Perang Iran Dinilai Ubah Lanskap Energi Global, Berdampak Panjang Lantas Siapa Untung?
Jakarta, MUI Digital – Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 dinilai telah mengubah lanskap energi global secara signifikan.
Meskipun negosiasi damai antara AS dan Iran masih berlangsung, para analis memperkirakan dampak konflik tersebut terhadap pasar energi dunia akan bertahan dalam jangka panjang.
Dikutip MUI Digital dari Aljazeera, Jumat (3/7/2026), perang telah memicu gejolak di pasar energi internasional.
Harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 sebelum kembali turun mendekati tingkat sebelum konflik.
Selain memengaruhi harga energi, konflik juga mengganggu jalur distribusi minyak dan gas dunia, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global pada masa normal.
Pemerintah di berbagai negara, mulai dari Jepang, India hingga Inggris, dilaporkan menerapkan berbagai langkah darurat untuk mengurangi dampak kenaikan harga bahan bakar terhadap masyarakat.
Baca juga: Kritik Muncul terhadap Tim Negosiasi AS dalam Pembicaraan dengan Iran
Semakin rentan Pengajar bidang perdagangan minyak di Universitas Oxford, Adi Imsirovic, menilai pasar minyak dunia tidak akan kembali seperti sebelumnya setelah konflik tersebut.
Menurutnya, negara-negara akan mempercepat pembangunan jaringan pipa baru, memperkuat sistem keamanan energi, serta mencari sumber pasokan minyak yang lebih beragam untuk mengurangi ketergantungan terhadap kawasan Teluk.
Ia juga menilai ancaman terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz akan terus memengaruhi industri pelayaran internasional meskipun perang telah berakhir.
Walaupun Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang memuat komitmen menjaga keamanan jalur pelayaran, Teheran tetap menegaskan haknya mengendalikan Selat Hormuz.
Baca juga: AS dan Iran Masih Berselisih Soal Inspektur Nuklir dan Aset Beku
Kondisi tersebut membuat kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran belum sepenuhnya mereda. Sebagai langkah antisipasi, sejumlah negara produsen energi mulai meningkatkan pengiriman minyak melalui jaringan pipa darat, seperti Pipa Timur-Barat Arab Saudi, Pipa Minyak Abu Dhabi di Uni Emirat Arab, serta Pipa Irak-Turki.
Namun kapasitas seluruh jaringan tersebut masih jauh di bawah volume minyak yang sebelumnya melewati Selat Hormuz setiap hari.
Peneliti keamanan energi dari Royal United Services Institute (RUSI), Dan Marks, memperkirakan ketidakpastian di Selat Hormuz akan tetap menjadi perhatian utama selama hubungan Iran dengan AS dan Israel masih diwarnai ketegangan.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat mengurangi minat investasi dan sektor pariwisata di kawasan Teluk karena meningkatnya risiko geopolitik.
Baca juga: Pukulan Politik bagi Trump, Senat AS Setujui Resolusi Kewenangan Perang Iran
Energi terbarukan
Konflik ini juga dipandang mempercepat transisi dunia menuju energi terbarukan. Analis pasar minyak dari Sparta Commodities, June Goh, mengatakan negara-negara produsen akan berupaya membangun lebih banyak jalur ekspor alternatif, sementara negara konsumen diperkirakan memperbesar cadangan strategis minyak mereka.
Sementara itu, pejabat iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Simon Stiell, sebelumnya menyatakan bahwa konflik telah mempercepat pertumbuhan energi terbarukan secara global.
Data International Renewable Energy Agency (IRENA) menunjukkan kapasitas energi terbarukan dunia mencapai rekor tertinggi pada 2025, dengan sekitar 86 persen penambahan kapasitas pembangkit listrik berasal dari sumber energi nonfosil.
Imsirovic menilai perkembangan kendaraan listrik juga akan semakin mengurangi ketergantungan dunia terhadap bahan bakar minyak, khususnya di sektor transportasi darat.
Baca juga: Membaca Arah Gencatan Senjata Amerika dan Iran
Siapa untung?
Dosen Ekonomi Universitas Lancashire, Mohamed Elheddad, mengatakan meningkatnya risiko geopolitik akan memperkuat alasan ekonomi bagi banyak negara untuk mempercepat investasi pada energi terbarukan.
Menurutnya, konflik tersebut dapat mempercepat berbagai proyek transisi energi yang sebelumnya telah direncanakan.
Dalam jangka panjang, China diperkirakan menjadi salah satu negara yang paling diuntungkan karena merupakan produsen utama komponen energi terbarukan dunia, termasuk panel surya, turbin angin, dan baterai penyimpanan energi.
Peneliti Senior Peterson Institute for International Economics, Maurice Obstfeld, menilai dominasi China dalam industri energi terbarukan akan semakin menguat seiring meningkatnya permintaan global terhadap teknologi energi bersih.
Selain China, Amerika Serikat dan Qatar juga diperkirakan memperoleh keuntungan karena mampu memperkuat posisi sebagai pemasok gas alam cair (LNG) yang dinilai memiliki pasokan lebih stabil di tengah ketidakpastian kawasan Timur Tengah.
Para analis menyimpulkan bahwa meskipun pembicaraan damai antara AS dan Iran terus berlangsung, perang telah menjadi titik balik penting yang mendorong perubahan strategi energi global.
Diversifikasi sumber energi, peningkatan keamanan jalur distribusi, serta percepatan penggunaan energi terbarukan diperkirakan menjadi warisan utama dari konflik tersebut.