Dorong UMKM Tembus Pasar Saudi, Kemenhaj Kembangkan Ekosistem Ekonomi Haji
Admin
Penulis
JAKARTA— Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi haji agar manfaat penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya dirasakan di Arab Saudi, tetapi juga menggerakkan perekonomian dalam negeri, khususnya pelaku UMKM.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, mengatakan bahwa pihaknya mendapat mandat besar dari Presiden yang ditindaklanjuti oleh Menteri Haji dan Umrah untuk memastikan perputaran dana haji juga memberi dampak langsung bagi masyarakat Indonesia.
“Dalam pelaksanaan ibadah haji, ada perputaran dana belasan triliun rupiah. Harapannya, dana ini tidak hanya masuk ke Saudi, tetapi sebagian bisa kembali dirasakan oleh masyarakat Indonesia melalui keterlibatan UMKM dalam rantai pasok haji,” ujar Jaenal di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (27/1).
Ekspor bumbu dan makanan siap saji
Salah satu langkah konkret yang sudah berjalan adalah ekspor bumbu khas Indonesia dan makanan siap saji (ready to eat/RTE) untuk konsumsi jamaah haji, terutama saat puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menurut Jaenal, tahun ini terdapat sekitar 22 jenis bumbu yang akan diekspor dengan total volume lebih dari 400 ton. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan sekitar 3,9 juta paket makanan siap saji.
Produk-produk tersebut disuplai oleh masing-masing 10 perusahaan penyedia bumbu dan RTE yang telah memenuhi standar ekspor ke Arab Saudi, termasuk sertifikasi dari otoritas pangan Saudi (SFDA).
Uji cita rasa juga telah dilakukan untuk memastikan rasa tetap sesuai dengan selera Indonesia.
“Cita rasanya sudah kita pastikan cita rasa Nusantara. Ini penting agar jamaah tetap nyaman dengan makanan yang familiar,” jelasnya.
Target baru
Selain bumbu dan RTE, pemerintah juga mulai menjajaki ekspor beras Indonesia ke Arab Saudi, khususnya untuk kebutuhan konsumsi jamaah haji dan umrah.
Jaenal mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Perum Bulog dan Kementerian Pertanian.
Saat ini Indonesia tengah mengalami surplus produksi beras hingga lebih dari 2 juta ton, sehingga dinilai sebagai momentum yang tepat untuk mulai menembus pasar Saudi.
“Tantangannya selama ini adalah harga kita belum kompetitif dibanding Thailand, Vietnam, atau negara lain. Tapi kita optimistis, dengan kualitas yang baik dan dukungan pemerintah, beras Indonesia bisa masuk dan berkelanjutan di pasar Saudi,” katanya.
Ia menambahkan, kehadiran beras Indonesia di Tanah Suci juga akan memberi kenyamanan bagi jamaah, khususnya yang berasal dari daerah pedesaan dan terbiasa dengan karakter beras dalam negeri.
Oleh-oleh
Kemenhaj juga tengah menyiapkan platform oleh-oleh haji berbasis produk UMKM Indonesia. Melalui platform ini, jamaah dapat membeli oleh-oleh sebelum pulang ke Tanah Air, dan barang akan langsung dikirim ke rumah masing-masing.
Beberapa produk yang sedang dipetakan antara lain kurma lokal dari NTB dan Pasuruan, tasbih dari Jepara, hingga cokelat khas daerah seperti dari Garut.
“Kita ingin oleh-oleh haji tidak selalu identik dengan barang impor. Banyak produk lokal kita yang kualitasnya sangat baik dan layak menjadi buah tangan jemaah,” ujar Jaenal.
Untuk mendukung hal tersebut, Kemenhaj juga akan menggelar expo UMKM oleh-oleh haji yang direncanakan digelar di beberapa wilayah Indonesia, mencakup Indonesia Barat, Tengah, dan Timur.
Lobi hotel
Langkah lain yang sedang disiapkan adalah pemanfaatan lobi hotel jemaah di Makkah dan Madinah sebagai ruang promosi dan penjualan produk serta kuliner khas Indonesia.
Sekitar 280 hotel yang ditempati jemaah Indonesia direncanakan memiliki tenan UMKM yang menyajikan makanan khas seperti bakso, rawon, hingga kopi Indonesia. Pelaku usahanya diutamakan dari diaspora Indonesia di Arab Saudi maupun mitra logistik nasional.
“Kita ingin jemaah yang rindu makanan khas Indonesia bisa menikmatinya. Tapi semua tetap harus memenuhi regulasi dan perizinan yang berlaku di Saudi,” tegas Jaenal.
Tiga fokus
Jaenal menjelaskan, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji memiliki tiga tugas utama, yaitu:
1. Pengendalian keuangan haji, termasuk memastikan akuntabilitas perputaran dana
2. Pengendalian kemitraan, dengan memetakan dan memilih mitra strategis di dalam dan luar negeri
3. Pengendalian standarisasi produk, agar seluruh barang dan jasa yang masuk dalam ekosistem ekonomi haji memenuhi regulasi dan standar internasional.
“Harapannya, ekosistem ekonomi haji ini bukan hanya mendukung pelayanan jemaah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi umat dan UMKM Indonesia,” kata dia. (Sanib, ed: Nashih)