Pasukan Kursi Roda, Inisiatif Brilian Jamaah Haji Gunung Kidul untuk Layani Lansia
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Laporan jurnalis MUI Digital, dari Madinah, Arab Saudi
Madinah, MUI Digital – Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Aisyiyah kembali menghadirkan inovasi pelayanan bagi jamaah melalui program Paskuda (Pasukan Kursi Roda).
Program ini diterapkan khususnya bagi jamaah lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (risti), termasuk jamaah asal Gunungkidul yang tergabung dalam Kloter YIA 10.
Pembimbing KBIHU Aisyiyah, Faizu Sabani, mengatakan program ini telah berjalan beberapa tahun dan menjadi respons atas meningkatnya jumlah jamaah lansia serta kebutuhan layanan pendampingan yang lebih intensif.
Inisiatif tersebut juga selaras dengan program Haji Ramah Lansia yang mulai dicanangkan sejak 2023. “Jumlah jamaah lansia dan risti terus bertambah, sementara fasilitas pendukung saat itu belum sepenuhnya memadai. Karena itu, kami konsisten menjalankan Paskuda sebagai bentuk layanan tambahan,” ujar Faizu di Madinah.
Tahun ini, KBIHU Aisyiyah memperkuat dukungan dengan menambah enam unit kursi roda baru yang dibeli setibanya di Madinah.
Sementara di Makkah, telah tersedia sekitar 12 unit kursi roda yang siap digunakan untuk mendukung mobilitas jamaah selama pelaksanaan ibadah. Berbeda dengan layanan komersial, Paskuda menerapkan skema kontribusi seikhlasnya atau sekitar 250 riyal Saudi.
Baca juga: Doa Berlinang Air Mata Vania Jamaah Haji DIY Termuda untuk Sang Ayah
Dana tersebut tidak hanya sebagai biaya penggunaan, tetapi juga mendukung keberlanjutan program karena kursi roda akan ditinggalkan di hotel untuk dimanfaatkan jamaah lain setelah musim haji.
“Banyak kursi roda kami yang akhirnya terus dimanfaatkan jamaah lain. Kami beri stiker khusus agar mudah dikenali. Ini menjadi semacam investasi amal,” jelasnya.
Selain efisiensi biaya, program ini juga menekankan nilai kebersamaan. Para pendorong kursi roda berasal dari sesama jamaah dalam satu kloter yang secara sukarela membantu pendampingan, sehingga tercipta ikatan emosional dan semangat saling menolong.
Tidak hanya aspek fisik, pendampingan juga disertai bimbingan ibadah. Para pendorong turut membimbing doa-doa selama perjalanan ibadah, sehingga memberikan pengalaman spiritual yang lebih mendalam bagi jamaah lansia.
Faizu menambahkan, meski fasilitas kursi roda dari pemerintah telah tersedia, keterbatasan jumlah petugas pendamping masih menjadi tantangan, terutama saat pelaksanaan umrah wajib dan puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
“Karena itu, peran sesama jamaah menjadi sangat penting untuk memastikan layanan berjalan optimal,” ujarnya. Ia menegaskan, semangat program Paskuda yang mengusung jargon “Senyummu Bahagiaku” menjadi motivasi utama dalam memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah haji lansia dan risti