‘Parang tanpa Gagang’, Merengkuh Nelangsa Korban Banjir Aceh Tamiang
Latifahtul Jannah
Penulis
Laporan Latifahtul Jannah, reporter MUI Digital, dari Aceh Tamiang
ACEH TAMIANG, MUI Digital — Di bawah terpal tipis yang mulai kusam, seorang warga Aceh Tamiang menambal atap tendanya dengan tali rafia.
Matahari siang, satu hari pada medio Febuari lalu, menekan tanpa ampun, sementara tanah di bawahnya masih menyimpan bekas lumpur banjir yang belum sepenuhnya kering. Dua bulan lebih setelah air surut, hidup bagi banyak warga belum benar-benar kembali.
Berdasarkan pengamatan langsung MUI Digital, pada saat itu, jalan desa memang sudah bisa dilalui. Aktivitas perlahan bergerak. Namun bagi mereka yang masih bertahan di tenda darurat, waktu terasa berjalan di tempat.
Yang tertinggal bukan hanya rumah yang rusak, melainkan kelelahan yang menumpuk, kebingungan yang berlarut, dan janji pemulihan yang tak pernah benar-benar sampai ke tangan.
Di tengah situasi itu, tokoh pemuda Aceh Tamiang, Murtala, memilih sebuah perumpamaan yang tajam untuk menggambarkan cara negara hadir pascabencana.
Dia menyebut kebijakan pemerintah pusat sebagai parang tanpa gagang. “Kebijakan pemerintah pusat itu seperti orang mau menebas, tapi yang diberikan bukan gagangnya—melainkan mata parangnya,” ujarnya.