Menggabungkan Puasa Sunah Rajab dengan Qadha Puasa Ramadhan, Bolehkah?
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital— Rajab termasuk salah satu dari empat bulan suci (asyhurul ḥurum) yang memiliki keutamaan dalam ajaran Islam.
Bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, Rajab menempati posisi Istimewa, kemuliaan bulan ini kian dipertegas melalui anjuran untuk meningkatkan amal kebaikan, di antaranya dengan melaksanakan puasa sunah. Berkenaan dengan hal ini Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ: الْخَمِيسَ وَالْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ، كَتَبَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ عِبَادَةَ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ
Artinya: “Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan haram, yaitu hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, maka Allah Ta’ala akan mencatat baginya pahala ibadah selama tujuh ratus tahun.” (HR At-Thabrani)
Usai berlalunya Ramadhan, tidak sedikit umat Islam yang masih menanggung kewajiban puasa karena uzur tertentu, seperti sakit dan lain sebagainya. Kewajiban mengqadha puasa tersebut semestinya segera ditunaikan sebelum tiba Ramadhan berikutnya.
Lantas, kemudian muncul pertanyaan bolehkah seseorang yang masih memiliki utang puasa wajib Ramadhan menggabungkan niat antara puasa sunah Rajab dengan puasa qadha yang menjadi kewajibannya?
Merujuk keterangan sejumlah literatur fiqih, menggabungkan niat puasa sunnah Rajab dengan qadha puasa Ramadan hukumnya diperbolehkan dan dan sah, disamping itu pelakunya juga berhak memperoleh pahala dari kedua ibadah tersebut.