Khutbah Jumat: Tentang Usia Manusia
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: Dr Muhammad Alvi Firdausi, S.Si., M.A, Anggota Komisi Fatwa MUI
Khutbah I
الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي
هَدَانَا سُبُلَ السّلام، وأفهمنا بشريعة النبي الكريم، أشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريك له، ذو الجلال والإكرام، وأشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَ
سَلَّمْ وبارك عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اله وأصحابه والتابعين
بِإِحْسانِ إِلَى يَوْمِ الدِّين
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الإخوان،
أوْصَيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ،
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيمُ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمُ: (يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا) وقال تعالى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ). صَدَقَ اللَّهُ العَظِيمُ
Jamaah Sidang Jumat Rahimakumullah,
Para fuqaha berijtihad bahwa usia manusia
terbagi menjadi 4 fase. Yaitu fase shabiy atau bayi, kemudian fase athfal
atau anak-anak, kemudian fase syabab atau pemuda, kemudian fase kahulah
atau usia dewasa, yaitu 40 tahun, dan terakhir fase syuyukh atau tua,
yaitu di atas 60 tahun.
Tujuan klasifikasi umur ini adalah agar kita
menjadi semakin dewasa dalam menghadapi perjalanan hidup di dunia serta mematangkan
persiapan akhirat seiring bertambahnya usia.
Betapa seringnya kita terlena dalam menghadapi
perjalanan dunia. Kita selalu percaya diri, menganggap hidup di dunia masih
lama dan jauh. Padahal setiap manusia memiliki jatah kontrak hidup di dunia
yang pasti. Kedatangannya sangat mendadak dan tidak ada yang mengetahuinya. Hal
ini termaktub di dalam Alquran surat Al-A’raf ayat 34, Allah SWT berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلَّ فَإِذَا جَاءَ
أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Setiap umat mempunyai ajal (batas
waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan
tidak dapat (pula) meminta percepatan.”
Atas dasar itu, pada kesempatan ini khatib
mengajak kepada para jamaah sekalian marilah kita melakukan muhasabah
berdasarkan penggalan firman Allah dalam surat Al-Ahqaf ayat 15:
حَتّٰٓى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهُ وَبَلَغَ
اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ
الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا
تَرْضٰهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۚ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ
مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Sehingga, apabila telah
dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, ‘Wahai
Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang
Engkau ridhai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku.
Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang
muslim.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ayat ini memberikan banyak nasihat kepada
kita tentang makna usia 40 tahun, di mana manusia telah memasuki fase kahulah.
Pada fase ini, Allah memberikan kematangan dan puncak kedewasaan dalam hal
berpikir maupun tanggung jawab.
Momentum usia 40 tahun adalah titik start
bagi manusia untuk kembali ke jalan Allah serta meningkatkan keseriusan
memikirkan akhirat, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak. Muaranya, akan
terbangun koneksi hablun minallah yang baik. Sebab tidak ada cara lain
untuk membangun jaringan akhirat kecuali dengan peningkatan keimanan dan ketakwaan.
Hal ini sebagaimana pesan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ
التَّقْوَى
“… Dan berbekallah, sesungguhnya
sebaik-baik bekal adalah takwa.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Selanjutnya, perkara yang layak kita
renungkan adalah bagaimana cara membekali diri yang diridhai oleh Allah.
Tentu ibadah lahiriah tidak bisa dilakukan
secara serampangan. Tetapi kita harus tahu bagaimana caranya agar ibadah yang
kita lakukan dapat dipanen di akhirat kelak.
Jangan sampai kita selaku makhluk yang
sempurna dengan akal, kalah dengan burung yang terbang di awan. Mereka, meskipun
tidak dikaruniai akal, tahu bagaimana cara beribadah kepada Allah.
Allah berfirman di dalam surat An-Nur ayat
41:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ
فِي السَّمَوتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَفْتُ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ
وَتَسْبِيحَةٌ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُوْنَ
“Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) tahu
bahwa sesungguhnya kepada Allah-lah apa yang di langit dan di bumi dan
burung-burung yang merentangkan sayapnya senantiasa bertasbih. Masing-masing
sungguh telah mengetahui doa dan tasbihnya. Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka lakukan.”
Dan cara beribadah itu adalah sebagaimana
termaktub di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15:
وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَيهُ
Yaitu bahwa setiap ibadah yang kita amalkan
haruslah didasarkan pada hadirnya nilai keikhlasan yang semata-mata ditujukan
kepada Allah.
Ibadah tanpa ikhlas hanya akan mendatangkan
riya’, ujub, takabbur, dan berbagai keburukan yang dimurkai oleh Allah SWT.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di dalam kitab Tanbihul Ghafilin
dikisahkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW dijumpai oleh salah seorang sahabat.
Ketika itu beliau dalam keadaan menangis. Sahabat tersebut lalu bertanya
tentang penyebabnya.
Rasulullah menjawab bahwa sesaat yang lalu
Malaikat Jibril menginformasikan bahwa Allah segan mendatangkan musibah
terhadap suatu kaum selama di dalamnya ada kelompok orang yang sudah beruban
tetapi hatinya tetap tertambatkan untuk selalu dekat dengan Allah. Inilah yang
membuat Rasulullah menangis terharu.
Di sini, kita melihat betapa Allah
memberikan sebuah apresiasi yang tinggi terhadap golongan syuyukh yang
selalu berupaya mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu, adalah sebuah tindakan
yang sangat keterlaluan jika pada fase kahulah, terlebih lagi saat masuk
fase syuyukh, ternyata seorang muslim masih menjalani hidup melalaikan
Allah dengan melakukan sesuatu yang tidak diridhai-Nya.
Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang
selalu mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah. Dan semoga segala amal ibadah
kita diridhai oleh Allah SWT. Amin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ
الْعَظِيمِ وَنَفْعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ
اقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا
إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ
ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ،
فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.