُ لُحُومَهَا ، ثُمَّ أَمَرَنِي فَقَسَمْتُ جِلاَلَهَا وَجُلُودَهَا ، قَالَ سُفْيَانُ : وَحَدَّثَنِي عَبْدُ الكَرِيمِ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : أَمَرَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى البُدْنِ ، وَلاَ أُعْطِيَ عَلَيْهَا شَيْئًا فِي جِزَارَتِهَا
Artinya: “Muḥammad ibn Kathīr meriwayatkan kepada kami, Sufyān mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibn Abī Najīḥ mengabarkan kepadaku dari Mujāhid, dari ‘Abd al-Raḥmān ibn Abī Laylā, dari ‘Alī raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ mengutusku, lalu aku mengurus hewan-hewan qurban beliau. Beliau memerintahkanku untuk membagikan dagingnya, kemudian memerintahkanku untuk membagikan kain penutupnya dan kulitnya. Sufyān berkata: ‘Abd al-Karīm juga meriwayatkan kepadaku dari Mujāhid, dari ‘Abd al-Raḥmān ibn Abī Laylā, dari ‘Alī raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ memerintahkanku untuk mengurus hewan-hewan qurban, dan tidak memberikan sedikit pun darinya sebagai upah penyembelihan.”
Dalam Hadis ini, kata Prof Niam, penyebutan hewan yang disembelih (yang diperintahkan oleh Nabi kepada Ali ibn Abi Thalib RA. adalah dengan bentuk jamak budn (البدن) dari kata badanah (بدنة).
Hadis Sahih al-Bukhari ini, lanjutnya, jika dipahami dengan metode Jam’u al-Riwāyāt (menggabungkan berbagai riwayat), maka dapat dipahami bahwa hadis ini dijelaskan oleh hadis-hadis lain, dalam hal jumlah hewan dan hal lainnya.
"Hadis yang menjelaskannya adalah Hadis riwayat Abu Dawud lewat jalur Mujāhid, dan Hadis Sahih Muslim lewat jalur Jābir. Dari hadis tersebut jelas bahwa jumlah hewannya adalah 100 ekor, dan yang disembelih oleh Nabi sendiri adalah 63 ekor," paparnya.
Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Badr al-Dīn al-ʿAynī dalam ʿUmdat al-Qārī Sharḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī:
وَلَمْ يَقَعْ هُنَا بَيَانُ عَدَدِ الْبُدْنِ، وَوَقَعَ فِي الرِّوَايَةِ الثَّالِثَةِ أَنَّهَا مِائَةُ بَدَنَةٍ، وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ أَبِي دَاوُدَ مِنْ طَرِيقِ ابْنِ إِسْحَاقَ عَنْ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ: نَحَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثِينَ بَدَنَةً، وَأَمَرَنِي فَنَحَرْتُ سَائِرَهَا. وَالأَصَحُّ مِنْ ذَلِكَ مَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ الطَّوِيلِ: (ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَنْحَرِ، فَنَحَرَ ثَلَاثًا وَسِتِّينَ بَدَنَةً، ثُمَّ أَعْطَى عَلِيًّا، فَنَحَرَ مَا غَيْرَ، وَأَشْرَكَهُ فِي هَدْيِهِ) الْحَدِيثَ، فَعُرِفَ مِنْهُ أَنَّ الْبُدْنَ كَانَتْ مِائَةَ بَدَنَةٍ، وَأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحَرَ مِنْهَا ثَلَاثًا وَسِتِّينَ، وَأَنَّ عَلِيًّا نَحَرَ الْبَاقِي.
“Dalam riwayat ini tidak disebutkan jumlah al-budn, namun dalam riwayat ketiga disebutkan bahwa jumlahnya seratus ekor. Dalam riwayat Abū Dāwūd melalui jalur Ibn Isḥāq dari Ibn Abī Najīḥ dari Mujāhid disebutkan bahwa Nabi ﷺ menyembelih tiga puluh ekor, lalu memerintahkanku untuk menyembelih sisanya. Yang lebih sahih adalah riwayat Muslim dalam hadis panjang dari Jābir: ‘Kemudian Nabi ﷺ menuju tempat penyembelihan, lalu beliau menyembelih enam puluh tiga ekor, kemudian beliau menyerahkan kepada ‘Alī, maka ‘Alī menyembelih sisanya, dan beliau menjadikannya bagian dari hadyu beliau.’ Dari hadis ini diketahui bahwa jumlah al-budn adalah seratus ekor, Nabi ﷺ menyembelih enam puluh tiga ekor, dan ‘Alī menyembelih sisanya.” (sebagaimana dinyatakan oleh Badr al-Dīn al-ʿAynī dalam ʿUmdat al-Qārī Sharḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, juz 10 halaman 53).
Dari penjelasan tersebut, kemudiaan muncul pertanyaan; sumber dananya dari mana?
