Catatan Pengalaman Haji 2026: “Patah Hati” Terindah
Catatan Pengalaman Haji 2026: “Patah Hati” Terindah
Oleh: Muhamad Saefullah
Anggota Komisi Infokomdigi MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital —
“Di bawah kiswah-Mu aku
pasrahkan duka
Di hadapan-Mu aku tanggalkan seluruh nama
Sebab perpisahan ini bukan akhir cinta
Melainkan benih rindu yang makin membara...”
Entah dari mana bait-bait itu datang. Terlahir begitu saja ketika saya
berdiri menatap Ka’bah, menjelang meninggalkan Makkah. Barangkali karena ada
perasaan yang sulit dijelaskan dengan kalimat-kalimat biasa. Ada cinta yang tiba-tiba
terasa begitu dekat, justru ketika waktu untuk pergi sudah di depan mata.
Begitulah, dalam perjalanan haji, ada satu ibadah yang terasa berbeda
dari ibadah-ibadah lainnya: thawaf wada’. Sebuah putaran terakhir sebelum
seorang jemaah meninggalkan Makkah.
Bagi sebagian jemaah, mungkin hal ini terasa sebagai bagian dari rangkaian
manasik yang harus ditunaikan. Tetapi bagi saya, hari itu thawaf wada’ terasa
seperti sesuatu yang lebih personal. Ada perasaan berat meninggalkan tempat
yang selama lebih dari sebulan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kami tergabung dalam Kloter 75 SOC. Sebagian jemaah adalah lansia dan jemaah berisiko tinggi. Karena itu, dalam pelaksanaan thawaf wada, jemaah lansia dan mereka yang membutuhkan pendampingan mendapat perhatian lebih dahulu. Setelah mereka selesai, barulah para pendamping menunaikan thawaf wada’ untuk dirinya sendiri. Dan yang menarik, di situlah kisah Pak Datoem kembali menjadi bagian dari perjalanan saya.
Berpamitan Itu
Berat
Barangkali,
bagian tersulit dari sebuah perjalanan bukanlah ketika harus berangkat,
melainkan ketika harus berpamitan. Begitu pula dengan Mbah Datoem. Saya
mendapat amanah untuk menemani beliau melakoni thawaf wada’ di lantai dua. Saya
mendorong kursi rodanya perlahan mengitari Ka’bah. Dari atas sana, pandangan
kami terhampar luas. Lautan manusia di mathaf (area thawaf) bawah
bergerak seperti arus yang tak pernah putus.
Pada thawaf-thawaf
sebelumnya, wajah Mbah Datoem nyaris tanpa ekspresi. Makkah seperti menjadi
bagian dari perjalanan yang harus dilalui, sementara Ajibarang tetap menjadi
tempat yang ingin segera dituju. Ada ayam yang harus diberi makan. Ada pasar
desa yang dirindukan. Ada rumah yang menunggu kepulangan.
Tetapi hari itu
berbeda. Saat posisi kursi rodanya melintas lurus dengan Multazam di bawah
sana, wajah Mbah Datoem tiba-tiba berubah. Tangannya yang gemetaran terangkat
ke udara. Ia melambaikan tangan. Lalu mengecup telapak tangannya sendiri penuh
khidmat.
“Bismillahi,
Allahu Akbar,” ucapnya lirih.
Saya terdiam. Lelaki
sepuh yang selama ini menjadi tempat kami belajar banyak hal itu, tiba-tiba
memperlihatkan sisi yang belum pernah saya lihat sebelumnya: kesedihan karena
harus berpisah.
Mungkin selama
ini kita terlalu cepat mengira bahwa orang yang ingin pulang berarti sudah
tidak memiliki keterikatan dengan tempat yang ditinggalkan. Ternyata tidak.
Keinginan untuk pulang ke rumah dan rasa berat meninggalkan “Rumah Allah” bisa
hidup bersamaan di dalam hati seseorang.
Di hadapan Ka’bah
hari itu, Mbah Datoem seperti sedang berpamitan. Bukan dengan kata-kata
panjang. Bukan dengan doa yang terdengar jelas. Hanya dengan tangan yang
terangkat, sebuah lambaian, dan telapak tangan yang dikecupnya sendiri. Sederhana. Tetapi justru karena kesederhanaan
itu, perpisahan terasa begitu dalam.
Usai thawaf wada’,
saya mengantar Mbah Datoem kembali ke hotel. Perjalanan kami di Makkah belum
benar-benar selesai. Saya dan istri pun belum melakukan thawaf wada’ untuk diri
sendiri. Masih ada jeda beberapa hari sebelum kami meninggalkan Makkah menuju
Madinah.
