Lewati ke konten utama
Rabu, 22 Juli 2026 / 7 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

“Wisata Religi” sebagai Alternatif Menyembuhkan Jiwa di Tengah Dunia yang Lelah

4 menit baca 57 dibaca
Ahmad Yani, M.A

Oleh: Ahmad Yani, M.A

Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
“Wisata Religi” sebagai Alternatif Menyembuhkan Jiwa di Tengah Dunia yang Lelah
Makam Baqi' di Madinah dekat Masjid Nabawi. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di tengah dunia yang bergerak cepat, manusia modern menghadapi kelelahan yang tidak selalu tampak secara fisik. Ia hadir dalam bentuk kecemasan, kehampaan makna, hingga krisis spiritual yang sunyi namun menggerus dari dalam. Dalam konteks ini, “wisata religi” sepertinya bukan lagi sekadar perjalanan geografis menuju tempat suci, melainkan perjalanan eksistensial menuju kesehatan spiritual (spiritual well-being).

Islam sejak awal telah mengenalkan konsep perjalanan yang sarat makna. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang terdahulu.’” (QS. Al-An‘am: 11)

Ayat ini menjadi dalil perlunya eksplorasi fisik, sekaligus juga refleksi batin. Sebab, sebuah perjalanan menjadi sarana tafakkur untuk menghubungkan pengalaman empiris dengan kesadaran spiritual.

Dalam tradisi Islam, perjalanan spiritual sering kali dikaitkan dengan proses “tazkiyatun nafs” (penyucian jiwa). Kunjungan ke tanah suci, makam para ulama, atau tempat bersejarah Islam bukan sekadar ritual, melainkan medium transformasi diri.

Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: “Janganlah kalian melakukan perjalanan jauh kecuali ke tiga masjid: Masjidil haram, Masjidku ini (Nabawi) dan Masjid Al-Aqsha.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju tempat suci memiliki nilai spiritual yang istimewa. Di sana, manusia mengalami “disrupsi rutinitas”, yakni keluar dari zona nyaman duniawi untuk memasuki ruang kontemplatif.

Menurut Imam al-Ghazali, hati manusia ibarat cermin yang dapat berkarat oleh dosa dan kelalaian. Dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, ia menekankan pentingnya “’uzlah” (menepi dan menyepi) dan “rihlah” (perjalanan) sebagai sarana membersihkan hati dari distraksi dunia.

Senada dengan itu, Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menyatakan, bahwa bagaimana mungkin hati akan bercahaya jika gambaran dunia masih terpantul di dalamnya?

Wisata religi, dalam hal ini, menjadi ruang untuk menghapus “pantulan dunia” dan menggantinya dengan kesadaran ilahi.

Baca juga: Renungan Muslim Fans Bola Pasca Perhelatan Piala Dunia

Dimensi Kesehatan Spiritual dalam Perspektif Alquran

Alquran mengaitkan ketenangan jiwa dengan kedekatan kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, yang artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa kesehatan spiritual tidak dapat dipisahkan dari “dzikrullah”. Wisata religi menyediakan lingkungan yang kondusif untuk memperbanyak dzikir, doa, dan refleksi diri.

Lebih jauh, konsep “qalbun salim” atau hati yang sehat menjadi indikator utama keselamatan manusia, Allah berfirman, yang artinya: “(yaitu) pada hari ketika harta dan anal-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)

Dengan demikian, maka di sini perlu disadari bahwa “wisata religi” bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi bagian dari ikhtiar menjaga “kesehatan hati” sebagai inti eksistensi manusia.

Baca juga: Intimidasi dan Kekerasan Verbal: Antara Lisan dan Kezaliman

Spiritualitas di Era Modern

Ulama kontemporer, Prof Quraish Shihab menekankan bahwa spiritualitas Islam bersifat integratif, yakni tidak memisahkan antara ibadah ritual dan pengalaman hidup. Dalam konteks wisata religi, beliau melihatnya sebagai momentum “recharging spiritual” di tengah kehidupan modern yang cenderung materialistik.

Sementara itu, Syekh Yusuf al-Qaradawi memandang bahwa perjalanan dalam Islam memiliki fungsi “tarbiyah ruhiyah” (pendidikan spiritual), yang memperkuat iman melalui pengalaman langsung, bukan sekadar teori.

Wisata religi juga menjadi sarana “hijrah psikologis”, berpindah dari kondisi lalai menuju kesadaran ilahi. Ini relevan dengan kebutuhan manusia modern yang sering mengalami “spiritual emptiness”.

Dalam psikologi, kesehatan spiritual sering dikaitkan dengan “meaning-making” atau pencarian makna hidup. Viktor Frankl, seorang psikolog eksistensial, menegaskan bahwa manusia dapat bertahan dalam kondisi apa pun selama ia memiliki makna hidup. Dan wisata religi menyediakan ruang untuk itu, setidaknya ruang refleksi  untuk memahami tujuan hidup, ruang  ritual ibadah untuk menciptakan ketenangan mental , dan ruang komunitas spiritual untuk memperkuat rasa keterhubungan.  

Penelitian dalam positive psychology juga menunjukkan bahwa praktik spiritual seperti doa, dzikir, dan meditasi religius dapat menurunkan tingkat stres, meningkatkan kebahagiaan, dan memperkuat resiliensi psikologis. Dalam konteks ini, wisata religi berfungsi sebagai “terapi spiritual” alami.

Baca juga: Ketika Debat Kehilangan Adab

Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa wisata religi tidak boleh berhenti pada simbol dan formalitas. Sebab tanpa refleksi, ia berpotensi menjadi sekadar wisata biasa dengan label religius.

Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa ibadah tanpa kehadiran hati hanyalah gerakan kosong. Maka, esensi wisata religi terletak pada transformasi diri dari lalai menjadi sadar, dari gelisah menjadi tenang, dan dari orientasi egoistik menjadi ilahiah.

Wisata religi sejatinya adalah perjalanan pulang ke dalam diri. Ia mengajarkan bahwa kesehatan sejati tidak hanya terletak pada tubuh yang kuat, tetapi pada jiwa yang tenang dan hati yang hidup.

Di tengah dunia yang bising, mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar liburan, tetapi perjalanan yang menyembuhkan. Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya butuh tempat untuk pergi, tetapi juga punya alasan untuk kembali, dengan jiwa yang lebih utuh.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.