Lewati ke konten utama
Sabtu, 31 Oktober 2026 / 20 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
1000617024
Berita

Dari Penghargaan Malcolm X hingga Masjid Ramah Lingkungan, Ini Wajah Kontribusi Muslim Kulit Hitam Inggris

Dari Penghargaan Malcolm X hingga Masjid Ramah Lingkungan, Ini Wajah Kontribusi Muslim Kulit Hitam Inggris

/ 19 Jumadil Awal 1448 H 4 menit baca 88 dibaca

Jakarta, MUI Digital — Nama El-Hajj Malik El-Shabazz, nama yang digunakan Malcolm X setelah menunaikan ibadah haji pada 1964, diabadikan sebagai penghargaan tertinggi dalam Black Muslim Awards 2026 di London. 

Ajang ini merayakan beragam kontribusi Muslim kulit hitam bagi masyarakat Inggris, mulai dari pakar lingkungan yang membantu masjid menjadi pelopor pelestarian alam, dokter yang memperjuangkan perdamaian, hingga merek busana yang menyisihkan keuntungannya untuk dapur umum.

Dikutip MUI Digital dari laman Black History Month UK, Jumat (30/10/2026), seremoni yang digelar di Saffron Gallery, Stratford, London, ini menghadirkan narasi yang berbeda. Di tengah wacana publik yang kerap memotret komunitas Muslim kulit hitam melalui persoalan sosial, ketimpangan, dan perdebatan politik, ajang ini justru menyoroti mereka yang bekerja dalam senyap dan jarang mendapat pengakuan publik.

Penghargaan yang tahun ini memasuki penyelenggaraan kedelapan tersebut diselenggarakan oleh African and African Caribbean Muslim Association (AACMA). Seperti dilaporkan Amaliah, lebih dari 450 orang dari beragam latar belakang agama, usia, ras, dan budaya hadir dalam acara tersebut.

"Setiap tahun, kami merasa terhormat dapat menyoroti individu dan organisasi yang karyanya mengangkat komunitas, menginspirasi orang lain, dan menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan," ujar Direktur AACMA, Marian Abdullah.

Malik El-Shabazz Award tahun ini diberikan kepada Romain Muhammad, penerima beasiswa Aziz Foundation, pelatih kepemimpinan, sekaligus spesialis inklusi. Melalui konsultannya, Room to Lead™️, ia membantu individu dan institusi membangun lingkungan kerja yang memberdayakan setiap orang untuk berkembang dan memimpin dengan tujuan yang jelas.

"Diakui dan dihormati dengan penghargaan yang menyandang nama tokoh besar seperti itu bukanlah hal kecil bagi saya," ujar Romain saat menerima penghargaan.

Di bidang lingkungan, Dr. Saeed Oluwadipe menerima Special Recognition Award. Selama lebih dari 15 tahun, ia berkecimpung di bidang keberlanjutan, pengelolaan lingkungan, serta pengurangan dan daur ulang sampah. Menurut Amaliah, kiprahnya antara lain membantu masjid dan lembaga amal Muslim menjadi pelopor dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Dari dunia kesehatan, Dr. Ayo Khalil Moiett, dokter di layanan kesehatan nasional Inggris (NHS), meraih Peace Advocate Award. Selain bertugas sebagai tenaga medis, ia aktif sebagai pegiat perdamaian dan pengorganisasi komunitas. Kiprahnya mencerminkan semakin pentingnya peran kaum profesional yang menjembatani pelayanan publik dengan kepemimpinan di tengah masyarakat.

Dari sektor usaha, merek busana bernuansa Islami Hands of Imaani menyabet Business Entrepreneur Award. Merek ini dinilai berhasil memadukan kesuksesan komersial dengan tanggung jawab sosial. Sebagian keuntungannya disalurkan untuk kegiatan amal, termasuk menggalang dana bagi dapur umum di Croydon serta sejumlah proyek kemanusiaan internasional.

Kepedulian sosial juga tampak pada Let's Make Noise, peraih Charity and Non-Profit Award. Organisasi ini mendampingi anak dan remaja berkebutuhan khusus serta membantu para ibu yang menghadapi kerentanan tempat tinggal. Penghargaan ini menegaskan pentingnya jaringan dukungan lokal, terlebih ketika banyak organisasi komunitas menghadapi kebutuhan yang terus meningkat di tengah sumber daya yang kian terbatas.

Sementara itu, An Noor Cultural & Community Centre (ACCC Trust) meraih Community Impact Award. Penghargaan yang diterima direkturnya, Kalim Reid, ini diberikan atas kontribusi lembaga tersebut dalam merajut kerukunan masyarakat, menghidupkan kegiatan budaya, dan memberi dukungan bagi warga sekitar.

Kontribusi juga datang dari bidang seni dan budaya. Kinsi Abdulleh, pendiri Numbi Arts, menerima Lifetime Achievement Award dalam salah satu momen paling mengharukan malam itu. Selama tiga dekade, ia menggunakan seni dan budaya sebagai sarana pemberdayaan komunitas serta membuka ruang bagi suara-suara kulit hitam yang kerap absen dari institusi budaya arus utama. Penghargaan ini menjadi pengakuan pertama semacam itu yang ia terima sepanjang kiprahnya.

Kisah inspiratif juga datang dari Taqia Adelabu, peraih Sports Advocate Award. Ibu lima anak ini baru mengenal olahraga lari pada 2023. Sejak itu, ia rutin menuntaskan London Marathon setiap tahun, mengikuti berbagai lomba lari 10 kilometer dan setengah maraton, hingga menaklukkan ultramaraton sejauh 100 kilometer. Kini, ia menjadi pelatih lari bersertifikat sekaligus pemandu bersepeda (ride leader) di Cycle Sisters, organisasi yang mendorong Muslimah aktif bersepeda dan berkegiatan di luar ruangan.

Penerima lainnya adalah seniman Somalia Canab Cuud (Performing Artist Award) yang melestarikan buraanbur, tradisi puisi lisan dari kawasan Tanduk Afrika; Zainab Hassan (Social Media Content Creator Award) melalui platform The Documented Life; serta Inspyre (People's Choice Award), platform kreatif yang didirikan Mohamed Imam dan Sharmarke Ahmed untuk menumbuhkan minat literasi generasi muda lewat klub buku, lokakarya, dan proyek pemuda.

Acara yang dipandu seniman spoken word Muneera Pilgrim dan pencerita Alim Kamara ini juga menghadirkan pidato utama dari Profesor Mashood Baderin. Ia menekankan pentingnya representasi, persatuan, rasa memiliki, dan pencapaian bersama. Ajang ini didukung oleh Aziz Foundation, Awra Invest, Read Foundation, Human Appeal, dan British Muslim Trust.

Bagi penyelenggara, misinya sederhana: memastikan prestasi Muslim kulit hitam tidak hanya dirayakan di dalam komunitas, tetapi juga diakui sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial, budaya, dan kewargaan Inggris. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads