3 Doa Hari Asyura’ yang Diamalkan Ulama, Lengkap Disertai Tulisan Latin, Terjemah, dan Keterangan Keutamaannya
Jakarta, MUI Digital — Hari Asyura’, yaitu tanggal 10 Muharram merupakan salah satu hari yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Sejak masa para nabi terdahulu, hari tersebut telah dikenal sebagai hari yang mulia dan diagungkan.
Pada hari itu, umat Islam dianjurkan
memperbanyak berbagai amal ibadah, terutama puasa Asyura’ yang memiliki
keutamaan berupa penghapusan dosa selama satu tahun yang telah lalu.
Namun, amalan pada hari Asyura’ tidak
terbatas pada ibadah puasa semata. Para ulama juga menganjurkan agar kaum muslimin
menghidupkan malam dan siangnya dengan memperbanyak ibadah, membaca Alquran,
berdzikir, serta memanjatkan doa kepada Allah.
Lantaran Hari Asyura’ dipandang sebagai waktu yang penuh keberkahan dan limpahan rahmat, maka sangat dianjurkan untuk diisi dengan berbagai bentuk amal ibadah.
Baca juga: Puasa Sunnah Muharram: Keutamaan, Tata Cara Mengamalkan, dan Hikmahnya
Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus
al-Makki asy-Syafi’i (wafat 1335 H) dalam kitabnya mengungkapkan:
اعْلَمْ: أَنَّ مِنَ الْمَطْلُوبِ فِي
عَاشُورَاءَ إِحْيَاءَ لَيْلَتِهِ؛ فَهُوَ مِنْ أَعْظَمِ مَا حَثَّ عَلَيْهِ
الشَّارِعُ؛ لِمَا فِيهَا مِنَ الْإِمْدَادَاتِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْفُيُوضَاتِ
الْإِحْسَانِيَّةِ، وَلَا سِيَّمَا بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ أَوْ
سَمَاعِهِ، وَبِمَا وَرَدَ مِنَ الْأَدْعِيَةِ وَالْأَذْكَارِ
“Ketahuilah bahwa di antara amalan yang
dianjurkan pada hari Asyura’ adalah menghidupkan malamnya. Hal ini termasuk
amalan yang sangat dianjurkan oleh syariat, lantaran pada malam itu terdapat
limpahan pertolongan dan karunia ilahi serta curahan kebaikan dari Allah.
Terlebih lagi, amalan tersebut dilakukan dengan membaca atau mendengarkan
Alquran, serta memperbanyak doa maupun dzikir yang telah diajarkan dalam
berbagai riwayat.” (Kanzun Najah wa as-Surur
[Beirut: Dar al-Hawi], h. 80)
Terkait hal ini, merujuk pada keterangan para
ulama dalam beberapa literatur turats, terdapat sejumlah doa yang dianjurkan
untuk diamalkan pada hari Asyura’. Setidaknya terdapat tiga bacaan yang cukup
masyhur diamalkan oleh para ulama saleh terdahulu, yaitu sebagai berikut:
1. Doa Hari Asyura’ yang Diamalkan Syekh
Nawawi al-Bantani
Syekh Nawawi al-Bantani (wafat 1316 H)
dalam karyanya menukil keterangan Imam Ibn Hajar al-Asqalani terkait kalimat
doa yang dianjurkan dibaca pada Hari Asyura’. Ia menjelaskan bahwa siapa saja
yang mengamalkannya pada Hari Asyura’, niscaya hatinya tidak akan mati.
وَقَدْ ذَكَرَ إِمَامُ الْمُحَدِّثِينَ
ابْنُ حَجَر الْعَسْقَلَانِيُّ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ كَلِمَاتٍ مَنْ قَالَهَا
فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ
“Imam Ibn Hajar al-Asqalani, imam para
ahli hadis menyebutkan dalam kitab Syarh Shahih Bukhari beberapa bacaan doa
yang apabila dibaca pada Hari Asyura’, maka hatinya tidak akan mati.” (Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar
al-Fikr], vol. 1, h. 196)
Sementara Syekh Sulaiman al-Jamal (wafat
1204 H) dalam catatannya mengutip pendapat sebagian kalangan sufi bahwa orang
yang membaca doa tersebut pada Hari Asyura’ tidak akan meninggal pada tahun
itu, sedangkan orang yang telah dekat ajalnya tidak akan diberi ilham untuk
membacanya. Beliau juga menegaskan, bahwa doa tersebut termasuk amalan yang
telah terbukti manfaatnya di kalangan para pengamalnya.
