Lewati ke konten utama
Selasa, 20 Oktober 2026 / 9 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Catatan Pengalaman Haji 2026: Dedikasi Maksimal Nakes Kloter 75
Nakes Kloter 75, Dokter Putri dan Bu Siti Robi'ah memberikan layanan kesehatan kepada jemaah haji dengan maksimal dan penuh ketenangan, salah satunya menangani keluhan sakit Mbah Datoem. Foto: Dok. Pribadi/Muhamad Saefullah
Opini

Catatan Pengalaman Haji 2026: Dedikasi Maksimal Nakes Kloter 75

Catatan Pengalaman Haji 2026: Dedikasi Maksimal Nakes Kloter 75

/ 9 Jumadil Awal 1448 H 7 menit baca 99 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Di Makkah, pada jam ketika orang-orang bersiap menata niat untuk shalat malam, panggilan kepedulian justru menyapa lebih dulu. Pukul dua dini hari, saya sedang bersiap melangkahkan kaki menuju masjid di lantai dasar hotel.

Selama musim haji, masjid hotel menjadi alternatif rutin bagi jemaah yang tidak pergi ke Masjidil Haram untuk menggelar shalat malam berjamaah—mulai dari shalat Tahajud, Hajat, Taubat, hingga Witir, yang berlanjut dengan shalat Subuh. Lalu disambung dengan mendengarkan tausiah dari KH Mohammad Safwan, salah satu jemaah haji yang juga pengasuh Pondok Pesantren Modern Darul Qur’an Al Karim di Desa Karangtengah, Kecamatan Baturraden, Banyumas. Begitulah kegiatan kami selama di sana. Malam-malam di Tanah Suci senantiasa terisi ibadah, doa, dan harapan.

Belum sempat beranjak ke masjid, terdengar Mbah Datoem mengaduh sambil memegangi perutnya. Wajahnya tampak pucat menahan nyeri.

“Aduh… aduh… aduh, sakit,” katanya dengan suara keras.

Saya, yang setiap hari sekamar dengannya, segera menghampiri pensiunan Polri berusia 84 tahun itu. Saya cemas melihat kondisinya. Kali ini, keluhannya terdengar berbeda dari biasanya.

Saya segera meraih ponsel dan menghubungi Dokter Putri, dokter Kloter 75 yang mendampingi jemaah sejak di embarkasi di Tanah Air. Saat itu sekitar pukul dua dini hari waktu Arab Saudi. Sakit rupanya tak mengenal jadwal: ia tak menunggu adzan Subuh, apalagi menunggu seseorang selesai berwudhu.

Tak lama kemudian, Dokter Putri datang bersama Bu Siti Robi’ah. Keduanya menghampiri Mbah Datoem dengan senyum yang menenangkan. Meski masih kesakitan, Mbah Datoem disapa dan diajak berbincang sejenak dalam bahasa Ngapak.

Cara mereka menyapa terasa akrab, cara mereka menangani pun menenangkan. Mereka bukan hanya membawa obat, tetapi juga memberi perhatian yang membuat Mbah Datoem merasa ditemani. Tak terdengar keluhan dari keduanya meski panggilan datang pada dini hari. Alhamdulillah, Mbah Datoem mendapat penanganan yang baik.

Dari kejadian itu, saya semakin memahami kesibukan Dokter Putri dan Bu Siti. Bayangkan, lebih dari 400 jemaah Kloter 75 SOC asal Banyumas, Jawa Tengah, hanya dilayani dua tenaga kesehatan: seorang dokter dan seorang perawat.

Keluhan bisa datang kapan saja, dari pusing dan demam hingga kondisi yang memerlukan rujukan ke rumah sakit. Jemaah punya jadwal ibadah, penyakit punya jadwal sendiri. Sayangnya, penyakit tidak pernah menghadiri rapat koordinasi.

Obat Paling Manjur

Di tengah kesibukan melayani ratusan jemaah, ada satu hal yang mudah saya ingat dari Dokter Putri: senyumnya. Ia ramah dan sabar menghadapi keluhan jemaah. Dari pusing sampai batuk-batuk, semua perlu perhatian, apalagi keluhan yang lebih berat. Ia juga rajin mengingatkan jemaah agar menjaga kesehatan.

Dokter Putri menggunakan bahasa Ngapak yang akrab di telinga orang Banyumas. Nasihat kesehatan pun terasa lebih dekat. Tak perlu istilah medis yang terdengar canggih, tetapi malah membuat pendengarnya tambah mumet.

Barangkali begitulah seni berkomunikasi. Orang sakit tidak selalu membutuhkan kalimat rumit. Mereka perlu penjelasan yang mudah dipahami dan keyakinan bahwa keluhannya diperhatikan. Namun, senyum dokter bukan obat untuk semua penyakit. Senyum bisa menenangkan pasien, tetapi tidak menggantikan obat, alat medis, pemeriksaan lanjutan, ataupun perawatan di rumah sakit. Keramahan petugas penting, tetapi kecukupan fasilitas dan dukungan pelayanan juga tak boleh diabaikan.

Ini penting diingat. Kita sering memuji petugas yang bekerja dengan segala keterbatasan, lalu tanpa sadar menganggap keterbatasan itu lumrah. Dedikasi mereka mendapat pujian, tetapi kecukupan dukungan bagi mereka justru kerap luput dari perhatian. Padahal, orang yang menolong juga manusia. Dokter bisa lelah. Perawat bisa mengantuk. Keduanya membutuhkan istirahat, makanan, dan waktu untuk memulihkan tenaga. Mereka bukan malaikat yang kebetulan mengenakan seragam kesehatan.

