Antara Begadang dan Qiyamul Lail
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Fenomena menjamurnya manusia malam kini bukan sekadar tren musiman. Berbeda dengan masa lalu di mana orang begadang karena tuntutan ronda atau keadaan darurat, hari ini jutaan orang justru sengaja menolak tidur demi berbagai kesibukan malam.
Begadang kini bukan lagi sekadar pelarian saat insomnia, melainkan sudah menjadi gaya hidup baru. Sederhananya, begadang adalah kebiasaan terjaga hingga larut malam, bahkan sampai adzan subuh berkumandang. Alasannya klasik: mulai dari dikejar deadline tugas dari bos, kerja lembur, maraton film, nonton bola, main gim, atau sekadar rebahan tak bisa tidur.
Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Mode Jalan Keluar dari Keresahan Hidup
Namun sadar atau
tidak, hari ini sebenarnya sedang dijajah untuk tetap melek. Setidaknya ada
tiga alasan mengapa “manusia malam” tumbuh subur di masyarakat.
Pertama, candu dopamin.
Banyak orang terjebak begadang karena sistem digital yang manipulatif. Sadar
atau tidak, aplikasi media sosial, platform streaming film, hingga gim
daring sengaja dirancang oleh para ahli psikologi perilaku untuk merampok
perhatian orang selama mungkin. Malam adalah waktu yang panjang untuk
berlama-lama beraktivitas.
Fitur-fitur ini
memicu letupan dopamin instan di otak. Akibatnya, jempol dan jari-jari terus
menggulirkan layar (scrolling) tanpa bisa direm hingga dini hari.
Kedua, kota yang menolak
tidur 24 jam. Secara sosiologis, lingkungan urban modern sangat memanjakan para
pemburu malam. Kota-kota besar telah bertransformasi menjadi 24-hour city
atau kota yang menolak tidur.
Lihat saja
bagaimana kafe-kafe estetik menjamur di setiap sudut jalan. Mereka memikat kaum
nokturnal dengan racikan kopi khas, fasilitas Wi-Fi super kencang,
hingga agenda nonton bareng (nobar) bola dan hiburan musik. Malam hari justru
berubah menjadi panggung sosial yang baru.
Ketiga, kebisingan
digital. Ironisnya, malam hari justru menjadi waktu di mana dunia digital
sedang bising-bisingnya. Mulai dari obrolan grup WhatsApp yang tak ada
habisnya, gosip yang sedang trending di X (Twitter), hingga live
streaming para kreator konten, semuanya memuncak saat tengah malam hingga
menjelang fajar.
Hal inilah yang menjebak banyak pekerja kreatif dan mahasiswa dalam glorifikasi semu. Mereka merasa bangga melabeli diri sebagai night owl (si burung hantu) dengan dalih bahwa otak mereka baru bisa berpikir jernih dan kreatif saat dunia sekitar sedang terlelap. Padahal, sering kali itu hanyalah ilusi produktivitas belaka.
Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Wasilah Mengukur Rasa Butuh kepada Allah
“Menabung
Penyakit”: Dampak Ngeri Begadang yang Jarang Disadari
Kalau cuma
sesekali, begadang mungkin cuma bikin menguap beberapa kali di pagi hari. Tapi
kalau sudah jadi ritual setiap malam? Bersiaplah, karena mereka sedang merusak
fisik dan mental secara perlahan dari dalam.
Malam hari
sebenarnya adalah waktu sakral bagi tubuh untuk melakukan servis total, mulai
dari regenerasi sel hingga memperkuat sistem imun. Ketika nekat melek, jam
biologis (ritme sirkadian) tubuh akan kacau berat. Akibatnya, kualitas tidur
anjlok, dan tubuh otomatis membuka pintu lebar-lebar untuk berbagai penyakit.
Secara mental dan
fisik, berikut adalah biaya mahal yang harus dibayar akibat hobi begadang:
1. Otak lemot dan
emosi labil
Kurang tidur
adalah musuh utama otak. Jangan heran kalau keesokan harinya orang begadang susah
fokus, produktivitas drop, dan mengalami brain fog (linglung). Secara
psikologis, kurang tidur juga mengacaukan regulasi emosi. Efeknya? Sensitif jadi
senggol bacok alias gampang marah, cemas, dan sulit berpikir jernih.