وَنُقِلَ عَنْ بَعْضِ الصُّوفِيَّةِ
أَنَّ مَنْ قَرَأَ هَذَا الدُّعَاءَ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ لَمْ يَمُتْ فِي
سَنَتِهِ وَمَنْ فَرَغَ أَجَلُهُ لَمْ يُلْهِمْهُ اللَّهُ تَعَالَى قِرَاءَتَهُ
وَهُوَ مِنْ الْمُجَرَّبَاتِ الَّتِي لَا شَكَّ فِيهَا
“Diriwayatkan dari sebagian kalangan
sufi bahwa barang siapa membaca doa ini pada hari Asyura’, maka ia tidak akan
meninggal dunia pada tahun itu. Adapun seseorang yang ajalnya telah dekat, maka
Allah tidak akan memberinya ilham untuk membaca doa itu. Doa ini termasuk
amalan yang disebut telah terbukti melalui pengalaman para pengamalnya dan tidak
diragukan manfaatnya.” (Hasyiyah al-Jamal Ala
Syarh al-Minhaj [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 2, h. 348)
Doa ini berisi tasbih, tahmid, takbir, permohonan keselamatan, serta pengakuan bahwa tidak ada tempat berlindung selain kepada Allah. Kandungan utamanya adalah memperbanyak pengagungan kepada Allah dan memohon perlindungan serta keselamatan kepada-Nya.
Baca juga: Niat Puasa Asyura’, Lengkap Disertai Dalil Kesunnahan dan Tata Cara Pelaksanaannya
Adapun lafaz doa yang dimaksud adalah sebagai berikut:
سُبْحَانَ اللَّهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ،
وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا، وَزِنَةَ الْعَرْشِ، وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ، وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا، وَزِنَةَ
الْعَرْشِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِلْءَ الْمِيزَانِ، وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ
وَمَبْلَغَ الرِّضَا، وَزِنَةَ الْعَرْشِ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ
اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ. سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ،
وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ
الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ، وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا،
وَاللَّهُ أَكْبَرُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللَّهِ
التَّامَّاتِ كُلِّهَا. أَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِينَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ
الْعَظِيمِ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Subḥānallāhi mil’al-mīzān, wa
muntahal-‘ilmi, wa mablaghar-riḍā, wa zinatal-‘arsy. Wal-ḥamdu lillāhi
mil’al-mīzān, wa muntahal-‘ilmi, wa mablaghar-ridhā, wa zinatal-‘arsy. Wallāhu
akbaru mil’al-mīzān, wa muntahal-‘ilmi, wa mablaghar-riḍā, wa zinatal-‘arsy. Lā
malja’a wa lā manjā minallāhi illā ilaih. Subḥānallāhi ‘adadasy-syaf‘i
wal-watr, wa ‘adada kalimātillāhit-tāmmāti kullihā. Wal-ḥamdu lillāhi
‘adadasy-syaf‘i wal-watr, wa ‘adada kalimātillāhit-tāmmāti kullihā. Wallāhu
akbaru ‘adadasy-syaf‘i wal-watr, wa ‘adada kalimātillāhit-tāmmāti kullihā.
As’alukas-salāmata biraḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn. Wa lā ḥaula wa lā quwwata
illā billāhil-‘aliyyil-‘aẓīm. Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā
ālihī wa shaḥbihī ajma‘īn. Wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.
“Mahasuci Allah sepenuh timbangan amal,
sejauh batas ilmu, sebesar keridaan, dan seberat Arasy. Segala puji bagi Allah
sepenuh timbangan amal, sejauh batas ilmu, sebesar keridaan, dan seberat Arasy.
Allah Mahabesar sepenuh timbangan amal, sejauh batas ilmu, sebesar keridaan,
dan seberat Arasy. Tiada tempat berlindung dan tiada jalan keselamatan dari
Allah kecuali kepada-Nya. Mahasuci Allah sebanyak bilangan yang genap dan
ganjil serta sebanyak seluruh kalimat Allah yang sempurna. Segala puji bagi
Allah sebanyak bilangan yang genap dan ganjil serta sebanyak seluruh kalimat
Allah yang sempurna. Allah Mahabesar sebanyak bilangan yang genap dan ganjil
serta sebanyak seluruh kalimat Allah yang sempurna. Aku memohon kepada-Mu
keselamatan dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para
penyayang. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang
Mahatinggi lagi Mahaagung. Semoga Allah melimpahkan salawat kepada junjungan
kami Rasulullah Muhammad beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau. Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
2. Doa Hari Asyura’ yang Diamalkan Syekh
Abdul Hamid Quddus al-Makki
Doa kedua disebutkan oleh Syekh Abdul Hamid
Quddus al-Makki dalam kitabnya, Kanzun Najah wa as-Surur. Doa ini berisi
permohonan kepada Allah dengan menyebut berbagai pertolongan yang pernah
diberikan-Nya kepada para nabi.
