Ketua MUI Siti Ma'rifah Sebut Pemikiran Kiai Ma'ruf Kunci Menjaga Integrasi Bangsa
Jakarta, MUI Digital--Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK), Dr Siti Ma'rifah, menyatakan bahwa pemikiran KH Ma'ruf Amin memiliki peran strategis sebagai fondasi utama dalam menjaga integrasi bangsa.
Menurut Siti Ma'rifah, rekam jejak dan gagasan Kiai Ma'ruf selalu mengedepankan keselarasan antara nilai keagamaan, keumatan, dan kebangsaan yang berbasis pada kerangka berpikir metodologis (fikrah bermanhaj).
"Pemikiran beliau menjadi dasar dan dorongan bagi kita untuk terus mengkaji serta melaksanakannya. Beliau selalu mengembangkan organisasi berdasarkan fikrah, berpikir yang metodologis dan bermanhaj, yang berdasar pada sumber-sumber sanad, kaidah usul fikih, serta nas yang kuat," ujar Siti Ma'rifah dalam peluncuran buku "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin" yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam.
Baca juga: Sejumlah Nama Bakal Calon Ketua Umum PBNU Hadiri Peluncuran Buku Ketua Wantim MUI Kiai Ma'ruf Amin
Puteri Sulung Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini menekankan bahwa gagasan Kiai Ma'ruf tidak berhenti pada tataran teori, melainkan diwujudkan dalam gerakan nyata (harakah). Integrasi inilah yang menjadi kunci pemikiran Kiai Ma'ruf dalam merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan memperkuat ekonomi syariah.
"Di dalam kebangsaan, beliau menjelaskan Pancasila sebagai kalimatun sawa' (titik temu/kesepakatan) dan Indonesia sebagai Darul Mitsaq (negara kesepakatan). Inilah bentuk integrasi pemikiran beliau, baik dalam persoalan kebangsaan, ekonomi, maupun keumatan," jelasnya.
Acara peluncuran buku yang berlangsung menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur ini turut dihadiri sederet ulama sepuh, Dewan Pimpinan MUI, serta sejumlah figur yang masuk dalam bursa bakal calon Ketua Umum PBNU.
Di antara tokoh yang hadir tampak Ketua Umum PBNU petahana KH Yahya Cholil Staquf, Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar, Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, Pengasuh Ponpes API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori, serta Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli.
Baca juga: Penulis Buku Ungkap Gelisahnya Kiai Ma'ruf Soal Masa Depan Nahdlatul Ulama
Siti Ma'rifah berharap, menjelang usia Indonesia yang ke-81 dan menyongsong Muktamar NU mendatang, kepemimpinan NU ke depan dapat mentransformasikan pemikiran-pemikiran besar para ulama pendiri.
"Harapannya menjelang muktamar, Nahdlatul Ulama semakin menguatkan perannya sebagai organisasi keagamaan terbesar, memberikan manfaat dan maslahat yang lebih besar. Kita berharap di muktamar nanti terpilih pemimpin yang mampu menerjemahkan dan mengimplementasikan seluruh pemikiran para ulama dan kiai pendiri NU," kata dia.
Sementara itu, penulis buku tersebut, Hj Siti Haniatunnisa, mengungkapkan bahwa penyusunan karya ini berangkat dari dialog intensif yang menangkap kegelisahan sekaligus harapan besar Kiai Ma'ruf Amin terhadap masa depan NU yang kini memasuki abad keduanya.
Siti Hani menceritakan, saat proses wawancara dan penyusunan, ia mengajukan satu pertanyaan sederhana namun mendasar kepada Kiai Ma'ruf: "Bagaimana Nahdlatul Ulama harus menghadapi abad keduanya?"
"Ketika kami berdialog dengan KH Ma'ruf Amin, sesungguhnya yang kami rasakan bukan hanya penjelasan tentang masa lalu NU, tetapi juga kegelisahan sekaligus harapan baru beliau terhadap masa depan NU," ujar Siti Hani di hadapan para tokoh keagamaan dan pejabat negara yang hadir.
Menurut Siti Hani, Kiai Ma'ruf menggarisbawahi pertanyaan krusial yang perlu direnungkan seluruh warga NU di tengah cepatnya perubahan zaman: Fa-aina tadzhabūn? (Maka ke manakah kamu akan pergi?). Jawaban Wakil Presiden ke-13 RI tersebut sangat tegas, NU tidak boleh dilepas tanpa arah dan tidak boleh memutus mata rantai perjuangan para muassis (pendiri).
"Beliau berharap warga NU tidak hanya mewarisi organisasi, tetapi juga mewarisi cara berpikir para ulama, mewarisi manhaj para ulama, dan mewarisi ruh khidmat para muassis," tegasnya.
Buku setebal lebih dari 600 halaman yang ditulis Siti Haniatunnisa bersama H Muhammad Zainal Arifin ini dirancang menyerupai sebuah bangunan lima bab. Isinya secara runtut mengupas revitalisasi fikrah (cara berpikir), manhaj (metode), hingga harakah (gerakan) Nahdhiyyah, dengan puncaknya mengajak warga NU untuk berorganisasi secara 'alā baṣhīrah (berdasar pada pemahaman dan argumentasi yang kuat).
Puteri Bungsu Kiai Ma'ruf ini menambahkan, buku ini bukan hadir untuk memberikan "wajah baru" bagi NU, melainkan sebuah ikhtiar sederhana mendokumentasikan pemikiran Kiai Ma'ruf, tokoh yang tumbuh, berkhidmat, dan menjadi saksi perjalanan NU sejak muda hingga memasuki abad kedua, agar warisan keilmuan para ulama tetap kontekstual menjawab tantangan zaman.
Hadir pula jajaran tokoh nasional lain, di antaranya Sekjen Kemenag RI Prof Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Baznas RI KH Zainut Tauhid Sa'adi, Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh, Ketua Kopnus Syariah Abdul Kholid Soleh, Wasekjend MUI Bidang Dakwah KH Arif Fahruddin, serta Wasekjend MUI Bidang Infokomdigi Dr Asrori S. Karni.