Khutbah Jumat: Muhasabah Jalan Meraih Kebahagiaan di Akhirat
Oleh: Admin
Foto: freepik
Oleh: KH Nur Rohmad, Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan MUI Kab Mojokerto
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيْرُ، دَبَّرَ فَأَحْكَمَ التَّدْبِيْرَ، وَقَدَّرَ وَشَاءَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً أَسْأَلُ رَبِّي لِي وَلَكُمْ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يُجِيْرََنَا مِنْ نَارِ السَّعِيْرِ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محمدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْهَادِي الْبَشِيْرُ، وَالْقَمَرُ الْمُنِيْرُ، اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ،
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، اِتَّقُوْا اللهَ فَإِنَّ تَقْوَاهُ أَفْضَلُ مُكتَسَبٍ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ فِي الْقُرْْآنِ الْكَرِيْمِ: ﵟوَإِن تُبۡدُواْ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ أَوۡ تُخۡفُوهُ يُحَاسِبۡكُم بِهِ ٱللَّهُۖ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah..
Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah ta’ala, satu-satunya Tuhan yang wajib dan berhak disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan terjadinya segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak membutuhkan kepada segala sesuatu dan berbeda dengan segala sesuatu, yang tidak membutuhkan kepada tempat dan arah serta Maha Suci dari bentuk dan ukuran.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...
Allah ta'ala Maha Mengetahui apapun yang terjadi di alam raya ini. Dia senantiasa mengetahui seluruh keadaan hamba-hamba-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Karenanya, hamba yang beruntung dan berbahagia adalah yang selalu mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berpegang pada petunjuk, ajaran, dan bimbingannya.
Hamba yang sukses dan selamat adalah yang takut akan hari perhitungan, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam Alquran:
ﵟوَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١
Maknanya: "Adapun orang yang takut kelak akan dihisab oleh Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga adalah tempat tinggalnya." (QS an-Nazi’at: 40-41)
وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ
Yakni, ia takut akan pertanyaan di hari perhitungan saat ia dihisab dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati dengan menjauhi hal-hal yang diharamkan serta menunaikan kewajiban yang telah Allah Subhanahu wata’ala tetapkan atas dirinya.
وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ
Yakni, ia menahan dirinya dari keinginan hawa nafsu yang tercela, yaitu apa yang diinginkan dan dicondongi oleh hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada keburukan, yang bertentangan dengan syariat Allah ta’ala.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah..
Salah satu sebab utama seseorang takut akan hisab di akhirat dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu tercela adalah dengan senantiasa memuhasabah (mengintrospeksi) dan mengawasi dirinya. Muhasabah yang sejati adalah muhasabah yang pahit, yakni berani mengatakan dan melakukan kebenaran meskipun terasa pahit.
Sebagian orang ketika mulai memuhasabah dirinya, mendapati bahwa ia telah memakan harta orang lain, merampas tanah orang lain, atau melanggar hak-hak sesama.
Ketika ia ingin mengembalikannya, terasa sulit baginya, sehingga menjadi pahit untuk dilakukan. Andai saja ia mengikuti nasihat Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَزِنُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا، أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسِبُوْا نُفُوْسَكُمْ اليَوْمَ، وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ ﵟيَوۡمَئِذٖ تُعۡرَضُونَ لَا تَخۡفَىٰ مِنكُمۡ خَافِيَةٞ
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Sesungguhnya akan lebih ringan bagi kalian di hari perhitungan kelak jika kalian menghisab diri kalian hari ini. Dan bersiaplah untuk menghadapi ‘Hari Perhitungan’, sebagaimana firman Allah: ‘Pada hari itu kalian akan dihisab oleh Allah, tiada sesuatu pun dari kalian yang tersembunyi.’� (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab az-Zuhd)
Oleh karena itu, barang siapa yang memuhasabah dirinya di dunia, maka akan terasa ringan baginya urusan di akhirat. Dan konsekuensi dari muhasabah diri, jika kita berbuat maksiat, adalah segera bertobat.
Ma’asyiral Muslimin rahimakullah..
Sesungguhnya manusia di dunia ini senantiasa berada dalam jihad melawan hawa nafsu, melawan setan dari kalangan manusia maupun jin, serta melawan dunia yang fana ini.
