TAHUN BARU HIJRIYAH 1448 H: Muhasabah dan Amanah Waktu dalam Perspektif Hadis (Serial1)
Administrator
Penulis
muisumut.or.id., 14 Juni 2025., Penanggalan Hijriyah bukan sekadar sistem kalender biasa. Ia merupakan rekaman sejarah paling monumental dalam perjalanan umat Islam, yaitu peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah al-Mukarramah menuju Madinah al-Munawwarah.
Hijrah bukan hanya perpindahan fisik semata, melainkan simbol transformasi besar: dari ketertindasan menuju kebebasan, dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, dan dari kesyirikan menuju tauhid yang murni.
Menyambut Tahun Baru Hijriyah 1448 H, sudah sepatutnya umat Islam kembali merenungkan makna pergantian tahun. Bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk melakukan evaluasi diri dan menata masa depan dengan lebih baik.
Tulisan ini mengajak kita memahami hakikat muhasabah dan pentingnya waktu dalam perspektif hadis Nabi Muhammad SAW.
Makna Muhasabah dalam Islam
Sebelum berbicara tentang perubahan, Islam mengajarkan satu langkah mendasar yang harus dilakukan setiap Muslim, yaitu muhasabah atau introspeksi diri.
Rasulullah SAW bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi No. 2459)
Hadis ini menjelaskan bahwa kecerdasan sejati bukan hanya kemampuan berpikir, melainkan kemampuan mengevaluasi diri dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Pergantian tahun Hijriyah menjadi saat yang tepat untuk menghisab diri sebelum dihisab oleh Allah SWT.
Waktu adalah Amanah yang Tak Tergantikan
Salah satu pesan Nabi SAW yang sangat penting adalah memanfaatkan waktu sebelum kesempatan itu hilang.
Beliau bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
Hadis ini mengingatkan bahwa setiap detik kehidupan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Dalam riwayat lain disebutkan:
كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يُنَادِي: يَا ابْنَ آدَمَ! أَنَا خَلْقٌ جَدِيدٌ، وَأَنَا عَلَيْكَ شَهِيدٌ فَاغْتَنِمْنِي فَإِنِّي لَا أَعُودُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Setiap hari yang matahari terbit padanya berseru: Wahai anak Adam, aku adalah makhluk yang baru dan aku menjadi saksi atasmu. Maka manfaatkanlah aku karena aku tidak akan kembali sampai hari kiamat.”
Betapa berharganya setiap hari yang Allah berikan. Hari yang berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, pergantian tahun hendaknya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah kita lakukan selama satu tahun terakhir?
Oleh: Prof. Dr. Nawir Yuslem, MA
Bersambung ke Seri 2:
Hakikat Perubahan dan Standar Kemajuan Seorang Muslim