JAKARTA, MUI,OR,ID – Menjelang bulan suci Ramadhan, berbagai pesantren di seluruh Indonesia menggelar haflah dan haul sebagai bagian dari tradisi keislaman yang telah berlangsung turun-temurun. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi ajang untuk menguatkan nilai-nilai dakwah dan pendidikan Islam.
Dalam acara Haflah Akhirussanah Majlis Dzikir & Ta'lim Pesantren Ekonomi Darul Ukhuwah, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Abdul Ghani, menegaskan pentingnya peran pesantren dalam melanjutkan dakwah Islam, dan menegaskan bahwa para kiai merupakan pelanjut dakwah Rasulullah SAW.
‘’Banyak di seluruh Indonesia, seluruh pesantren menjelang Ramadhan ini mengadakan haflah, bahkan sekaligus haul. Sesungguhnya pesantren-pesantren itu, para kiai itu adalah pelanjut, para ulama ini pelanjut dari dakwahnya Rasulullah SAW,’’ ujarnya pada acara Haflah Akhitussanah Majlis Dzkikir & Talim Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, Sabtu (22/2/2025).
Dalam ceramahnya, Kiai Abdul Ghani Menjelaskan firman Allah dalam QS Al-Ma’idah: 67 yang berbunyi;
يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ
Ia menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyampaikan risalah tanpa menyembunyikannya. Perintah tersebut kemudian dilanjutkan oleh para sahabat, tabi’in, dan ulama hingga dakwah Islam sampai ke Nusantara.
"Jadi, ayat ini, Bapak/Ibu sekalian, menunjukkan bahwa Nabi diperintahkan untuk menyampaikan risalahnya. Karena itu, Islam sampai ke Nusantara ini sesungguhnya dari tablighnya Kanjeng Nabi, dari piwulang (ajaran) Rasulullah," katanya.
Lebih lanjut, Kiai Abdul Ghani memaparkan sejarah perkembangan ilmu dalam Islam, termasuk peran para ulama dalam menyusun berbagai disiplin ilmu agar umat Islam dapat memahami Al-Qur’an dengan baik. Ia menjelaskan dulu, Al-Qur’an tidak memiliki titik dan harakat, sehingga sulit dibaca. Lalu muncullah ulama seperti Imam Abdul Aswad Ad-Duali yang menambahkan titik, dan Imam Khalil bin Ahmad yang menyusun tanda baca seperti fathah, kasrah, dan dhammah. Demikian pula Imam Syafi’i yang merumuskan ushul fiqih, serta para ulama hadits seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Menurutnya, ilmu-ilmu tersebut berkembang karena para ulama berusaha menjaga kemurnian ajaran Islam. Kiai Abdul Ghani juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara fiqih dan tasawuf dalam kehidupan beragama.
"Siapa yang bertasawuf tanpa fiqih maka bisa tersesat (‘zindiq’). Oleh karena itu, lahirlah para mutasawwif (ahli tasawuf) yang menggabungkan keduanya,” ujarnya.
Dalam konteks pesantren, beliau menekankan bahwa lembaga pendidikan Islam ini memiliki peran besar dalam meneruskan warisan keilmuan Islam. Pesantren di Indonesia terus mengkaji kitab-kitab klasik karya ulama terdahulu, memastikan dakwah dan pendidikan Islam tetap berjalan.
"Pesantren ini meneruskan risalah itu. Kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama dikaji di pesantren-pesantren di seluruh Nusantara, karena mengikuti sabda Nabi: Al-'Ulamā waratsatul anbiyā (para ulama adalah pewaris para nabi). Para ulama yang datang ke Indonesia mendakwahkan syariat serta menyampaikan risalah Islam melalui tabligh,” tuturnya.
Oleh karena itu, sudah seharusnya umat Islam terus menjaga dan mengembangkan keilmuan Islam dengan semangat belajar yang tidak pernah padam. Sebagaimana pesan yang selalu diingatkan, belajar itu tidak boleh berhenti, minal mahdi ilal lahdi (dari buaian hingga liang lahad). Pesantren, dengan segala peran dan fungsinya, adalah benteng utama dalam menjaga tradisi keilmuan Islam. Dengan tetap berpegang teguh pada aqidah Ahlusunnah wal Jamaah, mengikuti tuntunan para ulama dalam fiqih, dan menjaga keseimbangan antara syariat serta tasawuf, umat Islam diharapkan dapat terus melanjutkan perjuangan dakwah Rasulullah SAW demi kemaslahatan umat dan kejayaan Islam di Nusantara. (Fitri ed: Fakhruddin)