2. Hormon pengacau
timbangan dan rusaknya penampilan
Pernah menyadari
kenapa kalau begadang, bawaannya ingin makan mi instan atau camilan manis? Itu
karena begadang merusak keseimbangan hormon pengatur rasa lapar. Akibatnya,
nafsu makan melonjak tak terkendali dan berujung pada obesitas.
Bukan cuma
timbangan yang menderita, cermin kaca pun akan protes. Kulit wajah akan
langsung menunjukkan protesnya lewat jerawat yang meradang, kantung mata hitam
mirip panda, dan wajah yang tampak kusam berlipat ganda.
3. Ancaman penyakit
mematikan jangka panjang
Menurut laporan World
Health Organization (WHO), tidur kurang dari 6–7 jam sehari dalam jangka
panjang adalah tiket VIP menuju penyakit tidak menular yang mematikan. Mulai
dari diabetes, hipertensi (darah tinggi), hingga serangan jantung siap
mengintai pelaku hobi begadang di masa depan.
Jebakan “bom waktu” celakanya, sementara mayoritas penikmat begadang malam tidak sadar sedang berjalan menuju jurang ini. Kenapa? Karena dampaknya tidak instan. Tubuhnya tidak langsung ambruk esok harinya, melainkan menumpuk kerusakan kecil setiap malam seperti bom waktu.
Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?
Analisis Health
Belief Model (HBM) ini memperlihatkan realitas yang mengerikan: manusia
modern bukan tidak tahu kalau begadang itu merusak raga, mereka hanya memilih
untuk abai.
Mereka terjebak
dalam delusi psikologis yang menganggap maut dan penyakit masih berjalan jauh
di belakang mereka, padahal setiap malam yang dihabiskan untuk begadang adalah
satu langkah kaki yang semakin dekat menuju jurang tersebut.
Sepertiga
Malam Terakhir: Sebuah “Undangan Cinta”
Allah menjadikan
malam bukan sekadar waktu untuk mengistirahatkan raga. Di dalamnya, ada satu
waktu yang luar biasa istimewa: sepertiga malam terakhir.
Ini bukan
sembarang waktu. Ia adalah momen yang dipilih langsung oleh Allah untuk “mendekat”
kepada hamba-Nya. Di saat dunia terlelap, sunyi, dan tak ada mata manusia yang
memandang, Allah justru menyeru:
“Apakah ada
yang berdoa, agar Aku kabulkan? Apakah ada yang meminta, agar Aku beri? Apakah
ada yang memohon ampun, agar Aku ampuni?”
Pertanyaan-pertanyaan
di atas lahir dari sebuah hadis autentik yang sangat menakjubkan, yang artinya:
“Allah turun
ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia
berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta
kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)
Coba diresapi. Selama ini, kita sering merasa yang selalu mencari, memohon, mengetuk pintu, dan berharap kepada-Nya. Namun, hadis ini membalikkan cara pandang itu 180 derajat: Allah-lah yang terlebih dahulu mendatangi hamba-hamba-Nya.
Baca juga: 5 Keutamaan Shalat Tahajud yang Disarikan dari Alquran dan Hadits
Bayangkan,
Penguasa Semesta Alam yang tidak butuh sedikit pun pada ibadah hamba, justru “mengunjungi”
langit dunia setiap malam. Allah mengundang dan menunggu doa-doa tulus dari
hati yang khusyuk. Ini adalah bentuk cinta yang tak terhingga, cinta yang tidak
pernah bosan menanti, bahkan ketika hamba berkali-kali lalai dan menjauh.
Ujian Cinta di
Atas Kasur yang Empuk
Sepertiga malam
adalah waktu di mana gravitasi kasur terasa paling kuat. Tubuh sedang
nyaman-nyamannya beristirahat, mata enggan terbuka, mimpi masih indah-indahnya dan
pikiran masih ingin lepas dari beban dunia.
