Lewati ke konten utama
Selasa, 6 Oktober 2026 / 24 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
HIKMAH HALAQAH: Hijrah Bukan Tanda Kekalahan, Tapi Langkah Strategis Rasulullah
Sulawesi Selatan

HIKMAH HALAQAH: Hijrah Bukan Tanda Kekalahan, Tapi Langkah Strategis Rasulullah

HIKMAH HALAQAH: Hijrah Bukan Tanda Kekalahan, Tapi Langkah Strategis Rasulullah

/ 23 Rabiul Akhir 1448 H 2 menit baca

Dr. KH. Andi Abdul Hamzah, Lc., M.A., (Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Sulsel)

MAKASSAR — Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat. Di balik peristiwa tersebut terdapat pelajaran penting tentang kesabaran, kecerdasan dalam mengambil keputusan, serta cara menghadapi tekanan tanpa terjebak dalam kebencian dan balas dendam.

Hal tersebut disampaikan Dr. KH. Andi Abdul Hamzah, Lc., M.A., dari Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Sulsel, dalam kajian Hikmah Halaqah.

Menurutnya, Rasulullah SAW tidak memilih jalan balas dendam meskipun menghadapi tekanan dan berbagai perlakuan yang menyakitkan. Nabi juga tidak mengajarkan kebencian kepada umat maupun para pengikutnya.

“Nabi tidak membalas dendam. Beliau tidak mengajarkan kebencian kepada umatnya, kepada pengikutnya,” jelasnya.

Rasulullah SAW justru memilih jalan yang lebih besar, yakni mencari ruang baru bagi risalah Islam agar dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat. Pilihan tersebut diwujudkan melalui hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Menurut Andi Abdul Hamzah, di sinilah letak kecerdasan besar dari peristiwa hijrah. Hijrah bukan sekadar meninggalkan sebuah tempat, tetapi merupakan langkah strategis untuk menemukan ruang yang memungkinkan dakwah berkembang lebih luas.

Karena itu, hijrah Rasulullah SAW tidak dapat dipahami sebagai tanda kekalahan. Sebaliknya, hijrah menunjukkan keberanian seorang pemimpin dalam membaca situasi dan menentukan langkah yang tepat.

“Hijrahnya Nabi ke Madinah itu bukan berarti Nabi kalah. Hijrahnya Nabi bukan berarti Nabi menyerah,” tegasnya.

Ia menjelaskan, seorang pemimpin besar harus mampu memahami kapan harus bertahan, kapan harus bersabar, dan kapan harus mengambil langkah baru.

Pelajaran tersebut relevan dalam kehidupan saat ini. Ketika menghadapi tekanan, konflik, atau persoalan, seseorang tidak selalu harus merespons dengan kemarahan dan kebencian. Ada kalanya diperlukan kesabaran, perhitungan matang, dan keberanian untuk memilih jalan yang lebih baik.

Hijrah mengajarkan bahwa mundur dari sebuah situasi bukan selalu berarti kalah. Dalam kondisi tertentu, mengambil langkah strategis justru dapat menjadi cara untuk membangun kekuatan dan mencapai tujuan yang lebih besar.

Lantas, apa kecerdasan Rasulullah SAW di balik keputusan hijrah? Mengapa hijrah justru menjadi titik penting berkembangnya risalah Islam?

Simak penjelasan lengkap Dr. KH. Andi Abdul Hamzah, Lc., M.A., dalam video Hikmah Halaqah berikut ini…

*Irfan Suba Raya*

BAGIKAN: