Ketua Baznas RI: Ketahanan Keluarga Benteng Utama Hadapi Krisis Moral
Fitri Aulia Lestari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital – Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, Dr Sodik Mudjahid, menyatakan keluarga merupakan benteng utama dalam menghadapi berbagai tantangan moral yang mengancam generasi muda di era digital.
Hal tersebut disampaikannya dalam Workshop Penyusunan Buku Panduan Pranikah bagi Remaja yang diselenggarakan Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Hotel Sofyan Cikini, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Dalam sambutannya, Sodik mengapresiasi langkah KPRK MUI yang menyusun buku panduan pranikah bagi remaja sebagai upaya memperkuat ketahanan keluarga dan membangun generasi masa depan yang berkualitas.
Menurutnya, persoalan keluarga saat ini semakin kompleks. Selain tingginya angka perceraian, masyarakat juga menghadapi fenomena menurunnya minat menikah, meningkatnya gaya hidup bebas, serta berbagai dampak negatif perkembangan teknologi digital.
"Rumah tangga adalah madrasah pertama bagi lahirnya sebuah peradaban. Karena itu, ketika ketahanan keluarga melemah, maka masa depan bangsa juga ikut terancam," ujarnya.
Baca juga: Siti Ma’rifah: Fenomena Enggan Menikah dan Childfree Bisa Hancurkan Eksistensi Bangsa
Dia mengungkapkan bahwa selama menjadi anggota DPR RI, ia pernah terlibat dalam berbagai pembahasan legislasi yang berkaitan dengan perlindungan keluarga, termasuk Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga.
Menurutnya, regulasi yang memperkuat keluarga sangat penting karena keluarga merupakan fondasi utama pembentukan karakter dan moral masyarakat.
"Kita pernah memperjuangkan Undang-Undang Ketahanan Keluarga karena keluarga adalah institusi yang harus mendapatkan perlindungan dan penguatan dari negara," katanya.
Dia juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi keluarga Muslim saat ini, khususnya pengaruh media digital yang memungkinkan berbagai konten negatif masuk ke ruang-ruang privat keluarga melalui gawai dan media sosial.
"Dulu ancaman datang secara fisik. Sekarang berbagai bentuk kemungkaran bisa masuk langsung ke rumah dan kamar anak-anak melalui telepon genggam yang mereka pegang setiap hari," ujarnya.
Karena itu, dia menilai pendidikan keluarga dan pembinaan pranikah menjadi semakin penting agar generasi muda memiliki bekal yang cukup sebelum memasuki kehidupan rumah tangga
Selain itu, dia juga mengingatkan bahwa tingginya angka perceraian tidak hanya disebabkan oleh lemahnya pemahaman agama, tetapi juga faktor ekonomi.
Oleh sebab itu, penguatan keluarga harus dilakukan secara menyeluruh, baik dari aspek akidah, ibadah, pendidikan, maupun kesejahteraan ekonomi.
"Selain memperkuat pemahaman keagamaan, kita juga harus memperkuat ekonomi keluarga. Banyak perceraian yang terjadi karena persoalan pekerjaan dan kondisi ekonomi rumah tangga," katanya.
Baca juga: Buya Anwar Abbas: Kualitas Perempuan Faktor Penentu Kemajuan Bangsa
Dalam kesempatan tersebut, dia menyatakan kesiapan Baznas RI untuk terus berkolaborasi dengan KPRK MUI dalam berbagai program pemberdayaan keluarga, termasuk penguatan ekonomi rumah tangga dan pembinaan keluarga sakinah.
Dia berharap workshop tersebut tidak hanya menghasilkan Buku Panduan Pranikah bagi Remaja, tetapi juga melahirkan berbagai program lanjutan yang dapat membantu keluarga Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman.
"Tugas membangun keluarga sakinah bukan hanya tugas individu, tetapi juga bagian dari upaya menjaga masa depan bangsa. Karena keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat dan peradaban yang kuat pula," kata dia.