Keutamaan dan Hikmah Puasa Asyura’
Jakarta, MUI Digital — Di antara empat bulan mulia (asyhurul hurum) dalam Islam, bulan Muharram memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Selain menjadi pembuka tahun Hijriyah, bulan ini juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, salah satunya melalui ibadah puasa.
Di antara puasa yang paling dianjurkan pada
bulan Muharram ialah puasa Asyura’ yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.
Hari Asyura’ bukanlah hari yang baru dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW. Sejak masa para nabi terdahulu, hari tersebut telah menempati posisi yang mulia dan menjadi waktu yang diistimewakan.
Baca juga: Puasa Sunnah Muharram: Keutamaan, Tata Cara Mengamalkan, dan Hikmahnya
Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H)
dalam kitabnya menjelaskan bahwa puasa Asyura’ telah dikenal di kalangan para
nabi, bahkan sebelum diutusnya Rasulullah SAW.
يَوْمُ عَاشُورَاءَ لَهُ فَضِيلَةٌ
عَظِيمَةٌ وَحُرْمَةٌ قَدِيمَةٌ، وَصَوْمُهُ لِفَضْلِهِ كَانَ مَعْرُوفًا بَيْنَ
الْأَنْبِيَاءِ، وَقَدْ صَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ
“Hari Asyura’ memiliki keutamaan yang
sangat agung dan kemuliaan yang telah dikenal sejak dahulu. Puasa pada hari
tersebut karena keutamaannya telah dikenal di kalangan para nabi. Bahkan, Nabi
Nuh dan Nabi Musa ‘Alaihimassalam juga berpuasa pada hari itu.” (Lathaif al-Ma’arif [Beirut: al-Maktab al-Islami], vol. 1,
h. 92)
Keterangan ini menunjukkan bahwa puasa Asyura’
merupakan ibadah yang memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi kenabian.
Karena itulah, Rasulullah juga memberikan perhatian besar terhadap pelaksanaan
puasa pada hari tersebut.
Salah satu keutamaan terbesar puasa Asyura’
ialah menjadi sebab diampuninya dosa-dosa selama satu tahun yang telah lalu.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah riwayat hadis, Rasulullah SAW
bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى
اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ،
وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ
الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya: “Aku berharap kepada Allah agar
puasa pada hari Arafah dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu dan
setahun yang akan datang. Dan aku berharap kepada Allah agar puasa pada hari Asyura’
dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR Muslim)
Hadis di atas menunjukkan besarnya pahala
puasa Asyura’. Seorang muslim yang melaksanakannya dengan penuh keimanan dan
keikhlasan dapat memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kecil yang telah
diperbuat selama setahun sebelumnya.
Terkait keutamaan puasa Arafah yang bisa
menghapus dosa dua tahun dan puasa Asyura’ yang menghapus dosa satu tahun, para
ulama memberikan penjelasan yang menarik.
Syekh Abdurrahman al-Mubarakfuri (wafat
1414 H) menerangkan bahwa makna penghapusan dosa pada tahun yang akan datang
dalam puasa Asyura’ dapat dipahami sebagai penjagaan Allah dari perbuatan
maksiat atau pemberian pahala dan rahmat yang sebanding dengan pengampunan dosa
tersebut.
وَمَعْنَى تَكْفِيرِ السَّنَةِ
الْآتِيَةِ أَنْ يَحْفَظَهُ اللَّهُ مِنَ الذُّنُوبِ، أَوْ يُعْطِيَهُ مِنَ
الرَّحْمَةِ وَالثَّوَابِ بِقَدْرِ مَا يَكُونُ كَفَّارَةً لِلسَّنَةِ
الْمَاضِيَةِ وَالْقَابِلَةِ
“Adapun makna menghapus dosa setahun yang akan datang adalah bahwa Allah akan menjaganya dari perbuatan dosa, atau memberikan kepadanya rahmat serta pahala yang kadarnya sebanding dengan penghapusan dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykah al-Masabih [India: al-Jami’ah as-Salafiyah], vol. 7, h. 61)
Baca juga: Kapan Puasa Tasu’a dan Asyura’ Tahun Ini? Simak Penjelasan Berikut
Lalu, mengapa puasa Asyura’ hanya disebut
menghapus dosa satu tahun, sedangkan puasa Arafah mencapai dua tahun?
Merujuk keterangan Syekh Abu Bakr bin
Muhammad Syatha ad-Dimyathi (wafat 1310 H) dalam catatannya, beliau menjelaskan
lantaran puasa Arafah merupakan ibadah yang secara khusus dianugerahkan kepada
Nabi Muhammad SAW beserta umatnya. Sementara itu, puasa Asyura’ telah
dilaksanakan oleh Nabi Musa AS dan umatnya.
Oleh sebab itu, amalan yang menjadi
kekhususan Nabi Muhammad tentu memiliki nilai keutamaan yang lebih istimewa.
