Lewati ke konten utama
Kamis, 22 Oktober 2026 / 11 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Hari Santri 2026: MUI Sulsel Tantang Pesantren Cetak Generasi Berilmu, Berakhlak, dan Antinarkoba
Sulawesi Selatan

Hari Santri 2026: MUI Sulsel Tantang Pesantren Cetak Generasi Berilmu, Berakhlak, dan Antinarkoba

Hari Santri 2026: MUI Sulsel Tantang Pesantren Cetak Generasi Berilmu, Berakhlak, dan Antinarkoba

/ 11 Jumadil Awal 1448 H 2 menit baca

MAKASSAR— Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Andi Marjuni, menantang pondok pesantren di Indonesia untuk terus mencetak generasi muda yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, dan menjauhi penyalahgunaan narkoba.

Pesan tersebut disampaikan dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional, Kamis, 22 Oktober 2026. Ia menegaskan, pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter generasi bangsa di tengah berbagai tantangan sosial.

Menurutnya, santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu mengamalkan nilai-nilai keimanan dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

“Di samping senantiasa melakukan pekerjaan, santri juga harus senantiasa beribadah dan mengaji. Selain membangun nilai-nilai akhlak, santri harus terus aktif dalam menuntut ilmu,” ujarnya.

Prof.Andi Marjuni mengatakan, santri juga memiliki tanggung jawab menjaga keutuhan bangsa, menghargai perbedaan, dan menjadi teladan bagi masyarakat.

Dengan bekal ilmu dan akhlak, santri diharapkan mampu menjadi mercusuar yang memberikan pencerahan bagi umat manusia pada masa mendatang.

Pesantren Jangan Kehilangan Marwah

Prof.Andi Marjuni turut mengingatkan pimpinan pondok pesantren agar memperkuat pembinaan keimanan dan pengawasan terhadap santri, terutama di tengah munculnya berbagai persoalan sosial, termasuk kasus asusila dan penyalahgunaan narkoba.

Ia menilai, pesantren harus menjadi contoh lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, moral, dan etika.

“Harapan kami kepada pimpinan pondok pesantren agar senantiasa menjaga keimanan generasi muda dan menepis berbagai penyimpangan, seperti narkoba dan asusila di lingkungan pesantren,” tegasnya.

Menurutnya, sangat ironis apabila lembaga pendidikan yang diharapkan menjadi penjaga moral bangsa justru diwarnai perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama.

Karena itu, pimpinan pesantren perlu memastikan pembinaan karakter berjalan seiring dengan proses pendidikan, sehingga santri tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan bertanggung jawab.

Pesantren juga diharapkan menjadi pelopor pendidikan karakter yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Cetak Santri Mandiri dan Berkarakter

Selain penguatan akhlak, Prof. Andi Marjuni menekankan pentingnya membangun kemandirian dan kemampuan bersosialisasi di lingkungan pesantren.

Menurutnya, kehidupan pesantren mendidik santri agar mampu mengurus diri sendiri, menaati aturan, serta membiasakan diri dengan kedisiplinan.

Namun, kemandirian tersebut harus diimbangi dengan kemampuan membangun hubungan sosial dan bekerja sama dengan orang lain.

“Santri harus mampu membangun dirinya sendiri sekaligus membangun relasi sosial dan kerja sama dengan teman-temannya,” jelasnya.

Ia berharap, seluruh pimpinan pesantren memberikan perhatian serius terhadap pembentukan generasi yang memiliki keimanan, akhlak, moral, mental, dan kemandirian.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu agama, tetapi juga generasi yang berkarakter, antinarkoba, serta mampu menjaga persatuan dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa.

Irfan Suba Raya

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads