Dari Padang Arafah, Kiai Ni'am Serukan Jamaah Bermunajat untuk Diri Hingga Pemimpin Bangsa
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Makkah, MUI Digital— Musyrif Diny, Prof KH Asrorun Niam Sholeh menyerukan kepada seluruh jamaah haji Indonesia untuk memperluas cakupan doa mereka pada puncak pelaksanaan ibadah haji di Padang Arafah.
Prof Niam, sapaan akrabnya, mengingatkan agar momentum emas yang sangat mustajab ini tidak hanya digunakan untuk memohon kebaikan personal, tetapi juga untuk keselamatan dan kemaslahatan bangsa Indonesia.
Pesan mendalam tersebut disampaikan Prof Niam di hadapan seluruh delegasi Amirul Hajj, Musyrif Diny, Tim Pengawas (Timwas), jajaran PPIH, para petugas, serta ribuan jamaah yang memadati Masjid Tenda Misi Haji Indonesia di Arafah.
"Hari ini adalah hari Arafah, puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji. Al-hajju Arafah. Hari ini adalah waktu di mana doa-doa kita didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah, khairud du’a du’a yaumi Arafah, sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah," ujar Prof Niam, Selasa (26/5/2026).
Ketua MUI Bidang Fatwa ini meminta jamaah untuk menepis sikap egois dalam memanjatkan harapan.
Ia mendorong parai (jamaah haji) untuk melangitkan doa-doa terbaik, mulai dari lingkup terkecil hingga skala nasional.
"Doa di Arafah adalah doa yang tak tertolak. Karena itu, mintalah seluruh kebaikan kepada Allah. Jangan hanya berdoa untuk diri sendiri, tetapi mintalah kebaikan untuk anak, istri, orang tua, keluarga, dan yang tidak boleh dilupakan adalah untuk bangsa dan negara Indonesia," tegasnya.
Baca juga:Timwas Haji DPR Ingatkan Kerawanan Armuzna, Koordinasi Petugas Jadi Kunci
Secara khusus, Prof Niam mengajak jamaah bersama-sama mendoakan para pemimpin bangsa agar senantiasa diberikan kekuatan dan hidayah dalam menjalankan amanah.
Prof Niam menjelaskan mengapa doa kepada pemimpin itu sangat penting. Menurutnya, jika doa tersebut hanya ditujukan kepada kita saja, maka manfaatnya hanya untuk kita saja.
Baca juga:Senyum Damiri Tetap Lebar, Meski Kehilangan Jempol Kaki saat Jalani Haji di Tanah Suci
Berbeda dengan mendoakan pemimpin. Prof Niam menerangkan bahwa mendoakan pemimpin akan membuat rakyat dan negara akan menjadi baik karena kepemimpinan dan kekuasaannya digunakan untuk kebaikan.
“Mengapa doa kepada pemimpin itu penting, saat doa kita mustajab? jika doa hanya untuk kita, maka itu hanya bermanfaat untuk kita saja. Namun jika doa ditujukan juga untuk pemimpin, maka rakyat dan negara akan menjadi baik karena kepemimpinan dan kekuasannya digunakan untuk kebaikan," tegasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini berharap, lewat ketukan pintu langit dari jutaan jamaah haji, Indonesia dapat dipimpin oleh pemimpin yang adil demi mewujudkan cita-cita bangsa yang berkah.
"Mari kita doakan pemimpin-pemimpin kita agar menjadi pemimpin yang adil, yang mampu mengantarkan dan mewujudkan negeri yang aman, damai, sejahtera, serta berkah, menjadi sebuah negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur," lanjutnya.
Di sisi lain, Prof Niam juga memberikan motivasi spiritual khusus bagi para petugas haji yang sedang memeras keringat melayani jamaah.
Ketua Majelis Alumni IPNU ini mengingatkan bahwa para petugas haji memiliki posisi yang sangat istimewa di mata Allah SWT. Sebab, para petugas haji adalah pelayanan jamaah haji yang merupakan tamu Allah SWT.
"Kita semua, para hujjaj, memiliki kemuliaan ganda hari ini. Pertama, sebagai hujjaj yang menjadi tamu Allah (dhuyufurrahman). Kedua, khususnya bagi para petugas, kita adalah pelayan jamaah haji yang merupakan tamu Allah. Kita adalah khadimul hujjaj. Di hari yang mulia ini, mari kita padukan keikhlasan pelayanan dengan kekhusyukan doa," katanya.