Di antara orang-orang yang ikut merawat jemaah, ada Perawat Siti Robi’ah, tenaga kesehatan dari RSUD Ajibarang. Perjalanannya menjadi petugas kesehatan haji tidak berlangsung seketika. Kesempatan mengikuti tugas itu pernah datang, tetapi kala itu ia merasa belum siap. Setelah menyelesaikan pendidikan keperawatan dan mengikuti pelatihan, ia kembali berusaha.

Pernah pula Bu Siti Robi’ah terlambat mengetahui pembukaan seleksi hingga pendaftaran hampir ditutup. Pengalaman itu tidak membuatnya berhenti. Ia memperbanyak pelatihan dan seminar terkait kesehatan haji, sembari memantapkan niat serta memohon dukungan dan doa dari guru, keluarga, dan teman-temannya.

Bagi Bu Siti, bertugas di Tanah Suci bukan sekadar menjalankan profesi sebagai perawat. Ada kesempatan untuk melayani sesama, mengabdi kepada bangsa, sekaligus menjalankan tugas yang bermakna spiritual.

Bu Siti Robi’ah datang dengan bekal ilmu dan pengalaman, serta kesadaran bahwa merawat jemaah membutuhkan kesabaran, empati, dan kesiapan menghadapi keadaan yang tak selalu bisa diprediksi.

Begitulah, perjalanannya mengingatkan saya bahwa pengabdian sering dimulai jauh sebelum seseorang tiba di tempat tugas.

Armuzna dan Ujian Pengabdian

Jika malam di hotel saja sudah diwarnai panggilan darurat, tantangan lebih berat menunggu di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Cuaca, kepadatan, kelelahan, serta kondisi kesehatan jemaah membuat fase ini sangat menguras tenaga, terutama bagi lansia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan.

Menurut Bu Siti, Armuzna menjadi salah satu periode tersibuk. Pasien datang silih berganti, mulai dari demensia, influenza, pneumonia, hingga demam tinggi. Persediaan obat jemaah mulai habis, sementara stok bagi petugas pun menipis. Di tengah keterbatasan itu, solidaritas menjadi kekuatan: berangkat bareng, pulang bareng, mabrur bareng.

Semangat itu mengingatkan bahwa haji bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Keselamatan sesama juga bagian dari tanggung jawab. Bagi jemaah yang sakit, beristirahat dan mengikuti arahan petugas kesehatan merupakan ikhtiar agar ibadah tetap berjalan dengan selamat.

Saya membayangkan beratnya tugas Dokter Putri dan Bu Siti saat pasien terus berdatangan. Pengabdian mereka layak diapresiasi, tetapi apresiasi saja tidak cukup. Kecukupan tenaga kesehatan, obat-obatan, alat medis, dukungan rujukan, dan waktu istirahat petugas juga harus diperhatikan.

Pada intinya, sistem pelayanan yang baik tidak semestinya menunggu petugas kewalahan untuk menyadari bahwa mereka membutuhkan dukungan.

Obat Menipis, Tawakal Menebal

Pelayanan kesehatan haji menuntut kesiapan yang tidak sederhana. Jemaah ingin beribadah dengan tenang dan pulang dengan selamat. Namun, kondisi di lapangan tidak selalu sesuai rencana.

Tubuh manusia punya batas, sementara pertolongan bisa dibutuhkan kapan saja. Dalam keadaan seperti itu, tawakal menjadi pegangan. Jemaah belajar menerima keadaan, sementara petugas berusaha memberikan pertolongan sebaik mungkin.

Namun, tawakal tidak boleh dijadikan pembenaran atas kekurangan yang bisa diperbaiki. Persediaan obat perlu dihitung, jumlah tenaga kesehatan harus disesuaikan dengan kebutuhan, dan pendampingan jemaah lansia mesti dipersiapkan dengan serius.

Doa dan perencanaan bukan dua hal yang bertentangan. Dari perjalanan bersama Kloter 75, saya belajar bahwa pengabdian Dokter Putri dan Bu Siti perlu ditopang tata kelola yang baik. Kesabaran petugas tak boleh menjadi alasan untuk menunda perbaikan pelayanan.

Beberapa hari setelah peristiwa malam itu, saya mendapati Mbah Datoem sudah kembali bugar. Tetangga desa itu bahkan sudah tersenyum lebar dan terlihat nderes (mengaji Alquran) di kamar, seolah tak pernah ada erangan sakit perut pada pukul dua dini hari.

Melihat beliau kembali bersemangat, saya sadar: di Tanah Suci, kesembuhan sering kali hadir bukan hanya dari obat, melainkan dari sapaan hangat bahasa Ngapak dan perhatian tulus di saat paling lelah. Saya benar-benar melihat kenyataan itu dalam penanganan keluhan sakit Mbah Datoem.

Pengabdian Dokter Putri dan Bu Siti telah menjaga keselamatan rombongan kami. Mereka membuktikan bahwa di tengah keterbatasan fasilitas dan tenaga, tawakal memang harus makin menebal. Ketika ikhtiar telah maksimal dan penanganan dilakukan dengan sangat baik meski dengan keterbatasan, selanjutnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

Namun demikian, kepada pihak kementerian, kita perlu mengingatkan dengan tegas, bahwa kepasrahan jemaah adalah puncak iman, tetapi membiarkan keselamatan ratusan jiwa bertumpu pada pundak dua orang petugas jelas menandakan ada yang harus dibenahi dalam perencanaan.

Sungguh, harapan seluruh jemaah tidak muluk-muluk alias sangat sederhana: “mangkat sehat, balik sehat, mangkat bareng, mabrur bareng”. Begitulah jemaah orang Ngapak biasa mengatakannya.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads