Lewati ke konten utama
Jumat, 28 Agustus 2026 / 15 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Prof Niam Ajak Masyarakat Jadikan Keteladanan Nabi Kompas Moral Hadapi Perubahan Zaman

3 menit baca 384 dibaca
Asrorun Niam Sholeh
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh dalam IACFS. Foto: Istimewa
Bagikan:

JAKARTA, MUI Digital—  Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai kompas moral utama dalam mengarungi setiap dinamika kehidupan modern.

Pesan mendalam tersebut disampaikan Prof Niam dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Prof Niam menegaskan bahwa peringatan kelahiran Rasulullah SAW tidak boleh berhenti sekadar sebagai ritual tahunan atau seremonial belaka. 

Momentum ini harus dimaknai secara kontekstual untuk membumikan kembali nilai-nilai kenabian (nubuwwah) dalam realitas sosial, berbangsa, dan bernegara.

Menurut Prof Niam, krisis figur keteladanan sering kali menjadi pemicu disorientasi moral di tengah masyarakat. 

Oleh karena itu, menghadirkan kembali sosok Rasulullah SAW sebagai role model universal menjadi sebuah keharusan sejarah dan keagamaan. 

Prof Niam mengutip firman Allah SWT dalam Alquran  surat Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

​"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

​"Profil Rasulullah SAW membuktikan bahwa keteladanan beliau bersifat melintasi zaman (trans-historical). Mengingat Nabi berarti mampu mengadaptasi nilai-nilai kerasulan untuk menjawab tantangan dan perubahan zaman tanpa pernah mengorbankan prinsip-prinsip dasar aqidah," ujar Prof Niam kepada MUI Digital, Selasa (25/8/2026). 

Sebagai kompas moral, aspek paling mendasar yang senantiasa ditekankan oleh Rasulullah SAW adalah integritas dan kejujuran (as-shidq). 

Karakter ini, menurut Prof Niam, merupakan modal fundamental dalam membangun tatanan masyarakat dan bangsa yang beradab serta berkeadilan.

Untuk memperkuat argumentasi tersebut, Guru Besar Bidang Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengutip hadis sahih riwayat Imam Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda:

​"Aku perintahkan kalian untuk berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu membimbing ke surga. Dan senantiasa seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian sikap dusta, karena dusta itu membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan membimbing ke neraka."

Prof Niam mengingatkan bahwa tanpa komitmen terhadap kejujuran, kepemimpinan dan tatanan sosial akan rentan runtuh akibat praktik manipulasi, kebohongan publik, dan penyalahgunaan amanah. 

Tidak hanya menjadi benteng integritas pribadi, keteladanan Nabi Muhammad SAW juga memberikan panduan komprehensif dalam mengelola keberagaman sosial. 

Di negara yang majemuk seperti Indonesia, Prof Niam menekankan dua koridor penting yang telah diwariskan oleh Rasulullah:

Pertama dalam urusan akidah dan ibadah, umat Islam memegang teguh prinsip keberagamaan yang tegas dan toleran sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Kafirun ayat 6, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Kedua, dalam urusan sosial dan kemasyarakatan, umat didorong untuk mengedepankan prinsip ta’aruf (saling mengenal), ta’awun (saling menolong), dan bergotong-royong dalam kebaikan.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah ini menjelaskan toleransi yang diajarkan Nabi dibangun di atas pijakan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah) dan persaudaraan sebangsa (ukhuwah wathaniyah), sehingga keragaman justru menjadi kekuatan penyatu, bukan pemicu perpecahan.

Prof Niam mendorong seluruh elemen masyarakat untuk merevitalisasi semangat kenabian dalam seluruh dimensi kehidupan, mulai dari lingkungan keluarga, dunia kerja dan profesi, hingga tata kelola pemerintahan.

"Dengan menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai kompas moral, setiap individu diharapkan mampu mengambil keputusan yang bijak, adil, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama di tengah arus deras perubahan zaman," kata Prof Niam.