Prof Niam menerangkan bahwa sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam An-Nawāwī, bahwa dari seratus unta tersebut, sebanyak 63 dibawa oleh Nabi dari Madinah. Sisanya, 37 ekor dibawa oleh Sayyidina Ali dari Yaman (al-Minhāj Syaraḥ Ṣaḥīḥ Muslim ibnu Ḥajjāj, Dār Iḥyā’ a-Turāth al-‘Arabī, 1392 H, juz 8 halaman 192).
"Dan penugasan Ali ke Yaman tersebut adalah dalam rangka tugas megumpulkan zakat dan khumus yang ditempatkan di Baitul Mal. Karenanya, Imam al-Syirbīnī (sebagaimana di atas) menjelaskan kebolehan, bahkan hukum sunnah (wa yusannu) bagi imam untuk berkurban dari baitul mal," jelasnya.
Kedua, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī No. 5555:
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي الْخَيْرِ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ غَنَمًا يَقْسِمُهَا عَلَى صَحَابَتِهِ ضَحَايَا، فَبَقِيَ عَتُودٌ، فَذَكَرَهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: ضَحِّ أَنْتَ بِهِ.
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Khalid, telah menceritakan kepada kami al-Layth, dari Yazid, dari Abu al-Khayr, dari ‘Uqbah bin ‘Amir raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ memberikan kepadanya beberapa kambing untuk dibagikan kepada para sahabat sebagai hewan qurban. Lalu tersisa seekor anak kambing (ʿatūd), maka ia menyebutkannya kepada Nabi ﷺ. Beliau bersabda: “Qurbankanlah itu olehmu.”
Lebih lanjut, Prof Niam menambahkan, Imam Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī di dalam Fatḥu al-Bārī (J. 10, halaman 15-16 menjelaskan tentang sumber dana penyembelihan ini, yaitu:
يَحْتَمِلُ أَنْ تَكُونَ الْغَنَمُ مِلْكًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِقِسْمَتِهَا بَيْنَهُمْ تَبَرُّعًا، وَيَحْتَمِلُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْفَيْءِ، وَإِلَيْهِ جَنَحَ الْقُرْطُبِيُّ حَيْثُ قَالَ فِي الْحَدِيثِ: إِنَّ الْإِمَامَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُفَرِّقَ الضَّحَايَا عَلَى مَنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهَا مِنْ بَيْتِ مَالِ الْمُسْلِمِينَ. وَقَالَ ابْنُ بَطَّالٍ: إِنْ كَانَ قَسَمَهَا بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ فَهِيَ مِنَ الْفَيْءِ، وَإِنْ كَانَ خَصَّ بِهَا الْفُقَرَاءَ فَهِيَ مِنَ الزَّكَاةِ.
Artinya: “Ada kemungkinan bahwa kambing-kambing itu adalah milik Nabi ﷺ sendiri, lalu beliau memerintahkan untuk membagikannya kepada para sahabat sebagai bentuk pemberian sukarela. Ada pula kemungkinan bahwa kambing-kambing itu berasal dari al-fay’. Pendapat ini cenderung diikuti oleh (Abul ‘Abbas) al-Qurṭubī, yang berkata dalam penjelasan hadis: “Seharusnya seorang imam membagikan hewan qurban kepada orang-orang yang tidak mampu dari Baitul Mal kaum Muslimin.” Sedangkan Ibn Baṭṭāl berkata: “Jika beliau membagikannya kepada orang-orang kaya, maka itu berasal dari al-fay’. Namun jika beliau khususkan untuk orang-orang fakir, maka itu termasuk dari zakat.” (Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥu al-Bārī, J. 10, halaman 15-16).
Selain Riwayat Imam al-Bukhari, lanjutnya, ada beberapa hadis Shahih yang relevan dengan inti masalah ini. Di antaranya Hadis Riwayat Imam Muslim, dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Aḍḥiyah, no. 1967:
عَنْ عَائِشَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ، يَطَأُ فِي سَوَادٍ، وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ، وَيَنْظُرُ في سواد. فأتي بِهِ. فَقَالَ لَهَا (يَا عَائِشَةُ! هَلُمِّي الْمُدْيَةَ). ثُمَّ قَالَ: (اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ) فَفَعَلَتْ. ثُمَّ أَخَذَهَا، وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ. ثُمَّ ذَبَحَهُ. ثُمَّ قَالَ (بِاسْمِ اللَّهِ. اللَّهُمَّ! تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ. وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ) ثُمَّ ضَحَّى بِهِ.
“Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā meriwayatkan: Rasulullah ﷺ memerintahkan agar dibawakan seekor domba jantan bertanduk, yang kakinya, perutnya, dan matanya memiliki warna hitam. Lalu domba itu dibawakan kepada beliau. Beliau berkata kepadanya: ‘Wahai Aisyah, bawakan pisau.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Asahlah pisau itu dengan batu.’ Maka Aisyah pun melakukannya. Setelah itu beliau mengambil pisau, lalu mengambil domba tersebut, merebahkannya, kemudian menyembelihnya. Beliau mengucapkan: ‘Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.’ Lalu beliau berqurban dengan domba itu.”