فَائِدَةٌ: الْحِكْمَةُ فِي كَوْنِ
صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِسَنَتَيْنِ، وَعَاشُورَاءَ بِسَنَةٍ أَنَّ عَرَفَةَ
يَوْمٌ مُحَمَّدِيٌّ، يَعْنِي أَنَّ صَوْمَهُ مُخْتَصٌّ بِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَاشُورَاءَ مُوسَوِيٌّ، وَنَبِيُّنَا
مُحَمَّدٌ أَفْضَلُ الْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ
فَكَانَ يَوْمُهُ بِسَنَتَيْنِ
“Faedah: Hikmah mengapa puasa hari Arafah menghapus dosa selama dua tahun, sedangkan puasa hari Asyura’ menghapus dosa selama satu tahun, adalah karena hari Arafah merupakan hari yang bersifat Muhammadi, yakni puasa pada hari itu secara khusus menjadi keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW. Adapun hari Asyura’ bersifat Mūsawi, yaitu berkaitan dengan Nabi Musa. Karena Nabi Muhammad merupakan nabi yang paling utama di antara seluruh para nabi, semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka semua, maka hari yang berkaitan dengan beliau diberi keutamaan berupa penghapusan dosa selama dua tahun.” (Hasyiyah I’anah at-Thalibin [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 2, h. 301)
Baca juga: Niat Puasa Tasu’a, Lengkap Disertai Dalil Anjuran dan Tata Cara Pelaksanaannya
Hikmah Puasa Asyura’
Di samping menganjurkan puasa Asyura’ pada
tanggal 10 Muharram, Rasulullah SAW juga mendorong umatnya untuk berpuasa pada
tanggal 9 Muharram atau yang dikenal dengan puasa Tasu’a.
Para ulama menuturkan bahwa penggabungan
kedua puasa tersebut mengandung sejumlah hikmah yang penting.
Setidaknya terdapat tiga hikmah
dianjurkannya puasa Tasu’a bersama puasa Asyura’. Pertama, untuk
menyelisihi tradisi kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh
Muharram. Kedua, agar puasa Asyura’ tidak dilaksanakan secara
tersendiri, melainkan disertai dengan puasa pada hari lain. Ketiga,
sebagai bentuk kehati-hatian dalam menentukan tanggal 10 Muharram agar
terhindar dari kekeliruan dalam penetapan Hari Asyura’.
Keterangan tersebut sebagaimana termaktub
dalam ensiklopedi fiqih yang disusun oleh para ulama Kuwait berikut:
وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ فِي
حِكْمَةِ اسْتِحْبَابِ صِيَامِ تَاسُوعَاءَ مَعَ صِيَامِ عَاشُورَاءَ أَوْجُهًا
.أَحَدُهَا: أَنَّ الْمُرَادَ مِنْهُ مُخَالَفَةُ الْيَهُودِ فِي اقْتِصَارِهِمْ
عَلَى الْعَاشِرِ .وَالثَّانِي: أَنَّ الْمُرَادَ وَصْل يَوْمِ عَاشُورَاءَ
بِصَوْمٍ .وَالثَّالِثُ: الاِحْتِيَاطُ فِي صَوْمِ الْعَاشِرِ
“Para ulama telah menyebutkan beberapa
hikmah dianjurkannya berpuasa Tasu’a bersama puasa Asyura’. Di antaranya
adalah: Pertama, untuk menyelisihi orang-orang Yahudi, karena mereka hanya
mencukupkan diri dengan berpuasa pada hari kesepuluh saja. Kedua, untuk
menyambung puasa Asyura’ dengan puasa pada hari lain, sehingga tidak berpuasa
pada hari Asyura’ secara sendirian. Ketiga, sebagai bentuk kehati-hatian dalam
menentukan hari kesepuluh, agar tidak terjadi kekeliruan dalam penetapan
tanggal Asyura’.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah
al-Kuwaitiyyah [Mesir: Dar as-Shafwah], vol. 29, h. 219)
Kiranya keterangan di atas dapat dijadikan
rujukan dalam memperhatikan betapa istimewanya Asyura’.
Uraian perihal keutamaan dan hikmah dianjurkannya puasa Asyura’ berdasarkan riwayat hadis dan keterangan para ulama sudah cukup dijadikan dalil yang kuat.
Baca juga: Niat Puasa Asyura’, Lengkap Disertai Dalil Kesunnahan dan Tata Cara Pelaksanaannya
Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa puasa Asyura’ merupakan salah satu amalan yang telah dikenal sejak masa para nabi terdahulu, memiliki keutamaan berupa pengampunan dosa, serta mengandung berbagai hikmah yang mendalam.
Adapun pelaksanaan puasa Asyura’ yang disertai dengan puasa Tasu’a juga mencerminkan kesempurnaan ajaran Islam, baik dalam menjaga identitas umat Islam yang tidak serupa dengan kaum Yahudi, maupun dalam menghidupkan tradisi ibadah yang telah diwariskan oleh para nabi. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.