Dalam doa tersebut disebutkan bagaimana
Allah menyelamatkan Nabi Yunus, mengumpulkan kembali keluarga Nabi Ya’qub,
mengampuni Nabi Dawud, menghilangkan penderitaan Nabi Ayyub, serta mengabulkan
doa Nabi Musa dan Nabi Harun.
Doa ini juga memuat permohonan agar Allah
memenuhi segala kebutuhan dunia dan akhirat, memanjangkan umur dalam ketaatan,
memberikan kehidupan yang baik, serta menjadi sebab diwafatkannya seorang hamba
dalam keadaan Islam dan iman.
Adapun lafaz doa yang dimaksud adalah
sebagai berikut:
اللهم يَا مُفَرِّجَ كُلِّ كَرْبٍ، وَيَا
مُخْرِجَ ذِي النُّونِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَا جَامِعَ شَمْلِ يَعْقُوبَ يَوْمَ
عَاشُورَاءَ، وَيَا غَافِرَ ذَنْبِ دَاوُودَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَا كَاشِفَ
ضُرِّ أَيُّوبَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَا سَامِعَ دَعْوَةِ مُوسَى وَهَارُونَ
يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَا خَالِقَ رُوحِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَبِيبِهِ وَمُصْطَفَاهُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَا رَحْمَنَ
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَا إِلَهِ إِلَّا أَنْتَ؛ اقْضِ حَاجَتِي فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ، وَأَطِلْ عُمْرِي فِي طَاعَتِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَرِضَاكَ يَا
أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَأَحْيِنِي حَيَاةً طَيِّبَةً، وَتَوَفَّنِي عَلَى
الإِسْلَامِ وَالإِيمَانِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allāhumma, yā Mufarrija kulli karbin, wa yā
Mukhrija Żin-Nūni yauma ‘Āsyūrā’, wa yā Jāmi‘a syamli Ya‘qūba yauma ‘Āsyūrā’,
wa yā Ghāfira dzanbi Dāwūda yauma ‘Āsyūrā’, wa yā Kāsyifa ḍurri Ayyūba yauma
‘Āsyūrā’, wa yā Sāmi‘a da‘wati Mūsā wa Hārūna yauma ‘Āsyūrā’, wa yā Khāliqa rūḥi
sayyidinā Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama ḥabībihī wa muṣṭafāhu yauma
‘Āsyūrā’, wa yā Raḥmāna ad-dunyā wal-ākhirah, lā ilāha illā anta. Iqdhi ḥājatī
fī ad-dunyā wal-ākhirah, wa aṭil ‘umrī fī ṭā‘atika wa maḥabbatika wa riḍāka yā
arḥama ar-rāḥimīn. Wa aḥyinī ḥayātan ṭayyibah, wa tawaffanī ‘alā al-Islāmi
wal-Īmān yā arḥama ar-rāḥimīn. Wa shallallāhu ta‘ālā ‘alā sayyidinā Muḥammadin
wa ‘alā ālihī wa shaḥbihī wa sallam.
“Ya Allah, wahai Dzat yang melapangkan setiap kesusahan, wahai Dzat yang menyelamatkan Nabi Yunus pada hari Asyura’, wahai Dzat yang mengumpulkan kembali keluarga Nabi Ya'qub pada hari Asyura’, wahai Dzat yang mengampuni dosa Nabi Dawud pada hari Asyura’, wahai Dzat yang menghilangkan penderitaan Nabi Ayyub pada hari Asyura’, wahai Dzat yang mengabulkan doa Nabi Musa dan Nabi Harun pada hari Asyura’, dan wahai Dzat yang menciptakan ruh junjungan kami Rasulullah Muhammad, kekasih dan pilihan-Mu, pada hari Asyura’. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di dunia dan di akhirat, tiada Tuhan selain Engkau. Penuhilah kebutuhanku di dunia dan di akhirat. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, kecintaan kepada-Mu, dan keridaan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Berilah aku kehidupan yang baik dan wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan iman, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Semoga Allah Ta‘ala melimpahkan salawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.” (Kanzun Najah wa As-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 87)
Baca juga: Keutamaan dan Hikmah Puasa Asyura’
3. Doa Hari Asyura’ yang Diamalkan Syekh
Ibrahim al-Aththar asy-Syami
Doa ketiga, dikutip oleh Syekh Abdul Hamid
Quddus, berasal dari Syekh Ibrahim al-Aththar asy-Syami. Doa ini bernuansa
pengakuan diri sebagai hamba yang penuh kesalahan di hadapan Allah Yang Maha
Baik dan Maha Pemurah.
Isi pokok doa ini adalah pengakuan bahwa
manusia merupakan hamba yang banyak melakukan kesalahan, sementara Allah ialah
Dzat Yang Maha Berbuat Baik dan Maha Pemaaf. Karenanya, seorang hamba memohon
agar keburukan yang ada pada dirinya dihapus dengan kemurahan dan kebaikan
Allah.
Doa ini juga mengandung permohonan agar
Allah mencukupkan kebutuhan hamba-Nya dengan karunia-Nya sehingga tidak
bergantung kepada selain-Nya. Sehingga, nuansa kerendahan hati dan pengharapan
kepada rahmat Allah menjadi pesan utama dalam doa ini.
Adapun lafaz doa tersebut adalah sebagai
berikut:
اللهم يَا مُحْسِنُ قَدْ جَاءَكَ الْمُسِيءُ،
وَقَدْ أَمَرْتَ يَا مُحْسِنُ بِالتَّجَاوُزِ عَنِ الْمُسِيءِ؛ فَأَنْتَ
الْمُحْسِنُ وَأَنَا الْمُسِيءُ، فَتَجَاوَزْ عَنْ قَبِيحِ مَا عِنْدِي بِجَمِيلِ
مَا عِنْدَكَ؛ فَأَنْتَ بِالْبِرِّ مَعْرُوفٌ، وَبِالْإِحْسَانِ مَوْصُوفٌ،
أَنِلْنِي مَعْرُوفَكَ، وَأَغْنِنِي بِهِ عَنْ مَعْرُوفِ مَنْ سِوَاكَ يَا
أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيماً كَثِيراً إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
Allāhumma, yā Muḥsinu qad jā’akal-musī’u,
wa qad amarta yā Muḥsinu bit-tajāwuzi ‘anil-musī’; fa anta al-Muḥsinu wa ana
al-musī’, fatajāwaz ‘an qabīḥi mā ‘indī bijamīli mā ‘indaka. Fa anta bil-birri
ma‘rūf, wa bil-iḥsāni mauṣūf. Anilnī ma‘rūfaka, wa aghninī bihī ‘an ma‘rūfi man
siwāka yā arḥamar-rāḥimīn. Wa shallallāhu ta‘ālā ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa
‘alā ālihī wa shaḥbihī wa sallama taslīman katsīran ilā yaumid-dīn.
“Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Berbuat
Baik, telah datang kepada-Mu seorang hamba yang banyak berbuat salah. Engkau,
wahai Dzat Yang Maha Berbuat Baik, telah memerintahkan untuk memaafkan orang
yang bersalah. Maka Engkaulah Dzat Yang Maha Berbuat Baik, sedangkan aku adalah
hamba yang banyak berbuat salah. Karena itu, ampunilah keburukan yang ada
padaku dengan keindahan dan kemurahan yang ada pada-Mu. Engkau dikenal dengan
kebaikan dan disifati dengan kemurahan. Anugerahkanlah kepadaku karunia-Mu dan
cukupkanlah aku dengannya sehingga aku tidak bergantung kepada kebaikan
selain-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Semoga
Allah Ta’ala melimpahkan salawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada
junjungan kami Rasulullah Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau,
hingga hari kiamat.” (Kanzun Najah wa As-Surur
[Beirut: Dar al-Hawi], h. 88-89)
Demikianlah tiga bacaan doa yang dianjurkan untuk dibaca pada hari Asyura’ beserta keutamaannya sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
Baca juga: Kapan Puasa Tasu’a dan Asyura’ Tahun Ini? Simak Penjelasan Berikut
Para ulama saleh terdahulu sangat
memperhatikan doa dan dzikir pada Hari Asyura’ sebab keutamaan yang terkandung di
dalamnya. Karena itu, sepatutnya kita juga memperhatikan hal ini. Jangan lupa
berdoa dan berdzikir pada Hari Asyura’.
Dengan menghidupkan Hari Asyura’ melalui
amalan yang diajarkan oleh para ulama terdahulu yang saleh, semoga kita semua
diberi keberkahan, ketenangan hati, limpahan rahmat Allah, pengampunan
dosa-dosa yang telah lalu.
Oleh karena itu, mari kita berusaha sungguh-sungguh untuk menjadikan Hari Asyura’ ini sebagai momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.