Usai Pembukaan Munas XI, Kiai Ma’ruf Amin Tegaskan Revitalisasi Kepengurusan dan Perluasan Kemitraan Jadi Arah Baru MUI
Admin
Penulis
JAKARTA,MUI.OR.ID – Dalam konferensi Pers yang digelar sesaat setelah pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ketua Dewan Pertimbangan MUI KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa revitalisasi kepengurusan dan perluasan kemitraan strategis akan menjadi fokus utama organisasi ke depan.
Kiai Ma’ruf menekankan bahwa Munas XI bukan sekadar forum administrasi, tetapi momentum memperbarui energi, soliditas, dan kapasitas kerja MUI.
Ia menyebut akan ada penyegaran internal, termasuk pergeseran atau penataan ulang posisi pengurus yang selama ini dinilai kurang berfungsi optimal.
"Mungkin ada pengurus yang kemarin tidak berfungsi. Nanti akan ada pembaruan atau pergeseran, sehingga kepengurusan ke depan benar-benar diisi oleh pengurus yang memiliki semangat aktivitas yang tinggi,” ujar Kiai Ma’ruf dalam konferensi pers di Mercure Convention Center Ancol, Kamis (20/11/2025).
Menurut Kiai Ma’ruf, revitalisasi kepengurusan ini sangat penting untuk memastikan MUI mampu menjalankan dua mandat besar, memperkuat peran keumatan serta memperkokoh kontribusi kebangsaan.
"Sisi misinya itu bagaimana peran keumatannya menjadi kuat, dan peran kebangsaan serta kenegaraannya juga menjadi kuat," jelasnya.
Selain penyegaran struktur internal, Kiai Ma’ruf juga menegaskan perlunya memperluas jejaring kemitraan. Ia menyebut MUI harus memperbesar kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, serta lembaga nasional maupun internasional.
"Kita akan memperbesar bentuk-bentuk kemitraan dan kolaborasi dengan pemerintah maupun mitra-mitra di luar pemerintah, dengan berbagai perusahaan dan lembaga internasional. Tidak mungkin MUI maju kalau bekerja sendiri tanpa kemitraan," tegasnya.
Kiai Ma’ruf dalam konferensi pers ini mempertegas arah baru MUI pasca pembukaan Munas XI, yakni organisasi yang lebih solid, lebih aktif, serta lebih terbuka dalam membangun kolaborasi untuk pemberdayaan umat dan penguatan kehidupan berbangsa.
(Miftahul Jannah ed: Muhammad Fakhruddin)