Rapat Perdana Dewan Pimpinan MUI, Kiai Anwar Iskandar Ingatkan Luruskan Niat Berkhidmat
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Rapat Perdana Dewan Pimpinan pasca penetapan hasil Musyawarah Nasional (Munas) XI. Dalam rapat yang berlangsung di Gedung MUI Pusat tersebut, Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar menyampaikan arahan penting mengenai fondasi niat, keikhlasan, dan spirit khidmat yang harus menjadi pijakan seluruh pengurus MUI.
Mengawali arahannya, Kiai Anwar mengajak seluruh anggota Dewan Pimpinan untuk menata kembali niat dalam mengemban amanah hasil Munas. Ia berharap Allah SWT memberikan kesehatan, kekuatan lahir dan batin, serta meridai langkah perjuangan MUI dalam lima tahun ke depan.
“Kita memulai tugas besar hasil Munas. Mudah-mudahan Allah memberikan kesehatan lahir batin, meridai langkah perjuangan kita. Lima tahun ke depan adalah kesempatan untuk berinvestasi amal saleh melalui lembaga ini. Semoga umur kita disampaikan dan dimudahkan,” ujar Kiai Anwar, Selasa (25/11/2025) melalui Zoom dalam rapat hybrid tersebut.
Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pengurus yang telah meluangkan waktu dan mengikhlaskan diri untuk bergabung dalam kepengurusan MUI, meskipun memiliki kesibukan sehari-hari. Menurutnya, keberadaan para tokoh agama dan cendekiawan di MUI adalah bentuk kesediaan tulus untuk melayani umat.
“MUI ini adalah organisasi perkhidmatan. Kita adalah khadimul ummah, pelayan umat. Sebagai khadim, kita harus banyak sabar, banyak memahami penderitaan dan kebutuhan umat. Jika ikhlas, sedetik saja amal kita diterima Allah. Khidmat kita bukan untuk selain mencari rida-Nya,” tegasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Amien Kediri ini juga menegaskan bahwa tugas utama MUI adalah membela agama Allah dan melayani umat, sekaligus mensyukuri nikmat Allah yang telah menjadikan Indonesia bangsa yang religius dan majemuk.
Pada kesempatan tersebut, Kiai Anwar menekankan pentingnya menjaga ukhuwah dan keluasan hati di tengah keberagaman latar belakang para pengurus MUI. Ia mengingatkan bahwa MUI menaungi banyak tokoh dari berbagai ormas dan tradisi berislam yang berbeda, namun tetap dalam satu koridor Islam Wasathiyah.
“Kita ini berhimpun para ulama, cendekiawan, intelektual dengan cara ibadah dan muamalah yang berbeda. Itu tidak masalah. Kita tetap berada dalam Islam Wasathiyah. Perbedaan amaliyah adalah urusan ormas masing-masing. Di MUI, kita disatukan oleh kalimat syahadat,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan agar tidak mudah mengkafirkan sesama Muslim atau mengklaim kelompok tertentu sebagai satu-satunya jalan menuju surga.
“Surga bukan ditentukan oleh organisasi apa. Standarnya jelas: illalladzîna âmanû wa ‘amilush shâlihât. Karena itu, jaga hati, jaga ucapan, dan jauhi pemahaman menyimpang,” tandasnya.
(Mufti/Azhar)