Dalam sebuah pertempuran, manusia bisa saja terluka, namun yang benar-benar membinasakan adalah ketika ia duduk diam dan malas berjuang.
Setiap hari begitu kita bangun dari tidur, sesungguhnya kita kembali memasuki medan pertempuran, medan jihad. Dan akhir dari pertempuran ini hanyalah ketika ajal kita tiba, bukan sebelumnya.
Sebagian orang menyangka bahwa jika ia telah shalat, berpuasa, dan bertobat kepada Allah, maka ia telah terbebas dari godaan setan dan selamat dalam pertempuran ini. Padahal, Imam Ahmad bin Hanbal ketika sakit menjelang wafatnya—sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman—beliau memandang ke sudut rumah sambil berkata:
لَا لَيْسَ بَعْدُ، لَا حَتَّى أَمُوْتَ
"Tidak, belum sekarang tidak, sampai aku mati."
Saat itu putranya bertanya, "Wahai ayah, apa yang terjadi? Apa yang Ayah lihat? Beliau menjawab:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَائِمٌ بِحِذَائِيْ يَقُوْلُ: يَا أَحْمَدُ فُتَّنِي، وَأَنَا أَقُوْلُ: لَا لَيْسَ بَعْدُ، لَا حَتَّى أَمُوْتَ
"Sesungguhnya setan berdiri di sampingku seraya berkata: ‘Wahai Ahmad, engkau telah terbebas dariku.’ Maka aku menjawab: ‘Tidak, belum sekarang tidak, sampai aku mati.’"
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah..
Maka dari itu, marilah kita menghisab dan memuhasabah diri kita sebelum kita dihisab oleh Allah Yang Maha Mendengar tanpa telinga dan Maha Melihat tanpa mata serta Maha Mengetahui segala sesuatu, tiada sesuatu apapun yang tersembunyi dari-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ (رواه الترمذي)
Maknanya: "Orang yang cerdas adalah yang selalu mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah." (HR at -Tirmidzi)
Jadi orang yang cerdas dan bijak adalah yang menghisab dirinya di dunia sebelum ia dihisab pada hari kiamat. Sedangkan orang yang lemah adalah yang tidak menahan dirinya dari syahwat, tidak mencegahnya dari perbuatan haram dan kesenangan yang terlarang, walaupun ia banyak dosa, ia berangan-angan pengampunan dosa dari Allah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah..
Namun penting untuk kita camkan bersama bahwa muhasabah dan introspeksi diri membutuhkan ilmu. Bagaimana mungkin seseorang menghisab dirinya sementara ia tidak mengetahui mana yang halal dan mana yang haram? Apakah kita pernah mendengar ada sebuah perusahaan yang menempatkan seorang akuntan yang tidak mampu membedakan antara kerugian dan keuntungan? Tentu tidak.
Ada seseorang berkata, "Aku hanya memiliki seratus ribu, lalu aku melihat seorang fakir meminta uang, kemudian aku memberinya seratus ribu itu. Setelah berjalan sedikit, aku menemukan uang satu juta tergeletak di jalan, lalu aku mengambilnya. Ia lalu berkata—padahal ucapannya ini bertentangan dengan syariat Allah—Itu karena aku telah bersedekah kepada fakir tadi."
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah..
Seandainya ia memiliki ilmu, tentu ia tahu bahwa dalam syariat Allah hal itu disebut luqathah (barang temuan), dan tidak boleh ia mengambil serta menggunakannya sebelum menanyakan dan mencari pemiliknya sesuai dengan rincian yang telah dijelaskan para ulama.
Orang seperti ini, jika ia hendak menghisab dan memuhasabah dirinya, maka ia tidak akan mampu melakukannya, sebab ia tidak bisa membedakan antara halal dan haram.
Saudara-saudara seiman, jika kita telah memiliki ilmu dan mampu membedakan antara halal dan haram, maka kita akan menang melawan hawa nafsu dan menang melawan setan. Dengan itu, Allah ta’ala akan menolong kita menghadapi musuh-musuh kita. Sebagaimana firman Allah:
ﵟيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ
Maknanya: "Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian memperjuangkan agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian." (QS Muhammad: 7)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah..
Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat kita amalkan bersama.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: ﵟإِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، ﵟإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