Maka, siapa saja
yang mampu memutus kelezatan tidur itu hanya demi mengambil air wudhu dan
bersujud, ia telah lulus ujian cinta. Keberhasilannya bangun adalah stempel
bahwa hatinya telah jujur dalam mencintai Tuhannya.
Meninggalkan
tempat tidur untuk shalat malam (qiyamul lail) memang bukan perkara
ringan. Namun, justru karena berat itulah, nilai ibadah di waktu ini melambung
tinggi. Ia menjadi bukti kesungguhan yang tak bisa dimanipulasi.
Persis seperti
yang Allah abadikan dalam Alquran mengenai ciri-ciri penduduk surga, yang artinya:
“Dan mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah.” (QS. Az-Zariyat: 17–18)
Baca juga: Shalat Tahajud Lengkap: Tata Cara Hingga Doa
Duel Manusia
Malam
Modernitas hari
ini telah berhasil mengaburkan batas antara siang dan malam. Sayangnya,
adaptasi budaya urban ini berjalan berlawanan arah dengan biologi manusia.
Banyak orang memaksa diri menjadi “makhluk malam”, padahal anatomi tubuh
manusia sejak ribuan tahun lalu sudah dirancang untuk beristirahat total begitu
matahari tenggelam.
Di sinilah
anomali tajam itu terjadi. Begadang modern adalah sebuah ritual melelahkan jiwa
dan raga yang dibungkus dengan label gaya hidup. Sebaliknya, qiyamul lail
adalah terapi medis dan psikologis tingkat tinggi yang dikemas dalam bentuk
ibadah.
Sama-sama membuka
mata di keheningan malam, namun keduanya menuju takdir yang berbeda: “Menabung
Kehancuran vs Menjemput Keberkahan.”
Para penikmat begadang sedang menabung kehancuran mental secara perlahan. Mereka menguras energi otak demi kesenangan semu yang merusak jiwa.
Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam
Sementara itu,
pelaku qiyamul lail sedang menginvestasikan ketenangan otak untuk
meregenerasi mental. Mereka menjemput kesehatan jiwa yang paripurna justru di
saat organ tubuh lainnya sedang detoksifikasi sehingga menjadi lebih berkah.
Banyak orang
begadang karena terjebak imajinasi semu dan tak bisa lepas dari gawai. Mereka
adalah “korban” dari arus malam.
Namun,
menyingkirkan selimut hangat, melawan gravitasi kasur yang empuk, lalu membasuh
wajah dengan air wudhu yang dingin adalah bentuk kemenangan mental tertinggi.
Hanya manusia dengan willpower (kekuatan kehendak) luar biasa yang
sanggup melakukannya. Para pelaku qiyamul lail inilah “penguasa” sejati
atas malam dan atas ego diri mereka sendiri.
Tengoklah anak muda yang nongkrong di kafe-kafe 24 jam. Mereka tertawa keras atau sibuk berselancar di media sosial yang riuh oleh miliaran manusia. Namun secara psikologis, di balik keriuhan itu, ada rasa sepi yang akut (existential dread). Mereka terjaga di malam hari justru untuk melarikan diri dari ruang kosong di dalam diri mereka sendiri.
Baca juga: Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah
Bandingkan dengan
seorang hamba yang tegak berdiri sendirian di dalam kamar yang gelap dan sunyi.
Tidak ada musik, tidak ada teman obrolan. Namun secara mental dan spiritual,
jiwanya merasa sangat penuh, didengar, dan terkoneksi langsung dengan Dzat yang
“menggenggam” semesta. Di dalam kesunyian fisik itulah, jiwanya sedang
menikmati percakapan paling intim.
Pada akhirnya, malam hari menyajikan dua pilihan ekstrem. Kita bisa memilih menjadi bagian dari keriuhan semu yang menguras waras, atau memilih bersimpuh dalam kesunyian yang justru mengutuhkan jiwa. Pilihan ada di tangan masing-masing: ingin hanyut digulung malam, atau bangkit menjadi penguasa malam?