Lewati ke konten utama
Jumat, 21 Agustus 2026 / 8 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Waketum MUI Kiai Cholil: Karakter Anak Bisa Diperbaiki Lewat Keteladanan Orang Tua

2 menit baca 144 dibaca
Cholil Nafis
Waketum MUI, KH M Cholil Nafis saat menutup Mudzakarah Ilmiah Harmonisasi Manhaj dan Otoritas Fatwa Nasional di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Foto: Latifahtul/ MUI Digital
Bagikan:

 Depok, MUI Digital--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengatakan bahwa proses perbaikan dan pembentukan karakter anak sejatinya berakar dari lingkungan keluarga. Menurutnya, keteladanan serta pola didik orang tua di rumah menjadi pondasi utama sebelum anak mengenyam pendidikan formal di sekolah maupun pesantren.

Hal tersebut disampaikan Kiai Cholil dalam kajian Mujahadah Sabtiyah Kitab Mauidhotul Mu'minin di Masjid An Nafisah, Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, dikutip MUI Digital, dari kanal resminya, Jumat (21/8/2026). 

Kiai Cholil menilai, akhlak dan karakter bukanlah sesuatu yang bersifat kaku atau tidak bisa diubah. Kiai Cholil menambahkan, karakter anak dapat dibentuk dan diperbaiki melalui latihan (bir-riyadhati wal mujahadati), di mana peran orang tua menjadi cermin utama bagi perilaku anak.

Baca juga: Waketum MUI Kiai Cholil Nafis Ingatkan Umat tak Terlena Medsos dan Tetap Membaca Buku

​"Anak itu adalah cermin dari kita. Anak-anak lahir dalam keadaan bersih, orang tualah yang melukis dan mewarnainya. Karena itu, perbaikan karakter anak harus dimulai dari sikap dan keteladanan orang tua di rumah," ujar Kiai Cholil.

Pengasuh Ponpes Cendekia Amanah ini menjelaskan bahwa kewajiban mendidik akidah, fikih, hingga akhlak dasar pertama kali melekat pada orang tua, bukan guru atau lembaga pendidikan.

Rais Syuriah PBNU ini menuturkan, sekolah dan pesantren pada hakikatnya merupakan pendidikan pelapis atau tempat penyeimbang ketika fasilitas pendidikan di dalam keluarga kurang memadai.

Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini meyakini bahwa anak yang hebat lahir dari niat dan ikhtiar orang tua yang hebat dalam mendidik serta mendoakan mereka. Sifat beringas, emosional, atau sebaliknya, yakni santun dan bijak pada diri anak umumnya menyerap dari bagaimana cara orang tua memperlakukan mereka saat melakukan kesalahan di rumah.

Baca juga: Waketum MUI Refleksikan HUT ke-81 RI, Ajak Umat Syukuri Kemerdekaan dan Dukung Cita-Cita Kebangsaan

​"Jangan hanya menuntut anak jadi hebat atau menyalahkan sekolah ketika anak bermasalah, sementara orang tua tidak membenahi dirinya sendiri. Pendidikan sekolah atau pesantren adalah wadah kedua setelah pendidikan pertama dalam keluarga," tegasnya.

​Meski demikian, Kiai Cholil mengingatkan agar para orang tua tidak berkecil hati jika merasa memiliki keterbatasan dalam mendidik. Selama ada kesadaran untuk membenahi diri, memberikan keteladanan yang baik, serta menitipkan anak ke lingkungan pendidikan yang tepat, potensi dan akhlak anak tetap bisa diperbaiki secara optimal.