Lewati ke konten utama
Kamis, 30 Juli 2026 / 15 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Jadikan AI Alat Dakwah Moderat, Ketua MUI Bidang Infokomdigi: Kita Harus Taklukkan Teknologi

3 menit baca 71 dibaca
Masduki Baidlowi
Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi saat membuka sekaligus menjadi Keynote Speaker dalam Workshop “Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI” yang digelar Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (29/7/2026). Foto: Junaidi/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital--Ketua MUI Bidang Infokomdigi KH Masduki Baidlowi mengimbau bahwa pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh disikapi dengan rasa takut atau terancam. Sebaliknya, umat Islam dan lembaga keagamaan harus mampu menaklukkan teknologi tersebut sebagai alat (tool) dakwah yang efektif untuk menyebarkan pesan-pesan Islam yang moderat (wasathiyah) dan menyejukkan.

Hal tersebut disampaikan KH Masduki Baidlowi, saat membuka sekaligus menjadi Keynote Speaker dalam Workshop “Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI” yang digelar Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Ulama yang akrab disapa Kiai Masduki menyampaikan bahwa AI sejatinya adalah instrumen yang harus dikuasai oleh manusia, bukan justru menjadikan manusia sebagai objek yang dikendalikan oleh teknologi.

"AI ini adalah alat efektif; jika kita kuasai, kita bisa mengarahkan konten-konten digital untuk menyebarkan pesan Islam yang moderat, membawa rasa aman, dan merawat tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama Nusantara," ujar Kiai Masduki.

Baca juga: Sebut AI Ancam Tradisi Keagamaan, Kiai Masduki Ingatkan Sanad Ilmu Jangan Hancur Oleh Algoritma

Juru Bicara Wakil Presiden ke-13 RI ini menyoroti tantangan era digital saat ini, di mana tren beragama anak muda mengalami pergeseran. Banyak generasi muda yang menjadikan platform AI, avatar digital, dan algoritma sebagai rujukan utama keagamaan berdasarkan kenyamanan pribadi dan ekspresi ego semata. Hal ini memicu fenomena echo chamber (ruang gema) yang berpotensi mengikis tradisi sanad ilmu serta hubungan guru dan murid.

Meski demikian, Kiai Masduki menilai AI menyimpan potensi raksasa jika dikelola secara bijak. Selain mempermudah layanan keagamaan dan kemasyarakatan seperti zakat melalui AI agent, kecerdasan buatan juga bisa dimanfaatkan sebagai wahana belajar mengaji yang efisien, selama tetap berada di bawah verifikasi (cross-check) para ulama dan kitab-kitab rujukan asli.

Baca juga: Wasekjend MUI: Mencegah Bahaya Halusinasi AI Tidak Bisa Dilakukan Sendiri, Butuh Kolaborasi Multi-Pihak

Untuk itu, Kiai Masduki mendorong lembaga keagamaan seperti MUI agar terus bertransformasi dan diisi oleh SDM berkapasitas tinggi agar tetap relevan serta dipercaya oleh generasi muda.

Sejalan dengan arahan tersebut, Ketua Komisi Infokomdigi MUI, Hari Usmayadi, menjelaskan bahwa workshop berbasis praktik ini dirancang untuk melahirkan para "Mujahid Digital". Langkah nyata ini bertujuan memenangkan perhatian publik atau "perang algoritma" di media sosial yang selama ini rentan diisi oleh konten-konten instan, deepfake, hingga narasi yang merusak peradaban.

Melalui kegiatan bertagline action-oriented ini, generasi muda yang menguasai keahlian teknis seperti prompt engineering dan Generative Engine Optimization (GEO) dikolaborasikan dengan para ulama sepuh. Dengan demikian, penguasaan teknologi digital anak muda tetap bersumber dan tersambung dari validasi dalil serta etika syariat para ulama.

"Kami ingin peserta tidak pulang dengan tangan kosong, melainkan membawa bank prompt AI, jadwal publikasi, serta materi yang siap rilis untuk mengamplifikasi pesan-pesan Islam yang moderat dan mencerahkan," tegas sosok yang akrab disapa Cak Usma tersebut.