Ketua MUI Siti Marifah: Idul Adha adalah Momentum Perkuat Ketahanan Keluarga Muslim
Sadam Al Ghifari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Jakarta, MUI Digital--Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK), Dr Siti Marifah, menegaskan bahwa Hari Raya Idul Adha merupakan momentum untuk memperkuat ketahanan keluarga Muslim.
Menurut Siti Marifah, kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Siti Hajar adalah potret nyata dari sebuah keluarga yang memiliki ketahanan spiritual dan mental yang luar biasa dalam menghadapi ujian Allah SWT.
"Nabi Ibrahim yang menjalankan perintah Allah untuk berurban dan Nabi Ismail yang dengan penuh keikhlasan menerima perintah tersebut melalui ayahnya, merupakan contoh nyata ketaatan dan ketaqwaan mutlak. Ini adalah contoh teladan bagi keluarga Muslim di seluruh dunia tentang bagaimana ketahanan sebuah keluarga dibangun di atas fondasi keimanan yang kokoh," ujar Siti Marifah kepada MUI Digital, Rabu (27/5/2026).
Baca juga: MUI Imbau Khatib Jumat dan Idul Adha Bacakan Doa Qunut Nazilah untuk Gaza
Lebih lanjut, Puteri Wakil Presiden ke-13 RI ini menjelaskan bahwa ketahanan keluarga tidak hanya dilihat dari aspek teologis atau agama saja, melainkan juga harus ditopang oleh aspek lainnya, seperti ekonomi dan sosial kemasyarakatan.
Ia memaparkan realitas yang sering luput dari perhatian publik, di mana ibadah haji dan umrah sebenarnya merupakan peristiwa ekonomi berskala besar.
Berdasarkan proyeksi Kementerian Haji dan Umrah, perputaran uang dalam penyelenggaraan haji tahun 2026 ini diperkirakan mencapai Rp 18,2 triliun. Jika digabung dengan umrah, angkanya menembus sekitar Rp 50 triliun per tahun.
Bahkan, Kementerian Keuangan memperkirakan ekosistem haji dan umrah memiliki potensi pertumbuhan yang sangat masif, dari Rp 65 triliun pada tahun 2023 menjadi Rp 194 triliun pada tahun 2030 mendatang.
Baca juga: MUI: Idul Adha Bukan Sekadar Ritual, Melainkan Momentum Lawan Egoisme
Siti Marifah melihat potensi ekonomi yang besar ini harus diorientasikan pada penguatan ketahanan ekonomi keluarga dan umat. Dia mendorong adanya optimalisasi produk-produk dalam negeri serta melibatkan masyarakat luas dalam pelayanan ibadah haji dan umrah.
"Potensi raksasa ini harus diarahkan untuk penguatan ekonomi umat. Caranya adalah dengan mengoptimalkan produk-produk dalam negeri serta melibatkan masyarakat luas dalam pengelolaan pelayanan haji dan umrah. Jika ekosistem ini dikelola di dalam negeri dan berbasis kerakyatan, maka dampaknya akan langsung dirasakan pada kesejahteraan keluarga-keluarga Muslim di Indonesia," jelasnya.
Siti Marifah menegaskan bahwa jika ekosistem ini dikelola di dalam negeri, maka dampaknya akan langsung dirasakan pada kesejahteraan keluarga Muslim di Indonesia.
Lebih lanjut, Siti Marifah nenerangkan bahwa ibadah kurban tidak sekedar ritual berbagi, melainkan bentuk empati secara berjamaah yang menjadi kekuatan utama dalam membangun ketahanan keluarga.
"Dengan ibadah kurban, daging hewan yang disembelih didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan. Ini bukan sekadar ritual berbagi, melainkan sebuah bentuk 'empati berjamaah' yang menjadi kekuatan utama dalam membangun ketahanan masyarakat luas," tambahnya.
Dari aspek sosial kemasyarakatan, Siti Marifah menambahkan bahwa penyelenggaraan haji dan Idul Adha merupakan instrumen penting untuk membangun kesalehan sosial.
Siti Marifah menyatakan bahwa umat Islam diajarkan untuk meruntuhkan sekat-sekat sosial egoisme.