Sekjen MUI: Ekonomi Ramadhan Tinggi Secara Konsumtif, Aspek Produktif Masih Lemah
Fitri Aulia Lestari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, menyoroti fenomena peningkatan ekonomi selama Ramadhan yang dinilai masih didominasi aspek konsumtif dan belum menyentuh sektor produktif secara berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, pada acara Penguatan Ekosistem Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf (Ziswaf) untuk Kemaslahatan Umat yang di selenggarakan oleh Islamic Dakwah Fund (IsDF), di Kantor MUI Pusat pada Selasa (3/3/2026).
Buya Amirsyah mengingatkan kembali refleksi yang pernah disampaikan tahun lalu terkait kondisi ekonomi Ramadhan.
“Saya ini memotret bagaimana kondisi Ramadhan yang pernah disampaikan pada tahun lalu. Kita ulang kembali supaya kita diingatkan, mengapa ekonomi kita meningkat, tapi hanya pada aspek konsumtif. Ketika masuk aspek produktif, justru sebaliknya,” ujarnya.
Menurutnya, lonjakan aktivitas ekonomi selama Ramadhan sangat terasa, namun belum memberi dampak jangka panjang.
“Kita lihat, angka konsumtif kita luar biasa. Aktivitas ekonomi meningkat tajam selama Ramadhan. Tetapi setelah itu, seolah-olah hilang,” katanya.
Ia menilai, fenomena tersebut perlu dikaji dari sudut pandang spiritual dan kesadaran kepemilikan harta dalam Islam.