Fenomena Inqilabul Hal, Waketum MUI Ingatkan Bahaya Distorsi Kebenaran di Media Sosial
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, KH Marsudi Syuhud, menyoroti fenomena zaman yang ia sebut sebagai Inqilabul Hal, yakni kondisi ketika nilai, fakta, dan kebenaran kerap terbalik akibat derasnya arus informasi, khususnya di media sosial.
Hal tersebut disampaikan dalam Haflah Akhirussanah Majlis Dzikir dan Ta’lim Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, yang digelar pada Sabtu, 7 Februari 2026, bertempat di Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan ulama seperti Prof Asrorun Ni’am Sholeh, Ketua MUI Bidang Fatwa hingga Ketuq Umum Yayasan Sahid Jaya Prof Nugroho B. Sukamdani.
Kiai Marsudi menjelaskan bahwa di era Inqilabul Hal, sesuatu yang tidak benar dapat diterima sebagai kebenaran karena diviralkan secara masif, sementara kebaikan justru bisa dipersepsikan negatif akibat narasi yang dipelintir.
“Barang yang biasa bisa dianggap luar biasa karena didorong buzzer. Sebaliknya, yang baik bisa dianggap buruk karena dipotong-potong dan disebarkan. Inilah yang disebut Inqilabul Hal, keadaan yang terbalik,” ujar Kiai Marsudi Syuhud, Sabtu (7/2/2026).
Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak hanya terjadi dalam kehidupan sosial dan ekonomi, tetapi juga dalam politik dan dunia keagamaan. Menurutnya, sering kali narasi persatuan digaungkan, namun praktiknya justru bertolak belakang.
Kiai Marsudi kemudian mengutip syair Imam Syafi’i yang menggambarkan kondisi zaman terbalik, di mana singa bisa mati kelaparan di hutan, sementara budak tidur di atas kain sutra.
“Orang hebat bisa jatuh dalam waktu singkat, dan sebaliknya,” katanya.
Menghadapi situasi tersebut, Kiai Marsudi menekankan pentingnya berpikir akurat (accurate thinking). Ia merujuk pemikiran Napoleon Hill tentang pentingnya mengenali fakta-fakta kehidupan secara jernih sebelum mengambil keputusan.
“Hari ini orang dituntut cepat mengambil keputusan. Pilih yang benar-benar membantu kehidupan kita dan tinggalkan yang tidak relevan. Kalau terlalu lama ragu, kita akan tertinggal,” tegasnya.
Ia juga menyinggung kondisi ekonomi yang kerap disampaikan dengan angka-angka optimistis, namun belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Menurutnya, kejujuran data dan ketepatan analisis menjadi kunci agar kebijakan benar-benar menyentuh kebutuhan riil umat.
Kiai Marsudi mengajak seluruh hadirin untuk mensyukuri dan menjaga warisan nilai para ulama dan pendahulu.
“Kita sudah menerima banyak warisan dari orang-orang sebelum kita. Mari kita rawat dengan pikiran yang jernih dan akurat,” pungkasnya.
(Miftahul Jannah/Azhar)