Lewati ke konten utama
Rabu, 29 Juli 2026 / 14 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Wasekjen MUI: AI Hanya Staf Ahli, Manusia Tetap Pemegang Kendali Etika dan Keputusan Akhir

4 menit baca 120 dibaca
Asrori S Karni
Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Infokomdigi, Dr Asrori S Karni, dalam Workhsop "Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI" di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (29/7/2026). Foto: Junaidi/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (generative artificial intelligence) tidak hanya membawa peluang efisiensi, tetapi juga tantangan etika dan akurasi informasi di era digital. 

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Infokomdigi, Dr Asrori S Karni, menegaskan bahwa dalam ekosistem kecerdasan buatan, posisi manusia harus tetap berada di pusat kendali.

Menurut Dr Asrori, sistem AI dapat dianalogikan seperti seorang staf ahli bagi pejabat publik. Teknologi ini mampu menyajikan analisis cepat dan memberikan masukan dari data yang terkumpul, tetapi pertimbangan etis, keputusan akhir, serta tanggung jawab dampak informasi tetap sepenuhnya berada di tangan manusia.

Dia menyebut AI ini ibarat staf ahli yang memberikan banyak masukan sesuai bidangnya masing-masing. Namun pada akhirnya, keputusan akhir dan tanggung jawab tetap ada di tangan pejabat publik atau manusia itu sendiri. 

Baca juga: Sebut AI Ancam Tradisi Keagamaan, Kiai Masduki Ingatkan Sanad Ilmu Jangan Hancur Oleh Algoritma

“Hasil olahan AI tidak boleh ditelan mentah-mentah tanpa pertimbangan dan keputusan sadar dari kita," tegas Dr Asrori kepada MUI Digital disela-sela workhsop "Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI" di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (29/7/2026). 

Dalam kesempatan tersebut, Asrori juga menggarisbawahi pentingnya publik memahami perbedaan mendasar antara berita bohong (hoaks) dengan fenomena ketidakakuratan data pada AI yang kerap disebut 'halusinasi'.

Dia menjelaskan bahwa hoaks umumnya dirancang dengan iktikad tidak baik atau niat jahat dari pembuatnya. Sementara itu, fenomena halusinasi AI terjadi akibat keterbatasan data yang terkumpul dalam sistem pembelajaran mesin (machine learning).

"AI bekerja dengan cara mengolah data yang ada. Jika datanya kurang memadai, luaran yang dihasilkan bisa tampak aneh,” kata dia menerangkan. 

Baca juga: Ketua Komisi Infokomdigi MUI: Umat Islam Harus Menangkan Perang Algoritma di Era AI

Namun, kata dia, ketika sistem disuplai dengan dokumen rujukan yang akurat dan relevan, AI dapat langsung menyesuaikan diri dan memberikan umpan balik yang cerdas, presisi, serta sangat membantu.

Oleh karena itu, dia melihat keberadaan AI secara positif sebagai alat (tool) yang dapat meningkatkan produktivitas dan presisi kerja masyarakat, seperti halnya pemanfaatan AI dalam analisis data Drone Emprit.

Untuk memandu penggunaan AI agar tetap berada pada koridor etika dan syariat, Dr Asrori mendorong penguatan literasi digital dengan mengontekstualisasikan prinsip-prinsip Fatwa MUI Tahun 2017 tentang Panduan Bermuamalah di Media Sosial.

Dia menyebutkan setidaknya ada tiga pilar utama fatwa tersebut yang sangat relevan untuk diterapkan dalam penggunaan kecerdasan buatan saat ini. Terutama dalam panduan verifikasi konten, produksi konten dan distribusi konten.

Sementara itu, Ketua MUI Bidang Infokomdigi KH Masduki Baidlowi mengimbau  pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak boleh disikapi dengan rasa takut atau terancam. 

Sebaliknya, umat Islam dan lembaga keagamaan harus mampu menaklukkan teknologi tersebut sebagai alat (tool) dakwah yang efektif untuk menyebarkan pesan-pesan Islam yang moderat (wasathiyah) dan menyejukkan.

Baca juga: Menag: Hasil KUII VIII akan Kami Jadikan Program Kerja Pemerintah

Ulama yang akrab disapa Kiai Masduki menyampaikan bahwa AI sejatinya adalah instrumen yang harus dikuasai oleh manusia, bukan justru menjadikan manusia sebagai objek yang dikendalikan oleh teknologi.

"AI ini adalah alat efektif. Jika kita kuasai, kita bisa mengarahkan konten-konten digital untuk menyebarkan pesan Islam yang moderat, membawa rasa aman, dan merawat tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama Nusantara," ujar Kiai Masduki.

Juru Bicara Wakil Presiden ke-13 RI ini menyoroti tantangan era digital saat ini, di mana tren beragama anak muda mengalami pergeseran. 

Banyak generasi muda yang menjadikan platform AI, avatar digital, dan algoritma sebagai rujukan utama keagamaan berdasarkan kenyamanan pribadi dan ekspresi ego semata. Hal ini memicu fenomena echo chamber (ruang gema) yang berpotensi mengikis tradisi sanad ilmu serta hubungan guru dan murid.

Meski demikian, Kiai Masduki menilai AI menyimpan potensi raksasa jika dikelola secara bijak. Selain mempermudah layanan keagamaan dan kemasyarakatan seperti zakat melalui AI agent, kecerdasan buatan juga bisa dimanfaatkan sebagai wahana belajar mengaji yang efisien, selama tetap berada di bawah verifikasi (cross-check) para ulama dan kitab-kitab rujukan asli.

Baca juga: KUII VIII Cetuskan 12 Rekomendasi Strategis, Ini Beberapa Poin Globalnya

Untuk itu, Kiai Masduki mendorong lembaga keagamaan seperti MUI agar terus bertransformasi dan diisi oleh SDM berkapasitas tinggi agar tetap relevan serta dipercaya oleh generasi muda.

Sejalan dengan arahan tersebut, Ketua Komisi Infokomdigi MUI, Hari Usmayadi, menjelaskan bahwa workshop berbasis praktik ini dirancang untuk melahirkan para "Mujahid Digital". 

Langkah nyata ini bertujuan memenangkan perhatian publik atau "perang algoritma" di media sosial yang selama ini rentan diisi oleh konten-konten instan, deepfake, hingga narasi yang merusak peradaban.

Melalui kegiatan bertagline action-oriented ini, generasi muda yang menguasai keahlian teknis seperti prompt engineering dan Generative Engine Optimization (GEO) dikolaborasikan dengan para ulama sepuh. 

Dengan demikian, penguasaan teknologi digital anak muda tetap bersumber dan tersambung dari validasi dalil serta etika syariat para ulama.

"Kami ingin peserta tidak pulang dengan tangan kosong, melainkan membawa bank prompt AI, jadwal publikasi, serta materi yang siap rilis untuk mengamplifikasi pesan-pesan Islam yang moderat dan mencerahkan," kata sosok yang akrab disapa Cak Usma tersebut.