Ternyata saya
baru memahami perpisahan itu beberapa hari kemudian, ketika giliran saya
sendiri harus berpamitan.
Pada hari yang
lain, ketika keberangkatan ke Madinah sudah semakin dekat, saya dan istri turun
ke mathaf di lantai dasar. Kali ini tanpa kursi roda. Tanpa amanah menemani
siapa-siapa. Hanya kami berdua, Ka’bah, dan kesadaran bahwa setelah
putaran-putaran ini selesai, kami benar-benar harus meninggalkan Makkah.
Setiap putaran
terasa hening. Kali ini murni kepasrahan seorang hamba yang sedang memohon
pamit. Tak ada yang bisa kami bawa pulang dari tempat ini selain doa, kenangan,
dan kerinduan yang mungkin justru akan tumbuh setelah kami pergi.
Usai putaran
ketujuh, kami menepi dan duduk bersimpuh sejajar dengan Multazam. Cukup lama
kami bersimpuh dalam doa, khusyuk memandang Ka’bah. Dari jarak dekat itu, rasa
enggan berpisah menyergap hebat. Inilah “patah hati” terindah.
Setelah doa selesai, saya berjalan mundur perlahan. Saya tidak ingin membelakangi Ka’bah. Selangkah demi selangkah saya mundur, sampai akhirnya sebuah tembok menghalangi pandangan. Ka’bah hilang dari pandangan. Dan untuk pertama kalinya, saya merasa benar-benar pergi.
Doa untuk
Kembali
Bus perlahan
meninggalkan Makkah. Dari balik kaca jendela, kota suci itu semakin jauh.
Hotel, jalan, menara, dan keramaian yang selama lebih dari sebulan menjadi
bagian dari keseharian kami perlahan berganti menjadi kenangan.
Namun rupanya, meninggalkan
Makkah tidak serta-merta membuat rindu ikut pergi. Justru sebaliknya. Semakin
jauh bus bergerak menuju Madinah, semakin terasa ada sesuatu yang tertinggal di
belakang. Bukan koper. Bukan barang bawaan. Entah apa namanya.
Mungkin doa-doa
yang belum selesai. Mungkin kenangan yang belum sempat kami cerna. Atau mungkin
sebagian kecil dari hati yang diam-diam masih ingin tinggal di dekat Ka’bah.
Perjalanan menuju
Madinah seharusnya menjadi babak berikutnya. Tetapi hati kadang memiliki
jalannya sendiri. Tubuh bergerak ke depan, sementara sebagian perasaan masih
tertinggal di belakang.
Begitulah rindu.
Ia tidak selalu datang ketika kita sedang jauh. Kadang ia justru mulai tumbuh
ketika kita baru saja meninggalkan sesuatu yang kita cintai.
Dan beberapa
waktu kemudian, ketika kami sudah berada di Tanah Air, Indonesia, saya
berkesempatan bersilaturahim ke kediaman Mbah Datoem di Ciberung,
Ajibarang—satu kecamatan dengan tempat tinggal saya.
Pertemuan itu
berlangsung dalam suasana yang begitu akrab. Kami kembali berbincang, mengenang
kebersamaan selama di Tanah Suci, tentang hari-hari indah yang kini perlahan menjadi
cerita.
Di tengah
obrolan, saya iseng menggoda beliau dengan nada bercanda. “Mbah Datoem, kaji
maning yuk?”
Beliau spontan
tersenyum, “Ayuk.”
Hanya satu kata. Tetapi
entah mengapa, jawaban sederhana itu terasa seperti doa. Begitulah rindu
bekerja. Tidak selalu datang dalam bentuk tangis. Kadang cukup hadir dalam satu
kata seperti yang dilontarkan sosok sepuh yang begitu mewarnai perjalanan haji
saya tempo hari.
Ayuk kembali. Ayuk menjadi tamu-Nya
lagi. Entah kapan. Entah dengan cara bagaimana. Sebab untuk kembali ke “Rumah-Nya”,
manusia hanya bisa berharap. Selebihnya, biarlah Allah yang menentukan jalan.
Jika kelak benih rindu ini kembali meluap dan dada tak lagi sanggup menampungnya, hanya satu doa lugu yang ingin kami titipkan ke langit: “Ya Allah, panggil kami kembali ke Rumah-Mu. Soal bagaimana caranya, terserah Engkau saja.”